CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Perasaan Aneh


__ADS_3

Rara dan Syifa memesan makanan yang mereka suka, walaupun Rara anak dari yang punya perusahaan, tapi Rara senang berbaur dengan karyawan lain nya, itulah sifat Rara yang di sukai oleh para karyawan lain nya.


Syifa merasa senang berada di kantor Alvin, dia di sambut baik sama para karyawan hingga membuat Syifa nyaman berada di sana.


"Kakak mau makan di sini atau di ruangan mas ALvin?' tanya Rara selagi nunggu pesanan nya.


"Kakak terserah kamu saja dek, tapi biar Avin ada teman nya kita makan di ruangan Avin saja gimana." ucap Syifa.


"Boleh juga." Rara minta semua pesanan nya di bungkus.


*


*


"Baiklah kak, kakak di temani mbak Dian dulu ya sekalian belajar, nanti mbak Dian ngajarin kakak, aku mau menemani mas Alvin untuk bertemu klien." ucap Rara setelah makan siang nya selesai.


"Atau kakak mau ikut dengan kita? Tapi aku takut kakak bosan nanti nya." ucap Alvin.


"Ngga ah kakak tunggu di ruangan Rara saja."


"Ya sudah, kalau gitu aku panggil mbak Dian dulu untuk menemani kakak."


Rara memang sudah menyuruh Dian untuk menemani dan mengajarkan tentang pekerjaan kantor kepada Syifa.


"Mbak aku titip kak Syifa dan tolong sekalian ajarkan dia tentang pekerjaan di kantor." ucap Rara ketika Dian sudah menghampiri nya.


"Baik bu."


"Makasih ya mbak, kalau gitu aku pergi dulu." Alvin dan Rara pergi untuk bertemu klien meninggalkan Syifa dan Dian.


Dian dengan sabar mengajari Syifa tentang pekerjaan kantor sesuai permintaan dari Rara.


"Ra, kamu sudah pulang?" tanya seorang pria sambil membuka pintu ruangan Rara.


Dian dan Syifa yang sedang fokus mengangkat kepalanya melihat ke arah suara.

__ADS_1


"Siang pak Ramzi?" sapa Dian yang sudah mengenal dengan Ramzi.


"Anda?"


"Kamu." ucap mereka berdua sambil saling menunjuk satu sama lain nya.


Syifa menunduk tidak mau bertatapan dengan Ramzi, bagaimana pun Syifa masih sedikit takut untuk dekat dengan seorang pria.


"Dia karyawan baru mbak?" tanya Ramzi kepada Dian.


"Oh ini," Dian tidak melanjutkan kalimat nya karena di potong oleh Syifa.


"Iya, saya karyawan baru." ucap Syifa sambil memberi kode kepada Dian, Syifa ngga mau kalau Ramzi tahu kalau dirinya adik dari Alvin.


"Katanya Rara sudah balik memang nya dia belum masuk kantor?" tanya Ramzi dengan mata nya yang terus menatap Syifa, ada getaran aneh yang Ramzi dan Syifa rasakan di sat mereka beradu pandang.


"Sudah masuk kok pak, tapi lagi bertemu klien di luar bareng pak Alvin, dan saya di suruh mengajarkan pekerjaan kantor kepada bu Syifa." ucap Dian.


"Mbak, panggil Syifa aja, aku berasa tua di panggil ibu." protes Syifa.


Dian ini usia nya memang lebih tua dari Syifa dia sudah berkeluarga dan punya anak dua.


"Oh jadi nama nya Syifa, baiklah Syifa mulai ini aku akan sering main kesini." gumam bathin Ramzi dengan bibir tersenyum.


"Memang nya mbak ngajarin apa? Bagaimana kalau mbak meneruskan pekerjaan mbak, biar Syifa saya yang ajarin." ucap Ramzi sambil memberi kode kepada Dian.


"Tapi pak."


"Mbak percaya kan sama saya?"


Dian bingung, di satu sisi dia yang di tugaskan oleh Rara untuk menemani dan mengajarkan tentang pekerjaan, di satu sisi Ramzi yang dulu nya atasan dia menyuruh nya pergi.


