
"Sayang, dulu kamu mau melakukan nya tapi aku menolak karena takut kedengaran ibu dan kak Syifa, terus kalau mandi kan malu karena kamar mandi yang hanya satu dan berada dekat dapur." ucap Rara sambil mengalungkan kedua tangan nya ke leher Alvin.
"Terus kenapa?" Alvin pura-pura ngga mengerti dengan ucapan Rara.
"Bagaimana kalau malam ini kita melakukan nya, aku ingin merasakan nya di sini, biar bayi kita juga merasakan berada di kampung ayah nya."
"Apa hubungan nya dengan bayi kita." Alvin masih dengan ke pura-pura an nya.
"Sudahlah mas, mas memang ngga pernah peka." Rara melepaskan tangan nya dari leher Alvin lalu pergi berbaring di atas kasur dan membelakangi Alvin.
"Kamu marah sayang? Aku cuma bercanda kok." ALvin memeluk Rara dari belakang lalu mencium tengkuk Rara dengan lembut membuat tubuh Rara meremang.
Rara memang lagi mau dari tadi tapi dia masih malu untuk mengajak nya lebih dulu.
Rara masih menahan semua rasa yang ada di tubuh nya, dia masih pura-pura marah, tapi Alvin tidak membiarkan nya Rara untuk marah lama, Alvin terus mengabsen tubuh Rara hingga Rara kini sudah berhadapan dengan nya.
Alvin ******* bibir Rara dengan lembut hingga Rara mulai membalas nya, Alvin tersenyum sambil terus ******* bibir Rara.
Rara sudah ngga sabar dan langsung melepaskan seluruh baju yang melekat di tubuh nya membuat Alvin merasa sangat senang.
"Kamu sudah ngga tahan ya sayang, pelan-pelan ya? Kasihan baby kita."
Rara tidak menjawab nya, tapi Rara langsung me lu mat bibir Alvin
Di malam ini bukan hanya pengantin baru saja yang merasakan indah nya malam dengan penuh keringat dan kenikmatan, tapi Rara dan ALvin juga ngga mau kalah, walaupun Alvin melakukan nya hanya satu kali saja, tapi itu sudah membuat Alvin dan Rara bahagia.
Rara tersenyum bahagia lalu memeluk erat tubuh suami nya, dan seperti biasa dia tertidur di atas dada bidang suami nya yang sudah menjadi kesukaan nya.
Alvin tidak berani melakukan nya lebih dari satu kali, dia takut bayi yang di kandung istri nya kenapa-kenapa.
Alvin memeluk tubuh Rara dan mencium kening Rara sebelum dia ikut tidur dan masuk ke alam mimpi indah nya.
*
*
__ADS_1
Pagi hari di rumah Alvin sudah ramai dan sibuk dengan tugas mereka masing-masing, para pekerja Alvin sedang membereskan rumah Alvin yang belum semua nya di bersihkan karena semalam mereka kecapekan sehingga mereka menghentikan kerjaan nya dan melanjutkan di pagi ini.
Bu Salma, bu Rasti dan ibu kandung nya Ramzi sedang membuat sarapan untuk mereka, bu Lala merasa ngga enak karena bu Salma dan yang lain nya ikut turun ke dapur.
Tapi semua ini karena keinginan mereka, bu Lala hanya membantu ala kadar nya.
Alvin dengan pak Ramly serta ayah nya Ramzi sedang jalan-jalan mengelilingi kampung Alvin, dengan cuaca dan angin segar di pagi hari menyentuh kulit mereka.
Rara dan Kania sedang duduk manis di depan kolam renang dengan teh hangat di depan nya, walaupun masih pagi dan cuaca masih dingin, tapi kedua wanita itu memilih di sana untuk pagi ini.
"Kira-kira mereka melakukan nya berapa kali tadi malam?" tanya Kania sambil menyeruput teh panas nya.
"Yang pasti lebih dari satu kali." jawab Rara sambil tersenyum.
