
Pagi hari Syifa pun terbangun dengan merasakan pusing di kepalanya efek menangis dan siksaan dari Bima.
Seperti biasa bu Salma menyiapkan sarapan buat mereka berdua, karena akhir-akhir ini Bima jarang datang ke rumah mereka.
"Nak ayo kita sarapan dulu." ajak bu Salma.
"Nanti saja bu, kepalaku pusing." jawab Syifa sambil menyentuh kepala nya.
"Nak, makan lah walau sedikit, habis itu minum obat lalu istirahat." Bu Salma pun terus menerus merayu Syifa agar mau makan.
Dengan segala rayuan dari bu Salma, akhirnya Syifa pun mau makan.
"Habiskan makanan nya ya nak? ibu belikan obat pusing buat kamu dulu." setelah memberikan piring yang sudah di isi makanan, bu Salma pun meninggalkan Syifa dan pergi ke warung untuk membeli obat.
Dikampung nya memang ada apotek, tapi membutuhkan waktu kalau berjalan, sedangkan bu Salma tidak mempunyai kendaraan apapun.
Bu Salma pun memilih membeli obat pusing di warung untuk Syifa.
"Syifa keluar kamu." teriak seorang wanita sambil memukul-mukul kencang pintu rumah bu Salma.
Syifa yang sedang menikmati sarapan pun langsung terdiam dan dengan susah payah membuka pintu nya, terlihat dua orang wanita yang sedang berdiri membelakangi nya.
"Maaf mbak cari siapa?" tanya Syifa dengan sopan sambil menahan rasa pusing di kepala nya.
"Dasar wanita murahan, kamu merebut suami saya dan memeras suami saya." teriak Leli sambil menampar lalu menjambak rambut panjang Syifa sampai Sifa mengaduh menahan sakit yang luar biasa.
Leli adalah istri pertama Bima, dirinya baru tahu kalau Bima menikahi Syifa secara siri dan memutuskan untuk melabrak Syifa.
"Maaf kan saya mbak, tapi saya ngga berniat merebut suami mbak.' teriak Syifa sambil berusaha melepaskan tangan Leli dari kepala nya.
"Ngga berniat tapi kamu mau menikah dengan suami saya, apa ngga ada pria lain sehingga kamu merebut suami saya." Leli membabi buta memukul, menampar dan menjambak Syifa di bantu sama adik kandung nya.
__ADS_1
"Hajar terus kak, biar dia kapok dan tidak mengganggu kak Bima lagi." Lina menjadi kompor untuk kakak nya sendiri, padahal dirinya lah yang diam-diam selalu memuaskan hasrat Bima.
"Ampun mbak, tapi aku melakukan nya terpaksa." Syifa pun terus memohon ampun.
"Jangan banyak alasan kamu, awas kamu kalau aku lihat mas Bima datang kemari lagi, habis kamu."
"Stop, kalian apakan anak saya." teriak bu Salma sambil berlari menghampiri Syifa.
"Ibu sama anak sama saja, ya sudah kak ayo kita pulang." ajak Lina.
"Dengar ya bu, didik anak ibu dengan benar agar tidak merebut suami orang lagi." teriak Leli lalu pergi meninggalkan rumah bu Salma.
"Ibu, hik, hik, hik." Syifa pun menangis dalam pelukan ibu nya.
"Sudah jangan menangis, nanti kepalamu tambah pusing, ayo masuk minum obat ini." bu Salma pun membawa Syifa masuk ke dalam rumah.
Sebenar nya hati bu Salma sakit melihat anak nya di perlakukan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, dia tidak punya daya untuk membalas mereka.
Syifa pun menangis tersedu-sedu dengan nasib nya kini, dalam hati Syifa ada sedikit rasa menyesal telah menerima Bima menjadi suami nya, tapi mengingat lagi sama impian adik nya, dia hanya tersenyum sambil menangis.
*
*
"Syifa." teriak Bima menggelegar.
"Iya mas." jawab Syifa sambil mengusap air mata nya.
"Apa yang telah kamu lakukan sama Leli? Dia sampai menangis seperti itu, kamu itu harus nya tahu diri dengan posisi kamu."
"Aku ngga melakukan apa-apa mas, tadi mbak Leli yang datang kesini lalu." belum selesai Syifa menjelaskan, tapi sebuah tamparan sudah mengenai pipi nya yang masih ada luka lebam bekas tamparan kemarin.
__ADS_1
"Plak! Berani-berani nya kamu mau menyalahkan Leli, rasakan ini." teriak Bima kembali menampar dan menjambak Syifa hingga kepala Syifa dia banting ke dinding kamar.
"Bugh! Aw, sakit mas, hik, hik, hik." Syifa terus menangis sambil menahan rasa sakit yang mendera pada tubuh nya terutama di bagian kepala.
"Bima, cukup, lepaskan anak saya." teriak bu Salma sambil memukul punggung Bima dengan sapu di tangan nya.
Bu Salma dan bu Lala memukuli Bima secara brutal, bu Salma sengaja meminta bantuan bu Lala, karena dirinya merasa takut untuk melawan sendirian.
"Ibu dan anak sama saja, detik ini juga aku ceraikan kamu, dan ingat satu hal, kamu harus segera kembalikan uang saya yang kamu ambil sebesar lima belas juta."
"Sakit bu, hik, hik, hik." Syifa pun menangis sambil memeluk erat tubuh bu Salma.
"Sabar ya nak, sudah sekarang kamu sudah terlepas dari laki-laki bajingan itu." ucap Bu Lala yang merasa prihatin dengan nasib Syifa.
"Terimakasih ya bu Lala sudah mau membantu saya." ucap bu Salma.
"Sama-sama bu Salma, kalau ada apa-apa kasih tahu saya saja, saya siap membantu, kalau begitu saya pulang dulu, soalnya tadi lagi cuci baju, dan tolong Syifa nya jangan dibiarkan sendiri dulu ya bu, soalnya mental nya dia lagi rapuh." bu Lala pun pulang kembali ke rumah nya setelah di rasa Syifa sudah tenang dan kondisi sudah aman.
Hari pun terus berlalu, semenjak penganiayaan yang di lakukan Bima dan istri nya, Syifa sering melamun sendirian di kamar nya.
Hingga suatu hari bu Salma dikagetkan dengan sikap Syifa yang tiba-tiba tertawa lalu tidak lama kemudian menangis.
Sakit hati bu Salma melihat kondisi anak perempuan nya seperti itu, yang bu Salma lakukan hanya pasrah dan berdo*a.
Bu Lala sempat mengajak bu Salma membawa Syifa untuk berobat, bu Salma pun melakukan nya dan terus berusaha mengobati Syifa, tapi hasil nya nol, tidak ada perubahan sama sekali.
Bahkan ada salah satu dokter yang menyarankan Syifa di masukan ke rumah sakit jiwa, tapi dengan tegas bu Salma menolak nya.
Semenjak itu bu Salma sudah tidak mau membawa Syifa ke rumah sakit lagi, dalam tiga tahun ngurus Syifa dengan kondisi seperti itu sungguh menguras air mata buat bu Salma, tapi bu Salma tidak pernah menangis di hadapan Syifa.
Bu Salma selalu menyembunyikan kesedihan nya, dia selalu menagajak ngobrol Syifa tentang yang bahagia-bahagia saja, bu Salma tidak pernah mengungkit soal Bima.
__ADS_1
Karena waktu itu pernah Bima datang hanya untuk menagih uang yang pernah dia berikan kepada Syifa, dan Syifa pun ngamuk dan menangis histeris hingga membuat Bima kesal dan pergi sambil mengumpat.