
Ramzi keluar dari kamar mandi dengan tangan sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil nya.
Syifa yang sudah terlihat sangat cantik menatap wajah tampan Ramzi dan tersenyum.
"Mas, ini baju nya sudah aku siapkan." Syifa memberikan baju Ramzi yang memang sudah pindah ke lemari yang ada di kamar nya.
"Makasih sayang, kamu cantik sekali hari ini, wajah kamu lebih bersinar sampai-sampai sinar matahari pun kalah bersinar nya."
"Ternyata kamu pintar gombal ya mas." Syifa merasa senang sekaligus malu di puji suami nya.
Ramzi hanya tersenyum lalu memakai baju yang sudah di siapkan istri nya.
"Sudah kan mas, ayo kita ke ruang makan mereka pasti sudah menunggu kita." ajak Syifa sambil memakai sebuah syal di leher nya.
"Kamu kenapa pakai syal sayang?" Ramzi menatap heran, karena selama kenal dengan Syifa, baru kali ini Ramzi melihat Syifa memakai syal.
"Ini semua gara-gara mas, lihat ini, ini dan ini, kalau aku ngga pakai Syal mereka semua akan melihat nya dan aku akan habis di godain." Syifa menunjukan beberapa tanda merah keunguan yang di buat Ramzi lalu memakai kan syal nya kembali.
Ramzi hanya tersenyum tanpa dosa, "Itu tanda nya kamu milik aku, ya ngga apa-apa mereka melihat nya, mereka juga pasti pernah merasakan nya." tanpa beban Ramzi mengucapkan nya.
"Ngga apa-apa menurut kamu mas, tapi ini menjadi boomerang bagi aku, aku tidak mau kuping ku panas gara-gara kelakuan mas ini."
"Tapi kamu juga menyukai nya kan sayang, bukti nya kamu sampai kelelahan, apalagi yang barusan, aku sangat suka sekali kamu seperti itu, nanti malam kamu yang mimpin lagi ya." Ramzi menggoda istri nya.
"Au ah, sudah jangan di bahas lagi sekarang kita makan aku sudah lapar." Syifa merasa malu karena Ramzi mengungkit yang sudah terjadi barusan, walau dalam hati Syifa merasa senang mendengar Ramzi menyukai gaya dan cara nya.
Ramzi tersenyum sambil melangkahkan kaki nya mengikuti Syifa lalu memeluk bahu nya dari samping dan berjalan bersama.
Semua nya sudah berkumpul di meja makan, mereka menikmati sarapan duluan karena mereka mengira kalau pasangan pengantin baru ngga bakal keluar kamar sampai siang hari.
"Pagi semua nya, maaf kita berdua terlambat." Syifa tersenyum lalu duduk di kursi yang kosong di ikuti Ramzi yang duduk di sebelah nya.
__ADS_1
"Pagi sayang." ucap Bu Salma sambil tersenyum, dia merasa Syifa berbeda hari ini.
"Kamu terlihat sangat berbeda sekali nak hari ini, kamu lebih bersinar, semoga kamu bahagia selalu." bathin bu Salma.
"Ra kamu panas apa dingin sih? Kok mbak merasa panas ya?" Kania paham dengan Syifa yang memakai syal.
Rara yang melihat sebuah syal yang sedang melingkar di leher Syifa pun tersenyum.
"Aku kan lagi hamil mbak, jadi bagi aku cuaca nya gerah, tapi kalau buat pengantin baru pasti dingin, iya kan kak?"
"Bisa ngga kalian jangan buli aku, kalian cukup diam dan nikmati saja sarapan nya." Syifa yang malu pura-pura marah dan menyuruh mereka berdua menhabiskan sarapan nya.
Kania dan Rara hanya tersenyum melihat wajah kesal Syifa.
"Sudah-sudah, ayo sarapan nya di habiskan." bu Salma melerai mereka, agar mereka tidak menggoda Syifa terus.