"Wah rupanya pengalaman pribadi nih, dan di lihat dari raut wajah nya seperti nya kalian juga ikut melakukan ritual malam pengantin." Kania tersenyum sambil melirik ke arah Rara.
"Kalau yang nama nya malam pertama pasti lebih dari satu kali, para readers pun pasti sama, entah othor nya berapa kali." Rara tidak menjawab pertanyaan yang menuju dirinya.
"Woi Ra othor masih polos, jadi jangan bawa-bawa othor." teriak othor sambil mesem-mesem.
"Sudah lah mbak, mending kita keliling rumah yuk? Katanya mbak ingin keliling rumah ini." ajak Rara.
"Tapi pelan-pelan aja ya Ra, kamu nanti capek, sudah tahu jenis kelamin nya Ra?"
"Kita ngga mau mengetahui nya mbak, mau anak nya laki-laki atau perempuan, kita akan menerima nya dengan penuh kasih sayang." Kania hanya mengangguk sambil tersenyum.
Kania dan Rara pun berkeliling rumah sambil terus bertukar cerita dan pengalaman.
*
*
Syifa membuka matanya dan melihat ke arah jarum jam dinding yang ada di kamar nya.
Syifa dengan bibir tersenyum menatap wajah tampan Ramzi yang masih terlelap.
__ADS_1
"Terima kasih mas, kamu sudah mau menerima aku apa adanya, kamu memang bukan yang pertama yang menikmati tubuh ku, tapi kamu adalah orang yang pertama yang membuat aku merasakan sensasi nya." gumam Syifa, tangan nya mengusap bibir tebal Ramzi lalu mengecup nya sebentar.
"Jangan mancing-mancing sayang." ucap Ramzi dengan mata yang masih terpejam, sedangkan kedua tangan nya masih memeluk erat tubuh Syifa.
"Aku ngga mancing mas, aku lagi di peluk kamu." jawab Syifa lalu memeluk erat Ramzi.
"Memang sensasi yang aku berikan beda ya sayang?"
"Mas dengar ucapan ku? Berarti mas sudah bangun dari tadi dong." Syifa kaget karena ucapan nya di dengar oleh Ramzi.
"Semenjak kamu bangun mas juga ikut bangun, tapi mas masih ingin memeluk kamu."
"Maaf ya mas, kamu bukan yang pertama." Ramzi meletakan jari telunjuk nya di bibir Syifa, Ramzi tahu apa yang akan diucapkan oleh istri nya itu.
"Jangan kamu ucapkan lagi, bagi mas sama saja yang penting kita saling mencintai dan saling menerima satu sama lain."
"Terima kasih mas." kembali Syifa mencium bibir Ramzi.
"Kalau begitu berarti kamu sudah berpengalaman, sekarang ajarin mas dong." ucap Ramzi sambil tersenyum jahil.
"Ajarin apa? Semalam saja udah lebih dari satu kali, berarti sudah mahir."
"Ayolah sayang, kan pagi-pagi begini kata Kania lebih enak." Ramzi mengingat chat dari Kania semalam.
"Kania? Jadi semalam mas senyum-senyum karena chat masalah itu?" Syifa menatap mata Ramzi.
Ramzi hanya mengangguk, tangan nya sudah menjelajah ke seluruh tubuh Syifa dan mendarat tetap dan lama di bagian inti Syifa membuat Syifa kembali ingin merasakan lagi yang semalam bersama Ramzi.
Wajah Ramzi sudah berada di depan kedua bukit Syifa dan bermain-main di sana.
Syifa yang sudah ngga tahan langsung membalik kan tubuh Ramzi hingga Ramzi sekarang ada di bawah nya.
Pagi ini Syifa yang memimpin dan tidak membiarkan Ramzi yang mengambil alih.
Syifa seperti orang yang lagi kehausan di tengah padang pasir, pagi itu Syifa membuat Ramzi melayang sampai tidak berdaya.
__ADS_1