
"Ada perlu apa kalian kemari?" tanya Alvin sambil menatap tajam Leli dan Lina.
"Saya datang kesini mau minta pertanggung jawaban kepada kalian yang sudah membuat suami saya masuk rumah sakit, pasti semua ini kelakuan kamu kan? dasar anak berandal, tidak berguna, untung saja dulu Lina mau mendengarkan omongan saya agar dia tidak menerima kamu sebagai pacar nya, ternyata kelakuan kamu lebih dari seorang preman." ucap Leli dengan ketus.
"Minta tanggung jawab kata kalian? Kenapa saya harus bertanggung jawab, beruntung saya tidak membunuh nya, kalian memang keluarga sombong dan tidak tahu diri, justru yang beruntung di sini adalah saya, saya beruntung tidak menjadi pacar adik anda yang sok kecantikan itu, dan asal anda tahu, seharus nya saya yang meminta pertanggung jawaban kepada suami anda yang sok kaya itu, dia sudah menyiksa fisik dan mental kakak saya sampai-sampai mental kakak saya terganggu." ucap Alvin dengan nada yang sangat tinggi.
"Itu resiko buat wanita pelacur seperti dia." teriak Leli yang ingin puas.
"Andai saja anda bukan seorang wanita, aku sudah menghabisi anda saat ini juga." teriak ALvin dengan tangan yang sudah melayang di atas.
"Nak." bu Salma menggelengkan kepalanya, bu Salma sering menasehati Alvin, semarah apapun kepada wanita, jangan sampai kamu menampar atau memukul nya.
Alvin yang melihat gelengan kepala ibu nya pun menurunkan kembali tangan nya.
"Alvin, maafkan kak Leli ya? kakak lagi emosi saja, sebenar nya kakak itu orang yang baik, tapi semenjak kakak mengetahui kak Bima sudah menikah siri dengan kakak kamu, emosi kak Leli ngga bisa di redam." ucap Lina sambil mengusap tangan Alvin, dia mencoba merayu Alvin agar Alvin mau melihat dirinya kembali.
"Lina, kamu ini apa-apaan sih, jangan gatel kamu jadi perempuan, apalagi sama laki-laki berandal, miskin dan ngga berguna seperti itu." dengan sombong dan angkuh nya Leli berbicara seperti itu di depan Alvin dan ibu nya.
Alvin hanya diam, dan menatap mereka berdua, Alvin ingin tahu sampai mana mereka berbuat semena-mena kepada dirinya dan keluarga nya.
__ADS_1
Dulu Alvin pernah menyatakan perasaan nya kepada Lina, tapi karena kondisi Alvin yang belum seperti sekarang Alvin pun di tolak nya mentah-mentah, bahkan bukan hanya penolakan yang Alvin dapatkan, dia juga di hina di caci dan di maki oleh keluarga Lina.
"Sayang, lihat jam tangan kado dari kamu yang seharga dua ratus lima puluh juta ngga?" Rara sengaja bertanya dengan menyebutkan nominal nya, dia geram mendengar ucapan Leli yang sudah merendahkan suami nya.
Semenjak kedatangan mereka berdua dan sudah menenangkan Syifa, Rara mengintip dari balik pintu, awal nya Rara tidak mau ikut campur dengan mereka, tapi begitu mendengar suami nya di rendahkan emosi Rara naik dan ingin mengerjai mereka.
"Apa! Dua ratus lima puluh juta? Apa aku ngga salah dengar ya kak?" bisik Lina.
"Ngga, kamu ngga salah dengar, kakak juga mendengar nya kok, siapa wanita ini?" ucap Leli sambil menatap Rara dari atas sampai bawah.
"Seperti nya wanita ini bukan wanita biasa, dari penampilan nya saja mewah, kulit nya putih bersih sangat terawat sekali, rambut nya hitam bersinar seperti nya sering ke salon." gumam bathin Leli yang merasa tersaingi oleh Rara.
"Ngga tahu mas, aku takut hilang, mana harga nya mahal lagi." dengan nada manja nya Rara berbicara sama Alvin.
"Siapa sih wanita ini, mana manja lagi." gumam bathin Lina dengan tatapan tidak suka nya.
"Kalau hilang biarkan saja, nanti kita beli lagi yang lebih bagus dan yang lebih mahal lagi, udah jangan sedih gitu." ucap Alvin sambil memeluk dan mencium pipi Rara dengan sangat mesra.
"Beneran sayang, ah makasih sayang nya aku." Rara pun balik mencium Alvin di hadapan bu Salma dan kedua kakak beradik yang tidak punya etika itu, sebenar nya Rara sedikit malu karena harus bersikap manja dan ganjen di depan mertua nya, tapi mau bagaimana lagi, Rara sudah kesal dengan Leli dan Lina.
__ADS_1
"Mampus kalian berdua, kalian salah orang, dan wanita satu itu seperti nya ingin mengambil mas Alvin dari hidup ku, tidak akan aku biarkan mas Alvin di ambil wanita mana pun, aku akan turun tangan langsung bila itu terjadi." gumam bathin Rara sambil melirik ke arah Lina dengan senyum smirk nya.
"Oh, rupanya ada tamu ya mas? Maaf aku ngga melihat nya, kenapa ngga di suruh masuk mas?" Rara pura-pura baru melihat mereka.
"Ngga penting juga sayang, biarkan saja mereka di situ, lagian kedatangan nya juga ngga jelas." jawab Alvin tanpa melihat Leli dan LIna.
"Ngga jelas apa nya, saya datang kesini mau minta pertanggung jawaban dari wanita gila itu." teriak Leli.
"Jaga bicara anda nyonya." teriak Rara yang emosi.
"Apa kamu bilang, kamu panggil aku nyonya? Mata kamu sudah rabun ya? Aku ini masih muda dan seksi, seenak nya saja panggil aku nyonya" teriak Leli yang tidak terima di panggil dengan panggilan nyonya.
Alvin yang mau membela istri nya di tahan oleh istrinya dengan cara memberikan kode dari mata nya, Alvin yang paham dengan lirikan dari Rara pun hanya diam.
"Yang rabun mata anda atau mata saya? Jelas-jelas saya memanggil anda dengan panggilan yang benar, dimana-mana wanita yang sudah menikah apalagi punya anak pasti di panggil nyonya, atau mungkin mau aku panggil dengan panggilan nenek." Alvin dan bu Salma menahan senyum nya mendengar ucapan Rara.
Tangan Leli sudah mengepal, dia sangat marah karena Rara sudah berani menentang dirinya, di kampung ini tidak ada yang berani menentang nya satu orang pun.
"Oh ya, asal kalian berdua tahu, mas Alvin ini mempunyai beberapa perusahaan dan juga mempunyai showroom mobil, apa kalian berdua masih ingin menghina nya? Dan lihat ini, lihat baik-baik sama mata kalian berdua, kalian tahu apa ini? Ups, orang kampungan seperti kalian tidak akan tahu apa ini, lupa saya kalau kalian berdua ini hanya orang kampung yang kekayaan nya masih di bawah rata-rata." sebenar nya ini bukan Rara banget, dia ngga pernah menyombongkan akan harta yang di miliki nya kepada siapa pun, tapi Rara merasa kesal dengan sikap dan tingkah laku Leli dan Lina.
__ADS_1