
Jam pulang kantor sudah tiba waktu nya, Syifa sudah siap-siap untuk pulang, hari ini Syifa tidak terlalu minta bantuan Dian karena sudah banyak yang dia mengerti.
"Syifa pulang sama siapa?" tanya Dian yang sudah siap untuk pulang.
"Ngga tahu mbak, tapi pak Ramzi bilang dia akan menjemput saya, tapi ngga tahu juga soalnya takut pak Ramzi juga lagi sibuk." jawab Syifa lalu menghampiri Dian.
"Kamu sudah mulai dekat ya sama pak Ramzi?"
"Terlalu dekat sih ngga mbak, tapi beberapa kali bertemu jadi kita sudah agak dekat, apalagi kan pak Ramzi kakak nya Rara, jadi kita sering bertemu."
"Oh iya ya, tapi kan pak Ramzi hanya kakak angkat nya bu Rara, jadi ada kesempatan kok untuk kalian lebih dekat lagi."
"Ah mbak ini, ngga lah mbak mana mungkin pak Ramzi mau sama saya, lagian cewek pak Ramzi juga pasti lebih cantik dan pintar dari saya, ah sudah lah mbak lebih baik kita pulang, kalau ngomongin pak Ramzi ngga bakalan kelar sampai besok." ucap Syifa sambil tertawa, Dian hanya tersenyum mendengar penuturan dari Syifa.
Syifa menunggu Ramzi yang sudah janji mau menjemput nya di depan lobi, sedangkan Dian pergi ke parkiran untuk mengambil mobil nya.
"Ayo mbak antar pulang, nanti keburu malam rawan kalau pulang malam sendirian." teriak Dian dari belakang kemudi nya.
"Ngga usah mbak, ngerepotin." Syifa merasa ngga enak dengan ajakan Dian.
"Ngga, ngga repot kok, ayo naik saja." kembali Dian berteriak dan menyuruh Syifa masuk ke dalam mobil nya.
Tidak ada pilihan lain bagi Syifa selain menuruti kemauan Dian, Syifa mulai melangkah kan kaki nya dan membuka pintu mobil Dian.
"Tin, tin," Syifa yang mau masuk ke dalam mobil seketika menghentikan langkah nya dan melihat ke arah mobil yang ada di depan mobil Dian.
"Syifa maaf aku terlambat, tadi macet di jalan." ucap Ramzi yang sudah turun dari mobil nya.
"Tadi nya saya mau antar Syifa pak." ucap Dian sambil tersenyum, Dian melihat kalau Ramzi dan Syifa saling menyukai, tapi mereka mash menjaga jarak dan menjaga perasaaan nya.
"Makasih ya mbak, tadi saya terjebak macet jadi terlambat jemput nya."
"Iya pak, ya sudah kalau begitu saya pulang duluan, mari pak, Syifa mbak pulang duluan ya." ucap Dian lalu melajukan mobil nya setelah mendapat anggukan dari Ramzi dan Syifa.
__ADS_1
"Ayo." Ramzi membuka kan pintu depan dan membantu Syifa masuk ke dalam mobil nya, setelah di pastikan Syifa duduk dan memakai safety belt nya, Ramzi pun masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Maaf ya Syifa aku terlambat menjemput nya." lagi-lagi Ramzi meminta maaf.
"Ngga apa-apa pak."
"Syifa boleh ngga kalau kita lagi berdua kamu jangan panggil aku bapak, aku kan bukan atasan kamu atau bapak kamu, jadi tolong rubah panggilan kamu biar kita bisa lebih dekat lagi." Ramzi merasa keberatan dengan panggilan formal yang di ucapkan Syifa.
Syifa hanya diam karena dirinya bingung harus memanggil Ramzi dengan panggilan apa, karena dirinya belum terbiasa.
"Kok kamu malah diam, apa kamu merasa keberatan?" tanya Ramzi.
"Em, anu, itu, saya bingung harus memanggil bapak dengan panggilan apa." ucap Syifa dengan tergagap.
