
"Sayang, lama sekali sih." teriak Alvin dari kejauhan.
"Iya mas, aku kesana." teriak Rara sambil melambaikan tangan nya.
"Suami kamu itu ya, orang belum selesai juga sudah main panggil saja." ucap Ramzi dengan wajah kesal nya.
"Sudahlah kak, nanti kita bicara lagi, aku mau samperin mas Alvin dulu."
Ra, tunggu, bagi no ponsel nya." Ramzi menarik tangan Rara.
"Nanti aku kirim via chat, sekarang dekati saja dulu kak Syifa nya." Ramzi hanya pasrah dan menatap Rara pergi, dirinya belum puas dengan jawaban yang Rara berikan.
"Apa sayang, baru juga sebentar udah manggil-manggil." ucap Rara sambil duduk di samping ALvin.
"Kalian membicarakan apa sih Yang, kenapa harus menjauh juga bicara nya? Jangan-jangan diantara kalian berdua?" Alvin menerka-nerka.
"Stop, jangan asal bicara, kak Ramzi menyukai kak Syifa, dan dia tanya-tanya tentang kak Syifa." jawab Rara.
"Terus kamu jawab apa?"
"Belum juga aku menjawab semua nya, mas sudah manggil-manggil, eh mas, kita tinggalin mereka berdua yuk, biar kak Ramzi bisa lebih dekat lagi dengan kak Syifa." bisik Rara, Alvin hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Ya sudah kita ke kamar saja yuk." bisik ALvin.
"Mau ngapain ngajak ke kamar?" tanya Rara penuh curiga.
"Ya ngapain lagi lah sayang." ucap Alvin sambil memainkan kedua mata nya.
"Jangan macam-macam mas, kita lagi di rumah papah." Alvin tertawa melihat mata Rara yang sedang melotot kepada nya.
*
*
"Malam Syifa." sapa Ramzi dengan menahan gejolak di dada nya.
__ADS_1
"Malam." singkat, padat, dan akurat jawaban yang diberikan Syifa kepada Ramzi.
"Perasaan apa ini, kenapa jantung ku berdebar kencang seperti ini." gumam bathin Syifa.
Hening dan sepi karena diantara mereka tidak ada yang memulai pembicaraan lagi.
"Em, boleh minta no ponsel nya?" tanya Ramzi memberanikan diri.
"Saya ngga punya ponsel." jawab Syifa sambil menahan keringat yang sudah keluar dari kening nya, Syifa merasa Ramzi akan memukul dan menyiksa nya seperti Bima dulu.
"Ngga mungkin di zaman sekarang ngga punya ponsel, pasti dia lagi berbohong." gumam bathin Ramzi sambil melirik Syifa yang lagi menunduk.
"Kalau begitu pakai saja punya saya, saya ada dua kok." Ramzi memberikan salah satu ponsel nya dengan cara mendekati Syifa.
"Tidak, terima kasih pak." Syifa sedikit menjauh dari Ramzi.
"Bikin penasaran saja kamu Syifa, aku harus terus mendekati nya." bathin Ramzi.
"Ngga apa-apa kamu ambil saja, aku masih ada kok." Ramzi terus memaksa agar Syifa menerima ponsel nya, dan dengan perlahan Ramzi terus mendekati Syifa.
"Tidak, jangan dekati aku, pergi kamu, Avin tolong kakak." teriak Syifa sambil menutup wajah nya, keringat sudah membasahi tangan dan kening serta tubuh nya yang gemetar.
Alvin dan Rara yang memang sedang melihat interaksi kedua nya pun langsung berlari menghampiri nya.
Bu Salma yang sedang berbincang dengan pak Ramly dan istri nya pun langsung pada berlarian ke arah suara Syifa yang sedang berteriak ketakutan.
"Ada apa ini? Kamu kenapa nak?" tanya mereka bertiga sambil menghampiri Syifa.
"Ngga ada apa-apa pah, kakak hanya kaget saja,." jawab Alvin.