"Urusan ke depan nya urusan saya, mbak tenang aja, aku hanya ingin mengenal lebih jauh tentang Syifa aja kok." bisik Ramzi.


Setelah beberapa menit berpikir Dian pun menyetujui usul Ramzi.

__ADS_1


"Kita tanya Syifa nya aja ya pak, dia mau diajarin sama siapa." ucap Dian.


"Aku diajarin sama mbak Dian saja." Syifa langsung menjawab nya, karena Syifa ngga mau ada di satu ruangan dengan seorang pria yang belum dia kenal.


"Maaf ya pak, Syifa nya mau diajarin sama saya." ucap Dian merasa ngga enak dengan Ramzi.


"Ya sudah kalau memang mau nya Syifa, tapi aku ikut gabung ya, siapa tahu ada yang bisa saya bantu." Ramzi terus berusaha untuk dekat dengan Syifa,


Syifa adalah wanita ke dua yang membuat Ramzi jatuh hati, waktu Ramzi suka sama Rara mungkin lebih ke kagum berbeda dengan Syifa, ada getaran yang ngga bisa diungkapkan jika Ramzi berdekatan dengan Syifa.


"Memang nya anda ngga ada kerjaan, hingga mau ikut gabung sama kita?" tanya Syifa sedikit kesal, tapi entah kenapa, bibir nya ketus tapi hati Syifa merasa nyaman dekat dengan Ramzi, tapi Syifa segera menepis rasa nyaman itu, karena menurut Syifa pria sama saja.


"Oh Syifa tenang saja, saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan saya, jadi jangan khawatir." tanpa di perintahkan Ramzi duduk tepat di depan Syifa, dia memandang wajah cantik Syifa tanpa berkedip.


"Seperti nya pak Ramzi menyukai Syifa, andai pak Ramzi tahu siapa Syifa sebenar nya, apa pak Ramzi masih mau mendekati nya." gumam bathin Dian sambil melirik ke arah Ramzi yang sedang menatap Syifa.


"Sudahlah mbak, ayo kita lanjutkan lagi." ucap Syifa membuyarkan lamunan Dian.


Dian kembali mengajarkan Syifa beberapa hal tentang masalah pekerjaan di kantor tersebut.


"Baru kali ini aku tidak bisa berkedip menatap seorang wanita, padahal sama Rara dulu aku juga menyukai nya, tapi ngga terlalu seperti sekarang, apa aku sudah jatuh hati sama Syifa, Syifa, ah nama yang cantik secantik orang nya." gumam bathin Ramzi.


"Apa sih nih orang dari semenjak dia datang terus aja melihat aku, apa ngga pegel tuh mata." gumam bathin Syifa dengan mata sedikit melirik ke arah Ramzi.


"Nah kan kalau begini pasti Syifa nya ngga bakalan konsentrasi, ampun deh pak Ramzi ini, kenapa juga harus ikut duduk di sini." gumam bathin Dian sambil melirik kedua nya.


"Mbak, seperti nya besok lagi deh, aku ngga bisa konsentrasi sekarang." ucap Syifa.


"Ya sudah kalau memang Syifa ngga bisa konsentrasi, terus kalau belajar selesai, kita mau ngapain? Ibu juga seperti nya belum selesai bertemu klien nya.


Syifa bingung dan kesal sama Ramzi yang tidak mau pergi dari ruangan adik ipar nya.


"Apa anda ada keperluan lain? Kalau ngga ada silahkan pergi dan keluar dari ruangan ini." ucap Syifa sambil menahan getaran aneh di hati nya.


"Tadi nya saya memang ngga ada keperluan, tapi setelah melihat kamu di sini, saya jadi ada keperluan."

__ADS_1


Syifa menatap tajam ke arah mata Ramzi, begitu pun Ramzi yang membalas tatapan dari Syifa.


Dua mata saling menatap, hati mereka sedang bergetar hebat bahkan jantung mereka berdebar lebih kencang dari seperti biasa nya.


__ADS_2