CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Kesedihan Alvin


__ADS_3

"Sekarang ceritakan sama aku bu, kenapa kakak menjadi seperti ini?" tanya Alvin setelah duduk di kursi yang sudah usang.


Syifa masih memeluk Alvin sambil duduk, Alvin sekilas melirik Rara, Rara yang mengerti akan lirikan ALvin pun hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Ngga apa-apa mas, saat ini kakak lebih membutuhkan kamu." ucap Rara pelan sambil mengusap tangan suami nya.


Sebelum bu Salma memulai cerita nya, dia menghembuskan nafas kasar seakan-akan ingin mengeluarkan semua beban yang dia pikul selama tiga tahun ini.


Sungguh berat beban yang di pikul nya selama ini, dimana selama tiga tahun ini dia harus mengurus Syifa dengan kondisi seperti orang gila, dan juga harus mengurus rumah dan lain nya.


Belum lagi cemoohan para tetangga, cibiran demi cibiran serta ada beberapa orang yang hendak mengusir Syifa dari kampung itu, tapi bu Salma dengan sekuat tenaga selalu menghalau mereka yang ingin mengganggu anak nya.


"Apa ibu sudah siap menceritakan semua yang sudah terjadi selama aku tinggalkan?" tanya Alvin dengan pelan dan lembut, karena dirinya tahu kalau ibu nya juga lagi tertekan.


"Baiklah nak, kalau kamu memang benar ingin tahu yang telah terjadi selama kamu pergi, tapi ibu ingatkan kamu jangan merasa bersalah dalam hal ini, karena semua yang telah terjadi sudah takdir dari yang maha kuasa buat keluarga kita."


Alvin pun hanya mengangguk dengan penuh tanda tanya di pikiran nya dengan perkataan ibu nya barusan.


"Apa gara-gara aku pergi, kak Syifa menjadi seperti sekarang?" gumam bathin ALvin.


"Sebenar nya waktu kamu bilang ingin pergi ke kota, kakak kamu mencari pinjaman uang untuk ongkos dan bekal kamu di kota, kita sudah kesana kemari mencari pinjaman tapi tidak ada seorang pun yang mau memberikan nya, harapan kami hanya satu yaitu pinjam uang kepada Bima."


"Apa! Jadi uang itu bukan dari teman kakak? Terus waktu itu kenapa kakak dan ibu bilang kalau uang itu punya teman kakak?' teriak Alvin dengan wajah kaget dan marah nya.


Alvin tahu Bima siapa, dia orang kasar dan brutal kepada siapa saja, termasuk kepada perempuan.

__ADS_1


"Mas sabar, dengarkan dulu penjelasan ibu." Rara pun menenangkan Avin sambil mengusap lembut pundak nya.


"Ya, uang itu sebenar nya dari Bima, sebetulnya kakak kamu mau pinjam hanya lima juta saja, tapi Bima tidak memberikan pinjaman nya, lau dia menawarkan uang sebanyak sepuluh juta hingga lima belas juta asal kakak kamu mau menikah dengan nya.."


"Apa! Ini sungguh gila, kenapa kalian lakukan itu hanya demi aku bisa pergi ke kota." teriak Alvin yang ngga habis pikir dengan jalan pikiran kakak dan ibu nya.


"Ibu juga sudah mengingatkan kakak kamu, tapi kakak kamu sudah memutuskan dan menerima dirinya di nikahi oleh Bima."


"Benar-benar gila, kenapa ibu ngga bilang sejak awal?"


"Kakak kamu yang meminta ibu untuk tidak banyak bicara, karena dia tidak mau mematahkan impian kamu yang ingin mewujudkan keinginan mendiang ayah kalian."


"Maafkan aku bu, demi mewujudkan impian ayah, kalian hidup menderita." Alvin pun bersujud di pangkuan ibunya sambil menangis setelah dirinya melepaskan pelukan dari Syifa.


