CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Mulai Tenang


__ADS_3

Alvin keluar kamar mandi dengan bibir yang tersungging senyuman, rambut yang basah dia kibas-kibas kan.


"Bahagia sekali suami ku ini?" goda Rara yang melihat suami nya dari cermn.


Alvin tersenyum lalu menghampiri Rara dan memeluk nya dari belakang.


"Makash sayang, kamu selalu membuat aku bahagia." ucap ALvin lalu mencium leher Rara.


"Mas, stop aku lagi merias wajah dan aku juga sudah lapar, jadi jangan memulai nya." ucap Rara.


"Cuma memberi tanda saja kok." ucap Alvin tanpa dosa lalu pergi untuk memakai baju yang sudah di siapkan oleh Rara.


Rara hanya menggelengkan kepala nya melihat kelakuan suami nya.


*


*


"Avin." ucap Syifa dengan tatapan mata nya yang tidak tenang.


"Alvin belum bangun mungkin nak, dia masih capek jadi kita makan duluan saja ya, lhat lah makanan ini di masak bi Mumun seperti nya enak sayang." ucap bu Salma sambil memberikan suapan pertama nya.


Pagi ini Syifa menurut sekali, semenjak mereka berkumpul kembali dengan Alvin, Syiifa sedikit demi sedikit ada perubahan, tapi bu Salma masih ada rasa khawatir takut Syifa kembali ngamuk dan menangis histeris.


Bi Mumun yang di tatap Syifa pun tersenyum dan mengangguk, "Makan lah nak, biar kamu selalu sehat, ini susu nya sudah bibi buatkan." ucap bi Mumun dengan sopan, bi Mumun berusaha membuat Syifa nyaman berada di dekat nya, karena kalau tidak begitu bi Mumun takut apa yang di ceritakan bu Salma tadi selagi masak akan terulang kembali.


Syifa hanya mengangguk dan kembali menerima suapan dari ibu nya.


"Pagi semua nya?" teriak Rara sambil menggandeng tangan Alvin, rambut yang masih sedikit basah menambah keceriaan mereka berdua, terlihat senyum bahagia mengembang di bibir Rara dan ALvin.

__ADS_1


"Pagi nak."


"Pagi juga den, bibi kira aden belum pulang tadi bibi kaget melihat bu Salma ada di dalam rumah, untung bibi ngga pukul sama panci." ucap bi Mumun sambil tersenyum.


"Maaf bi, saya lupa ngga kasih kabar bibi." ucap Alvin sambil menggeser kursi buat istri nya.


"Enak kak?" tanya Rara sambil mengusap tangan Syifa, Syifa yang ditanya mengangguk kan kepala nya.


"Ya sudah kakak makan yang banyak, setelah itu kakak siap-siap ya, kita pergi ke dokter, Alvin sudah telepon dokter nya tadi." ucap Alvin.


*


*


Dan di sini lah sekarang mereka berempat berada, bu Salma ikut serta membawa Syifa ke rumah sakit, walau bagai mana pun bu Salma bisa membantu jika terjadi hal yang tidak di ingin kan.


Dokter psikolog wanita itu dengan sabar mendengarkan cerita Syifa dari awal sampai akhir, dia mendengarkan sampai terus menatap Syifa, dia tidak ingin salah dalam bertindak.


Alvin, Rara dan bu Salma sudah keluar dari ruangan dokter, mereka memberikan waktu buat Syifa biar Syifa lebih nyaman dengan dokter.


Setelah tiga jam berlalu akhirnya terlihat pintu ruangan dokter terbuka, terlihat dokter tersenyum sambil menggenggam tangan Syifa.


"Pemeriksaan hari ini cukup sampai di sini, dua hari lagi datang kembali, dan untuk kalian jangan pernah mengungkit masa lalu Syifa, arahkan dia sama kesibukan dan sering-sering lah mengajak dia ke tempat keramaian, oh ya kalau bisa kasih dia pekerjaan agar dia bisa melupakan masa lalu nya, dengan cara seperti itu akan membantu dia untuk pulih seperti dulu, pertama masuk ke ruangan saya tadi saya melihat mata Syifa ngga tenang, tapi sekarang kalian bisa melihat nya, tatapan nya sudah fokus dan mulai tenang kembali." dokter wanita itu menjelaskan semua nya secara detail.


Sontak Alvin, Rara dan bu Salma menatap mata Syifa, mereka bertiga tersenyum karena apa yang di ucapkan dokter benar adanya.


"Terima kasih dok, Insya Allah kami akan melaksanakan apa yang dokter perintah kan tadi, kalau begitu kami permisi." ucap Alvin sambil mengulurkan tangan nya.


"Semangat ya nak, saya yakin kamu pasti bisa." ucap dokter kepada Syifa, Syifa hanya mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


Mereka berempat pergi setelah berpamitan kepada dokter.


"Mas, kita ke mall dulu ya, sekalian kita makan, pasti ibu dan kakak juga lapar." ajak Rara yang duduk di samping ALvin yang sedang mengemudikan mobil nya.


"Siap sayang, kemana pun kamu ingin pergi aku akan selalu mengantarkan nya." jawab Alvin membuat semuaya tersenyum termasuk Syfa.


Mulai saat ini Rara dan Alvin akan membuat Syifa selalu tersenyum dan perlahan melupakan masa lalu dan rasa trauma nya.


Bu Salma tidak henti-henti nya berdecak kagum dengan pemandangan kota yang banyak sekali bangunan-bangunan yang sangat tinggi dan juga kemacetan lalu lintas di jalanan.


Kini mereka sedang mengelilingi mall setelah sebelum nya mereka mengisi perut nya dengan makanan enak yang ada di mall tersebut.


Dengan sekuat tenaga Syifa melawan rasa takut nya ketika berbaur dengan orang-orang asing yang ada di mall, tangan bu Salma tidak pernah lepas darai tangan Syifa, bu Salma memberikan kekuatan dan semangat lewat genggaman dan tatapan mata nya.


Rara mengajak ke salah satu toko baju khusus untuk para pekerja kantoran.


"Kamu mau beli baju buat kerja sayang? Bukan nya bulan kemarin sudah membeli banyak?" tanya Alvin dengan tatapan heran nya.


"Aku beli buat kak Syifa sayang, besok aku akan ajak kakak ke kantor." jawab Rara sambil memilih baju yang pas untuk Syifa.


"Sayang, aku ngga salah dengar kan?" tanya Alvin ingin memastikan nya.


"Kamu ngga salah dengar kok sayang, mas dengar kan tadi apa yang dibilang dokter, nah aku mau membantu kak Syifa agar cepat sembuh, makanya aku akan ngajak kak Syifa ke kantor dan aku akan ajarkan dia."


"Tapi nanti malah kamu yang repot sayang?" ucap Alvin yang merasa ngga enak dengan Rara.


"Aku ngga merasa di repotkan mas, aku malah senang kalau ada kak Syifa di kantor, jadi kamu ngga bakalan berbuat mesum lagi ma aku." ucap Rara dengan senyum kemenangan nya.Alvin hanya menghela nafas sambil tersenyum.


Rara menyuruh Syifa untuk mencoba baju yang dia pilihkan, Awal nya Syifa ngga mau karena merasa ngga enak dengan rara, tapi Rara terus memaksa dan akhir nya Syifa pun pasrah dan nurut dengan semua yang Rara perintahkan.

__ADS_1


Karena waktu sudah malam dan semua yang di butuhkan sudah mereka beli, mereka pun kembali ke rumah dengan perasaan yang sangat bahagia.


__ADS_2