
Selagi Syifa dan Ramzi sedang terlena dengan keadaan, tiba-tiba ada yang memanggil sambil mengetuk kaca mobil nya.
"Kak, kak Ramzi ada di dalam." teriak Alvin sambil mengetuk kaca mobil Ramzi.
Syifa langsung tersadar dan menjauhkan wajah nya dari wajah Ramzi, Ramzi membuka kaca mobil nya setelah melihat Syifa sudah merapihkan rambut nya.
"Vin, lagi ngapain di sini?" tanya Ramzi setelah membuka sedikit kaca mobil nya.
"Rara pengen beli sate, lo kakak juga ada?" ucap ALvin sambil melirik ke arah Syifa.
"Iya dek tadi pulang kerja tapi karena pak Ramzi lapar jadi kita makan dulu." ucap Syifa dengan berusaha bersikap biasa, padahal dirinya sedang menahan malu atas apa yang telah dia lakukan dengan Ramzi.
"Oh begitu ya, ya sudah seperti nya sate nya sudah selesai di buat aku duluan ya." Alvin pergi meninggalkan mobil Ramzi.
Syifa hanya mengangguk lalu menunduk pura-pura sibuk dnegan ponsel nya.
"Syifa, maafkan aku, aku khilaf." ucap Ramzi sambil melajukan mobil nya.
Syifa hanya diam membisu, dirinya juga bingung kenapa bisa sampai terlena dan malah membalas ciuman Ramzi.
"Bodoh kamu Syifa, kenapa kamu balas ciuman nya, dimana harga diri kamu." bathin Syifa merutuki diri nya.
"Kamu marah?" tanya Ramzi sambil melirik ke arah Syifa, Ramzi tahu diri nya telah bersalah karena sudah mencium bibir Syifa tanpa izin.
"Sudah lupakan saja jangan di ungkit lagi." sebenar nya Syifa terus mengingat kejadian itu, tapi karena dirinya merasa malu jadi dia menyuruh Ramzi untuk melupakan yang sudah terjadi.
*
*
"Ini sayang sate nya, lama ya?" ucap ALvin sambil masuk ke dalam mobil.
"Aku sudah ngga sabar mas ingin segera makan sate nya." Rara langsung menyantap sate pesanan nya.
"Oh iya sayang, itu tadi memang kak Ramzi, dan di dalam nya ternyata ada kak Syifa juga." ucap Alvin sambil melajukan mobil nya.
__ADS_1
"Really? Mudah-mudah han mereka saling menerima dan jatuh cinta, aku sangat setuju jika mereka bersama, aku yakin kak Ramzi akan menerima kak Syifa apa adanya."
"Kalau mas sih asalkan kak Ramzi selalu menjaga dan menyayangi kakak, mas akan merestui nya, lagian mas juga tidak mau kalau kakak terus-terusan bersedih dan mengingat masa lalu nya yang buruk."
Rara mendengarkan sambil menikmati sate nya, sesekali dia menyuapi Alvin yang sedang mengemudi.
Mobil Ramzi memasuki halaman rumah Alvin, Ramzi langsung membuka kan pintu untuk Syifa.
"Mampir dulu pak, em." Syifa berontak karena kaget Ramzi kembali mencium bibir nya.
"Kenapa kamu panggil aku dengan panggilan pak lagi, aku kan sudah bilang jangan panggil bapak, pokok nya kalau lagi berdua kamu manggil aku dengan panggilan bapak maka aku akan terus mencium bibir kamu." ucap Ramzi setelah melepaskan ciuman nya.
Syifa hanya diam, dia masih bingung harus manggil Ramzi dnegan panggilan apa.
"Ya sudah kamu masuk terus istirahat, jangan begadang, besok aku jemput lagi." Ramzi masuk ke dalam mobil lalu pergi meninggalkan Syifa yang masih berdiri menatap nya hingga tidak terlihat lagi.
Syifa masuk dengan bibir menyunggingkan sebuah senyuman, saat ini dirinya merasa bagaikan remaja yang sedang jatuh cinta.