"Tenang kak, kak Ramzi ngga bakalan melakukan apa-apa, percaya sama aku." ucap Rara sambil mengelus punggung Syifa berusaha menenangkan nya.
"Kakak ngga ngapa-ngapain Syifa, kakak hanya mau memberikan ponsel ini untuk Syifa." ucap Ramzi yang kaget dengan reaksi Syifa.
"Aku percaya kak, ya sudah sekarang kita pulang saja." ajak Rara sambil membawa Syifa ke dalam rumah.
__ADS_1
"Pah, mah, kita pulang dulu ya? Nanti kita kesini lagi untuk mempersiapkan semua nya." ucap Rara.
"Iya nak, tenangin saja dulu Syifa, lagian juga ini sudah malam." ucap pak Ramly, karena pak Ramly sudah tahu apa yang sudah terjadi kepada Syifa.
Mereka berempat akhir nya pulang setelah berpamitan kepada pak Ramly dan bu Rasti,
Ramzi semakin penasaran dengan Syifa, Ramzi hanya terdiam menatap Syifa yang di bawa pulang oleh Rara dan Alvin.
*
*
Malam ini Ramzi tidak bisa tidur sama sekali,pikiran nya terus memikirkan Syifa, wajah cantik Syifa yang ketakutan masih terbayang di benak Ramzi.
"Ada apa dengan kamu Syifa, seperti nya kamu ketakutan melihat aku." gumam Ramzi sambil terus menatap langit-langit kamar nya.
"Kamu seperti nya sedang mengalami trauma, seperti nya aku harus menemui Rara besok siang, aku ingin tahu tentang Syifa, kenapa dia bisa seperti itu dan ada hubungan apa Syifa dengan keluarga Alvin" Ramzi terus berperang dengan segala pikiran nya tentang Syifa.
Sedangkan Syifa sudah merasa tenang sejak tadi, Rara terus menenangkan dan memberikan semangat kepada Syifa.
Semenjak pulang dari rumah pak Ramly, Rara tidak sedikit pun melepaskan genggaman nya dari Syifa sampai sekarang mereka ada di kamar Syifa, sedangkan bu Salma sudah masuk ke dalam kamar nya untuk beristirahat.
"Kak, kakak tenang ya? Kak Ramzi orang nya baik kok, dia selalu menghormati perempuan, kakak harus berusaha untuk membuka hati kakak, tidak semua pria bersikap kejam, kakak harus yakin pada diri kakak sendiri, kakak harus bisa melawan rasa takut dalam diri kakak, aku yakin kakak bisa, kakak harus semangat ya?" Rara terus memberi semangat Syifa.
"Akan kakak coba." ucap Syifa sambil mengangguk.
"Ya sudah sekarang kakak istirahat, aku masuk kamar dulu ya kak, mas Alvin sudah nunggu." ucap Rara sambil berdiri, Syifa pun mengangguk sambil tersenyum.
"Apa aku bisa membuka hati untuk pria lagi? Apa aku sanggup menerima laki-laki lagi? terus kalau nanti dia berbuat seperti yang Bima lakukan bagaimana?" tubuh Syifa kembali gemetar, keringat mulai membanjiri tubuh nya ketika dirinya mengingat nama Bima.
"TIdak, aku tidak boleh terus-terusan seperti ini, aku harus bangkit, aku akan menuruti semua apa yang di ucapkan oleh dokter, ayo Syifa kamu pasti bisa." gumam Syifa menyemangati diri sendiri.
Selagi Syifa berperang dengan pikiran dan menahan rasa trauma nya suara ponsel nya berdering.
Syifa mengambil ponsel nya yang dia simpan di atas meja rias nya, Syifa menatap ponsel nya yang menampilkan no terbaru menghubungi nya, sementara no Syifa belum ada yang tahu kecuali Alvin dan Rara.
__ADS_1
"No siapa ini? Aku kan belum menyimpan no siapa pun, no ALvin dan Rara saja di simpan sama Rara sendiri bukan sama aku." Syifa mengabaikan panggilan nya, tapi ponsel nya terus berdering membuat Syifa kesal lalu menerima panggilan nya.