"Terserah kamu mau panggil aku apa, sayang juga boleh." ucap Ramzi sambil tersenyum.
Wajah Syifa langsung berubah warna menjadi merah ketika mendengar dirinya harus memanggil dengan panggilan sayang.kepada Ramzi.
Karena Syifa hanya diam, Ramzi juga tidak ingin memaksa karena Ramzi tidak ingin rasa trauma Syifa kambuh akibat paksaan dari nya.
"Kamu punya sakit magh? Kalau begitu makan saja dulu, jangan biarkan perut nya kosong." Syifa keceplosan dengan memanggil Ramzi dengan panggilan kamu bukan bapak lagi.
Ramzi tersenyum mendengar ucapan Syifa yang mengkhawatirkan dirinya.
""Kita makan di sana saja ya, seperti nya enak malam-malam begini makan sate, kamu keberatan tidak kalau kita makan di sana?" tanya Ramzi sambil menunjuk kedai sate yang berada di pinggir jalan.
"Ya sudah di sana saja, saya suka kok makan di tempat seperti itu daripada di restauran." jawab Syifa dengan kembali menggunakan bahasa formal nya.
"Kenapa jadi formal lagi, padahal tadi aku sudah senang di kala kamu menghilangkan bahas formal nya."
Syifa hanya diam, dirinya masih malu untuk meninggalkan bahasa formal nya kepada Ramzi, bagaimana pun juga dirinya baru dekat dengan Ramzi.
"Ya sudah ayo, katanya tadi lapar." Syifa turun setelah Ramzi menghentikan mobil nya.
__ADS_1
Ramzi hanya menghela nafas kasar nya, sungguh sangat susah untuk membuat Syifa cepat menerima nya.
Ramzi turun dan berjalan masuk dengan Syifa kedalam kedai sate tersebut.
"Kamu mau sate ayam apa sate kambing?" tanya Ramzi.
"Sate ayam saja."
Ramzi memesan sate yang di ingin kan mereka lalu duduk saling berhadapan membuat Syifa sering mengalihkan pandangan nya.
Makan berdua seperti ini memang baru di rasakan Syifa, apalagi sama seorang pria, dulu pernah dirinya makan berdua tapi dengan Bima yang masih berstatus suami nya, dan perasaan nya sekarang berbeda dengan dulu.
Dulu mungkin karena dirinya ngga ada perasaan apapun kepada Bima jadi duduk dan makan berdua seperti ini biasa saja, beda dengan sekarang sewaktu dia duduk berdua dengan Ramzi, jantung nya berdetak lebih kencang, hati nya berasa ada kupu-kupu yang sedang berterbangan, sungguh yang di rasakan Syifa duduk makan berdua dengan Ramzi antara malu, senang dan nyaman.
Ramzi tidak henti-henti nya menatap wajah cantik Syifa, walaupun status Syifa pernah menikah tapi di lihat dari pandangan Ramzi Syifa seperti belum pernah menikah sama sekali.
"Cantik sekali kamu Syifa, perasaan aku tidak bisa di bohongi aku sudah menyukai kamu, aku tidak perduli lagi dengan status kamu, aku akan menerima kamu apa adanya." bathin Ramzi.
"Tolong dong pak jangan menatap aku terus, bisa-bisa aku ketahuan lagi senang duduk bersama dia malam ini." bathin Syifa sambil menghindari pandangan dari Ramzi.
Lamunan mereka pun buyar ketika sate pesanan mereka di hidangkan di depan mereka.
"Silahkan di nikmati pak." ucap pelayan sate sambil menata sate nya di atas meja.
"Terima kasih mas."ucap Syifa sambil tersenyum.
Ramzi sangat tidak suka melihat Syifa tersenyum kepada pria yang mengantarkan sate nya.
"Bisa ngga kalau sama pria lain itu jangan tersenyum." ucap Ramzi setelah pria pengantar sate nya pergi.
Syifa terdiam, dia bingung dengan ucapan dari Ramzi, "Kenapa juga aku di larang senyum." bathin Syifa lalu menyantap sate nya..
.
__ADS_1
.