"Aku pulang nanti sore, maaf ya sudah merepotkan semua nya, dan untuk hadiah pernikahan kalian, nanti aku kirim ke rumah kalian di sana." ucap Kania setelah menghabiskan sarapan nya.
"Urusan aku sudah selesai, lagian anakku sudah nanyain aku pulang terus."
"Kita juga pulang besok pagi, soalnya papah banyak kerjaan di kantor." ucap pak Ramly.
Berarti rumah ini sepi lagi dong?" ucap bu Salma.
"Nanti kita ramekan dengan cucu ibu." Alvin menggenggam tangan ibu nya.
Bu Salma tersenyum bahagia, melihat anak-anak nya kini yang sudah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing.
*
*
__ADS_1
Kania sudah pergi, kini hanya keluarga inti saja yang ada di rumah Alvin beserta para pekerja nya.
Para pekerja Alvin sangat bahagia karena mendapatkan bonus karena kerja keras mereka dalam membantu acara pernikahan kakak nya.
Malam ini malam kedua bagi pasangan Ramzi dan Syifa, lagi-lagi mereka melakukan nya.
Mulai malam ini Ramzi akan selalu melakukan ritual sebelum tidur nya, dia sangat bahagia memiliki Syifa, walaupun Syifa sudah ngga suci lagi, tapi rasanya masih sempit dan kenyal hingga membuat Ramzi ingin terus melakukan nya.
Syifa akan terus membuat Ramzi bahagia, dia akan melakukan apa pun demi Ramzi, pernikahan kedua nya ini Syifa merasakan sangat di sayangi dan sangat di hargai sebagai istri, tidak seperti waktu di nikahi oleh Bima.
Bu Salma menatap poto suami nya yang telah usang yang ada di tangan nya.
"Yah, semua keinginan kamu sudah terkabul, berkat pengorbanan kedua anak kita semua nya bisa terwujud, rumah kita sekarang lebih besar bahkan seperti sebuah istana, anak-anak kita sudah pada dewasa dan sudah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing, sekarang ibu ikhlas kalau untuk diajak sama ayah, ayah kapan mau menjemput ibu." gumam bu Salma dengan deraian air mata, malam ini bu Salma sangat merindukan suami nya itu.
Alvin yang kebetulan habis menemui Feri dan Asep tidak sengaja mendengar ucapan ibu nya dari balik pintu, dengan perlahan Alvin membuka pintu kamar ibu nya,dan ternyata memang tidak di kunci.
"Ibu kenapa belum tidur?" tanya Alvin sambil menghampiri ibu nya.
"Nak, ibu kangen ayah kamu." jawab bu Salma sambil menghapus air mata nya.
Alvin memeluk ibu nya. "Ayah sudah bahagia di sana, semua keinginan ayah juga sudah terkabul, jadi ibu jangan sedih lagi ya." Alvin menghapus air mata ibu nya.
Dengan penuh kasih sayang Alvin mengusap air mata bu Salma dengan tisu sampai kering, hanya terlihat mata bu Salma masih berkaca-kaca.
"Terima kasih nak, ini semua berkat kalian berdua, kalian berdua sudah berkorban sampai kita ada di posisi sekarang." bu Salma membelai wajah Alvin dengan penuh sayang.
"Ini juga berkat ibu, ibu yang sudah menjaga dan mendidik kami hingga kami bisa seperti sekarang, tanpa ibu kami berdua juga tidak akan bisa seperti ini."
Bu Salma memeluk Alvin, begitupun juga Alvin yang memeluk balik bu Salma, air mata bahagia bu Salma kembali lolos dari mata nya.
Bu Salma sangat bahagia mempunyai anak seperti Alvin yang sangat menyayangi keluarga nya, Alvin tidak pernah menyakiti hati ibu nya bagaimana pun keadaan nya, Alvin yang dulu dia gendong sekarang sudah bisa membuat dirinya senang dan bahagia di masa tua nya.
__ADS_1