
Keluarga bu Salma semakin di hormati oleh warga sekampung, beberapa orang bekerja di rumah Alvin, dan Alvin sedang mencari tanah kosong yang luas, dirinya berencana mau membuat pabrik sepatu sekalian memberikan pekerjaan pada orang kampung yang sebagian memang masih pada ngangggur.
Keluarga bu Salma sudah mulai sibuk mempersiapkan untuk melaksanakan resepsi pernikahan Syifa dan Ramzi, dari mulai kartu undangan sampai membahas yang masak, bu Salma tidak mau pakai jasa catering, dia ingin bu Lala yang masak dan di bantu oleh warga kampung, selain menjaga silaturahmi, bu Salma juga ingin berbagi rezeki dengan para tetangga nya.
Sudah tradisi di kampung bu Salma kalau ada yang mengadakan pesta pernikahan warga semua pasti berbondong-bondong untuk membantu walau sekedar hanya mengupas sayuran.
Untuk dekorasi dan MUA, Alvin langsung mendatangkan dari kota, dia memakai jasa MUA yang merias Rara sewaktu acara resepsi kemarin.
Dan untuk baju pengantin pun mereka mendatangkan dari butik yang smaa yang pernah Rara pakai.
Mereka semua bahagia dan senang mendapat orderan dari Alvin, walaupun jauh dan harus naik pesawat, tapi mereka tidak menjadi masalah karena semua ongkos pulang pergi di tanggung ALvin semua nya.
Alvin mengaskan kepada Asep dan Feri untuk selalu menjaga ketat kakak nya, walau bagaimana pun Alvin masih ada rasa khawatir akan kedatangan Bima dan membuat kacau acara nya nanti.
Syifa hampir setiap malam selalu melakukan sambungan video dengan Ramzi hingga tertidur.
Mereka saling mencurahkan rasa rindu hanya lewat menatap nya di ponsel masing-masng.
Siang ini seisi rumah ALvin di kaget kan dengan sebuah mobil box yang datang dan masuk ke halaman rumah Alvin.
Penjaga pintu membuka kan pintu dan membiarkan masuk ke dalam karena dia sudah melihat surat dan memang ini adalah pesanan Alvin.
"Apa itu?" tanya bu Salma yang memang sedang duduk santai bersama Rara dan Syifa di teras rumah, sedangkan Alvin sedang melihat lokasi dengan pak Rohim, karena Alvn mendapat informasai ada lahan kosong yang akan di jual.
"Ngga tahu bu." Syifa dan Rara menatap mobil box yang ada di depan nya.
"Maaf apa benar ini rumah nya pak Alvin?" tanya pak sopir mobil box.
"Iya benar, ada apa pak?" ucap bu Salma sambil menatap nya heran.
__ADS_1
"Saya hanya mau mengantarkan pesanan pak ALvin, sebentar saya keluarkan dulu ya bu.
Ketiga pria itu menurunkan sebuah box besar yang ternyata kulkas khusus ice cream beserta isi nya ang sangat lengkap.
"Kak, itu kan box ice cream?' teriak Rara dengan mata yang sudah berbinar.
"Dek, apa Alvin membelikan nya untuk kita?" tanya Syifa.
"Seperti nya iya deh kak, ah mas Alvin memang pengertian dia ngga mau kita susah-suah harus pergi ke mini market untuk membeli ice cream." mereka berdua sagat bahagia melihat box ice cream yang besar di hadapan nya kini.
Bu Salma hanya tersenyum sambil menitik kan air mata nya, sungguh dia ngga menyangka kehidupan nya akan berubah lebih baik dan berkecukupan seperti sekarang, bu Salma ingat dulu Syifa dan ALvin ingin membeli ice cream, tapi bu Salma tidak mampu untuk membeli nya, karena kalau membeli ice cream buat mereka berdua, bu Salma ngga ada untuk beli beras.
"Selain petugas yang mengirim kulkas ice cream itu, pak Anwar dan yang lain nya membantu membawa masuk ke dalam rumah.
"Mau di taro di mana nak?" tanya pak Anwar kepada Rara.
Setelah di tempatkan di posisi yang pas menurut Rara, mereka pun mencoba menyambungkan nya dengan listrik lalu membuka nya.
"Semua varian rasa lengkap ya nyonya, dan ini tolong di tanda tangani sebagai bukti kalau barang nya sudah di terima dalam keadaan bagus dan utuh serta isi nya komplit." pengantar kulkas ice cream itu memberikan sebuah kertas sebagai tanda bukti.
Setelah menanda tangani kertas nya, Rara langsung membuka dan mengambil ice cream yang dia suka.
"Ayo kalian ambil, kalian pasti capek sudah mengangkat nya dari luar." ucap Rara sambil menikmati ice cream nya.
Mereka semua pada ngambil satu orang satu, bahkan semua pekerja di rumah nya mendapat bagian.
"Terima kasih bu, kalau begitu kami permisi." pengantar box ice itu pamit setelah pesanan konsumen nya sudah di terima, mereka juga dapat kebagian ice nya.
Bu Salma tersenyum melihat sinaran wajah bahagia semua orang di sekeliling nya.
__ADS_1
"Ibu kenapa ngga makan ice cream nya?" tanya Rara.
"Ngga nak, ibu sudah ngga kuat makan yang dingin-dingin, nak kamu jangan banyak makan ice ya? Kalau sesekali boleh saja, kamu kan lagi mengandung jadi ngga baik terlalu banyak makan ice cream." ucap bu Salma.
"Yah, percuma dong mas ALvin beli banyak gini, kalau aku ngga boleh makan ice cream banyak." ucap Rara dengan wajah sedih nya.
"Ya sabar saja nak, kalau cuma sesekali sih ngga apa-apa, tapi jangan terlalu sering." ucap bu Salma.
"Iya benar nak Rara apa yang bu Salma ucapkan, karena kan nak Rara sedang mengandung jadi makanan pun harus di jaga biar dedek bayi nya sehat." ucap Bu Lala.
"Ice cream nya sudah sampai ya sayang." teriak ALvin yang baru masuk dan langsung memeluk Rara.
"Sudah mas." jawab Rara pelan, seakan-akan Rara tidak bergairah.
"Kenapa wajah kamu seperti ini, harus nya kamu senang dong bisa makan ice cream kapan saja." ucap Alvin sambil menyibakkan rambut nya ke belakang telinga.
"Bisa makan ice kapan saja gimana, kata ibu aku jangan terlalu banyak makan ice karena aku sedang mengandung." ucap Rara dengan nada manja nya.
"Kok gitu, memang nya ngga boleh ya bu?" tanya LAvin dan bu Salma hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu mas jual lagi saja, kalau istri mah ngga bisa bebas makan ice nya."
"Jangan dek, kan kakak juga suka, lagian di sini juga banyak orang, kan mereka juga ingin merasakan nya apalagi kalau mereka sudah lelah dan capek dengan pekerjaan mereka." ucap Syifa.
"Ya sudah ini buat kakak dan semua nya saja lah, nanti aku kasih kamu yang lain, kamu tinggal bilang nanti mas akan membelikan nya." Alvin mencoba merayu istri nya.
"Minta yang mahal sekalian dek, kamu habiskan tuh harta Alvin." ucap Syifa sambil tertawa.
Mereka yang sedang menikmati ice pun ikut tertawa mendengar ucapan dari Syifa.
__ADS_1