"Kok baru pulang nak? dari mana dulu?" tanya bu Salma yang sedang duduk di kursi ruang keluarga, bu Salma menunggu kepulangan anak-anak dan juga menantu nya, bu Salma merasa khawatir dengan mereka terutama Syifa.
"Oh ya sudah yang penting kamu sudah pulang dengan selamat, sekarang istirahat saja, ibu masih ingin di sini." Syifa mengangguk lalu pamit pergi ke kamar nya.
"Kamu terlihat bahagia nak malam ini, semoga kamu mendapatkan kebahagiaan, dan semoga kamu mendapat pasangan yang mau menerima kamu apa adanya." bathn bu Salma sambil menatap kepergian Syifa.
"Ibu belum tidur?" tanya Rara yang baru masuk bersama Alvin.
"Ibu masih menunggu kalian pulang." jawab bu Salma.
"Oh iya bu, aku tadi beli sate dan ini buat ibu sama bibi." ucap Rara sambil memeberikan sate nya.
"Makasih nak, ya sudah kalau begitu kita makan bareng-bareng saja." ajak bu Salma.
"Aku sudah kenyang bu, dan juga aku sudah ngantuk dan lelah."
"Ya sudah kalau begitu kalian istirahat saja."
__ADS_1
"Oh iya bu, kakak sudah pulang belum?" tanya Alvin.
"Sudah barusan, tapi ibu suruh langsung istirahat."
"Oh, ya sudah kita istirahat duluan ya bu." Alvin dan Rara pun masuk ke kamar nya setelah mendapat izin dari bu Salma, sedangkan bu Salma memanggil bi Mumun untuk menghabiskan sate yang di bawa kan Rara.
Syifa yang sudah membersihkan tubuh nya berbaring dan menatap langit-langit kamar nya yang putih bersih.
Syifa tersenyum sambil menyentuh bibir nya, dia mengingat kembali kejadian di dalam mobil dengan Ramzi.
"Kenapa aku malah membalas nya, tapi sungguh ciuman ini berbeda banget, dan aku merasa nyaman di dalam pelukan mas Ramzi. Apa! mas? Tidak, tidak Syifa, masa kamu harus memanggil nya dengan panggilan mas, tapi_ kalau aku manggil bapak nanti bibir ku di cium lagi." gumam Syifa sambil tersenyum dengan tangan yang menyentuh bibir nya.
"Ah aku jadi ngga bisa tidur kan jadi nya." Syifa terus berguling ke kanan dan ke kiri, bagaimana bisa tidur ciuman yang dia lakukan dengan Ramzi terus ada di pikiran nya.
"Bibir kamu manis sayang, aku ingin merasakan nya kembali." gumam Ramzi sambil menyentuh poto Syifa yang ada di ponsel nya.
Ramzi terus menggulir ponsel nya hingga berujung di kontak Syifa yang dia simpan dnegan nama Cantik, Ramzi menekan panggilan dengan harapan Syifa belum tidur dan menerima panggilan nya.
Syifa yang memang lagi ngga bisa tidur langsung mengambil ponsel nya yang berdering, bibir Syifa langsung tersenyum melihat kontak yang menghubungi nya.
"Kenapa harus panggilan video sih, aku kan masih malu dengan kejadian tadi." gumam Syifa lalu menggulir icon hijau.
"Halo pak." sapa Syifa tanpa memperlihatkan wajah nya.
"Kamu panggil aku pa?coba sekali lagi? Awas besok pagi ya." ancam Ramzi.
"Aku ngga manggil apa-apa kok." Syifa berbohong karena dirinya ngga mau kalau sampai pagi hari di cium oleh Ramzi.
"Wajah kamu mana? Masa aku di suruh berbicara sama tembok, kamu anggap apa aku ini?" Ramzi kesal dengan Syifa.
Dengan sedikit terpaksa Syifa mengarahkan camera wajah nya.
"Iya ini sudah aku arah kan camera nya."
Ramzi tersenyum melihat wajah cantik Syifa malam itu, Ramzi ngga akan bosan melihat wajah Syifa, apalagi Ramzi sudah merasakan bibir nya.
__ADS_1