"Sudahlah nak, ibu dan kakak kamu memang ikhlas kok menjalani nya, kamu jangan merasa bersalah, mungkin ini sudah takdir hidup kita yang harus kita jalani." bu Salma pun mengusap lembut kepala Alvin dengan deraian air mata.


Begitu juga aku, padahal aku yang nulis, tapi kenapa aku ikut menangis menulis cerita part ini.


"Setelah beberapa hari kepergian kamu, Bima datang kesini dan langsung menikahi kakak kamu dengan secara siri, awal nya Bima memperlakukan kakak kamu dengan baik, tapi lama kelamaan tabiat Bima terlihat, Bima pun semakin hari semakin memperlihatkan watak yang sesungguh nya, dia selalu berbuat kasar dan tidak segan-segan memukuli kakak kamu, waktu itu ibu pulang dari warung,"


FLASHBACK.


"Ampun mas," teriak Syifa sambil menangis.


"Ampun kamu bilang? Dasar wanita tidak tahu diri, aku sudah muak dengan kamu." Bima terus-terusan berteriak kepada Syifa sambil melayang kan tamparan dan pukulan.

__ADS_1


"Ampun mas, ampun, aku mohon, hik, hik, hik," Syifa terus memohon ampun sambil menangis, tapi Bima tidak memperdulikan nya dan terus menyiksa Syifa.


"Stop Bima, cukup, kamu bisa membunuh anak ibu." teriak bu Salma sambil menghampiri dan melindungi Syifa dari pukulan yang di layangkan Bima.


"Mampus saja kalian berdua, kalian berdua hanya menjadi beban ku saja." ucap Bima lalu pergi meninggalkan rumah.


Bu Salma pun memeluk erat tubuh Syifa yang sedang gemetar ketakutan sambil menangis.


"Tenang nak, ada ibu di sini." ucap bu Salma sambil menangis.


"Bu, aku sudah ngga kuat lagi bu, mas Bima selalu memukul dan menampar aku, aku ingin mati saja." ucap Syifa dalam pelukan bu Salma.


"Syut, kamu jangan bilang seperti itu nak, kamu ngga ingin melihat adik kamu pulang membawa ke suksesan nya? Kalau kamu pergi ibu sama siapa? Kalau kamu pergi apa yang harus ibu ceritakan pada adik kamu, kalau kamu sayang sama ibu, ibu mohon jangan punya pikiran untuk mengakhiri hidup kamu." Bu Salma pun terus memeluk dan mengusap punggung Syifa dengan lembut sampai Syifa berhenti menangis.


"Ayo kita masuk ke kamar nak." bu Salma pun membawa Syifa ke dalam kamar lalu mengobati luka lebam di tubuh Syifa.


"Bu, Alvin pasti pulang kan bu? Aku kangen Alvin bu." ucap Syifa sambil tersedu.


"Adik kamu pasti pulang nak, ibu yakin dia akan pulang membawa kesuksesan nya, jadi kamu harus bisa bertahan demi melihat adik kamu yang sudah sukses nanti." bu Salma sudah ngga kuat lagi melihat keadaan Syifa dengan luka lebam dimana-mana.


Bu Salma terus mengelus punggung Syifa dengan lembut hingga Syifa pun tertidur karena capek sehabis menangis dan capek menerima perlakuan kasar dari suami siri nya.


"Nak, apa kita susul adik kamu ke kota? Tapi ibu tidak tahu adik kamu berada di mana? Kota itu sangat luas, dan mungkin sangat susah untuk mencari adik kamu." gumam bu Salma sambil menghapus air mata nya.


Bu Salma pun menatap wajah Syifa, sebelum menikah dengan Bima Syifa terlihat cantik dan segar, tapi setelah menikah dengan Bima wajah nya kusut dan tubuh nya pun jadi kurus, luka lebam di mana-mana, tangisan kesedihan tiap hari selalu mengalir.

__ADS_1


"Tuhan kapan cobaan ini berakhir, aku mohon hadirkan Alvin di saat kami sedang membutuhkan nya seperti sekarang." bu Salma pun berdo*a dalam hati sambil menitik kan air mata nya.


__ADS_2