
Karena hari sudah sore pak Ramly pun kembali ke kota nya yang kini dia singgahi, dia datang ke kota lama nya hanya untuk melakukan meeting penting saja.
Setelah mengetahui apa yang telah terjadi sama Rara, Ramzy langsung ikut bertindak dan membuat Mayang dan Juli tidak bisa di terima bekerja di mana pun, bahkan kerja sama dengan perusahaan ibu nya Mayang yang sudah di sepakati bersama pun harus mereka putuskan gara-gara sikap arogan nya Mayang.
Awal nya mereka tidak tahu dan tidak mengenal Mayang siapa, tapi dengan adanya masalah kemarin, mereka mengetahui siapa Mayang, dia adalah anak dari salah satu klien mereka.
Kini semua karyawan di perusahaan pak Ramly sudah mengetahui siapa Rara dan siapa Alvin, mereka semua kini lebih menghormati Rara dan Alvin.
Semenjak kejadian itu, Alvin tidak memperbolehkan istri nya kembali bekerja, tapi Alvin setiap hari membawa Rara ke kantor nya, Alvin sudah ngga bisa jauh-jauh dari Rara begitu pun juga sebalik nya.
"Pagi pak, perkenalkan saya Cici sekertaris baru bapak." ucap Cici memperkenalkan diri nya.
"Pagi juga, dan ini istri saya, semua tugas yang berhubungan dengan saya, kamu harus lewat dia, dan jika ada yang belum di mengerti kamu tanya istri saya, keputusan istri saya adalah keputusan saya juga, paham." Alvin sengaja berbuat demikian karena Alvin tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali.
"Paham pak, kalau begitu saya kembali bekerja."
Cici pun masuk ke ruangan yang dulu Rara tempati, Rara tersenyum melihat sikap tegas suami nya kini.
"Sayang, kenapa ngga langsung sama kamu saja sih, kenapa harus sama aku dulu."
"Aku ngga mau mereka salah paham lagi, dan mereka semua harus tahu kalau kamu itu istri sah nya Alvin Malvino."
Rara tersenyum mendengar ucapan ALvin, dia ngga menyangka akan sangat di cintai sebesar itu oleh ALvin.
*
*
"Sayang laporan keuangan dari showroom sudah selesai kan?" tanya Rara sambil mengelus dada bidang kesukaan nya.
"Sudah sayang kenapa?" jawab Alvin sambil mengelus rambut Rara.
__ADS_1
"Terus bisnis forniture dan bisnis lain nya sudah selesai dan aman kan?"
"Sudah semuanya sayang sudah aman, kamu ini kenapa sayang? Ada apa? Ayo bilang sama mas, tumben banget kamu nanya masalah itu semua?" Alvin heran dengan pertanyaan yang Rara ucapkan kepada nya, karena Rara ngga pernah tanya-tanya masalah kerjaan.
Kekayaan Alvin sekarang hampir mengimbangi kekayaan nya pak Ramly, tapi ALvin tetap rendah diri dan tidak sombong.
Makanya banyak pekerja yang bekerja di perusahaan milik nya, pada betah karena selain bos nya baik mereka juga suka mendapat bonus dari ALvin.
Bahkan baru-baru ini Alvin sudah membeli sebuah mall di kota itu, membuat kekayaan nya melimpah, tapi sayang nya Alvin dan Rara belum dikarunia anak.
"Mas, kita ke kampung halaman mas yuk, aku ingin bertemu sama ibu dan kak Syifa, apa mas ngga kangen sama mereka." ucap Rara.
"Mas juga kangen mereka sayang, baiklah besok kita berangkat." ucap Alvin lalu mencium kening Rara.
"Benarkah? Mas ngga bohong kan? Tapi kalau kita berangkat besok kita belum beli hadiah buat ibu dan kak Syifa."
"Kita berangkat siang aja kan kalau naik pesawat pasti cepat dan pagi nya bisa kamu manfaatkan untuk belanja, sekalian kita melihat mall mas yang baru."
Rara mencium lembut bibir Alvin dengan sedikit ******* nya.
"Sebagai tanda terima kasih nya mas mau dua ronde sekarang."
"Tiga ronde pun aku kasih buat mas, asal mas masih kuat saja." Rara menantang Alvin untuk melakukan nya.
Alvin sangat bahagia sekali mendapat izin tiga ronde dari Rara, karena jarang ia dapatkan sebanyak itu, bukan Alvin ngga bisa dan ngga mampu, tapi Alvin ngga mau membuat Rara capek dan akhir nya sakit.
Alvin sangat menjaga banget Rara dalam segala hal, meski dirinya masih mau melakukan nya tapi melihat Rara yang seperti nya sudah capek, Alvin memilih untuk menahan nya.
*
*
__ADS_1
Pagi hari senyuman Alvin sangat merekah, mereka kini sedang bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke kampung halaman nya Alvin.
"Bi, kita mau ke kampung halaman nya mas Alvin, bibi jaga rumah ini baik-baik ya? Kalau ada apa-apa langsung telepon mas Alvin atau saya." ucap Rara sambil menikmati sarapan pagi nya.
"Iya nyonya, mau berapa hari di sana?" tanya bi Mumun.
"Gimana mas Alvin saja bi, isi kulkas masih pada penuh kan bi? Jadi saya tenang meninggalkan bibi di sini, jadi bibi ngga akan kelaparan." Rara menggoda bi Mumun.
"Nyonya bisa saja, iya bibi akan jaga rumah ini semampu bibi."
"Oh iya bi kasih tahu pak satpam juga ya, kalau mereka harus menjaga rumah ini."
"Baik nyonya."
Alvin sekarang punya beberapa pekerja di rumah nya, dari tukang kebun, sopir dan satpam di rumah nya, sehingga Alvin merasa aman untuk meninggalkan rumah nya itu.
Mereka berdua pun menyelesaikan sarapan nya, "Ayo sayang kita berangkat." ajak Alvin.
"Ayo mas, bi kita berdua pergi dulu ya? Jaga diri baik-baik."
"Nyonya sama tuan juga hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan."
Sesuai janji dari Alvin kini mereka berdua sedang berbelanja di mall milik nya Alvin, begitu Alvin masuk ke dalam mall mereka langsung memberi hormat kepada nya.
Rara membeli baju, tas, sepatu serta perhiasan buat ibu dan kakak nya Alvin, awal nya para pekerja di mall tersebut enggan menerima pembayaran dari Rara, karena mereka tahu kalau Rara istri nya Alvin, tapi Rara memaksa dan mengancam nya sehingga mereka pun mau menerima pembayaran dari Rara.
Kemana pun Rara melangkah Alvin mengikutinya dan tangan Alvin pun tidak lepas dari genggaman nya, membuat para pekerja dan pengunjung mall iri melihat nya.
Tapi mereka ngga bisa apa-apa kecuali meratapi nasib kenapa bukan mereka yang menjadi istri nya Alvin.
Karena sudah di rasa cukup Rara dan Alvin langsung menuju bandara untuk melakukan perjalanan yang sesungguh nya.
__ADS_1