CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Keputusan Syifa


__ADS_3

Keputusan sudah di tetapkan dengan dilaksanakan nya pernikahan Ramzi dan Syifa di kampung halaman nya.


Alvin sudah mendapatkan kabar dari pak Rohim kalau rumah yang di bangun nya sudah mencapai delapan puluh lima persen, dan ALvin meminta pak Rohim untuk menyelesaikan nya dalam jangka dua minggu ini, karena mereka akan pulang dan akan melangsungkan syukuran rumah nya dan sekalian melangsungkan pernikahan Ramzi dan Syifa, tapi Alvin tidak memberitahukan rencana nya kepada pak Rohim, yang Alvin ucapkan hanya pak Rohim harus menyelesaikan rumah nya, dan untuk perabotan rumah nya Alvin menyuruh orang-orang kepercayaan nya untuk menyiapkan dan langsung mengirimkan ke kampung nya.


Hampir setiap hari Alvin melakukan panggilan video dengan pak Rohim dan juga orang-orang suruhan nya yang mengirim barang-barang buat isi rumah baru nya.


Pak Ramly dan bu Rasti sudah kembali ke kota xxxx setelah memutuskan waktu pernikahan anak angkat nya itu, dan acara pernikahan mereka akan di langsungkan sekitar dua bulan lagi sesuai dengan kesepakatan dengan Alvin.


Ramzi sempat protes dengan waktu dua bulan yang di putuskan ALvin dan pak Ramly, Ramzi ingin nya bulan depan, tapi setelah mendengar alasan dari Alvin yang mengatakan kalau rumah nya belum selesai Ramzi pun akhir nya menerima keputusan mereka berdua.


Setiap hari Ramzi tidak pernah absen untuk mengantar jemput calon istri nya itu, Ramzi ingin Syifa menjadi sekertaris nya, dan hari ini Ramzi akan mengungkapkan nya kepada Alvin dan Rara.


Seperti hari-hari sebelum nya sore ini pun Ramzi mengantar pulang Syifa pulang ke rumah Alvin.


"Tumben mas ikut turun?" tanya Syifa menatap Ramzi yang sedang membuka kan pintu untuk Syifa.


"Mas ada perlu sama Alvin dan Rara." jawab Ramzi sambil mengulurkan tangan dan membantu Syifa turun.


"Oh ya sudah kalau gitu ayo kita masuk." Syifa dan Ramzi masuk dengan tangan yang saling bertautan.


"Belum halal udah mesra aja." teriak Rara yang melihat mereka berdua masuk, sore itu Rara sedang duduk santai di temani Alvin di ruang keluarga.


"Sirik aja lo dek, gimana keponakan nya kakak, baik-baik saja kan dia." ucap Ramzi sambil duduk di depan Alvin dan Rara.


"Anteng kak, tapi katanya dia ingin makan siomay yang ada di taman seberang sana." ucap Rara sambil mengelus perut nya.


"Iya nanti kakak pesan kan lewat online." ucap Ramzi sambil membuka ponsel nya.

__ADS_1


"Tidak kak, aku ingin kakak yang langsung membeli nya." ucap Rara dengan bibir yang sudah cemberut.


"Sudah lah kak, belikan saja sekarang, kalau ngga di turutin nanti keponakan kakak ngences terus." ucap Alvin dengan senyum kemenangan nya, setidak nya sore ini dia bisa istirahat, karena hampir setiap sore ada saja permintaan dari stri nya.


"Ya sudah kakak beli sekarang, sayang kamu ikut ngga?" tanya Ramzi kepada Syifa.


"Ngga mas, aku mau mandi sudah ngga enak badan ku lengket." jawab Syifa.


"Nasib, ayah nya siapa, yang ngidam istri siapa, tapi aku yang bertanggung jawab harus mengabulkan keinginan nya." ucap Ramzi sambil berjalan menuju keluar.


Mereka bertiga hanya tersenyum melihat wajah memelas Ramzi.


*


*


Siomay yang di belikan Ramzi buat Rara pun sudah habis di makan Rara, semenjak dirinya dinyatakan positif, porsi makan Rara nambah dan selalu ingin makan atau nyemil hingga tubuh Rara sekarang sedikit berisi.


"Vin, secara pribadi aku meminta Syifa untuk menjadi sekertaris aku, bagaimana?" Ramzi memulai percakapan nya, dan dia berharap Alvin memberi izin Syifa untuk menjadi sekertaris nya.


"Maksud kakak? Tidak, aku tidak akan mengizinkan nya, kakak ngga lihat apa aku sedang hamil, terus kalau bukan kak Syifa yang menggantikan aku siapa lagi?" ucap Rara.


"Kan ada mbak Dian, dia bisa menggantikan kamu sebagai sekertaris, lagian mbak Dian kan sudah lama juga kerja di situ, jadi dia pasti sudah paham dengan pekerjaan nya." ucap Ramzi.


Syifa dan bu Salma hanya diam mendengarkan perbincangan mereka, Syifa ngga mau ikut komentar karena dirinya juga bingung harus ikut Ramzi calon suami nya atau bersama Alvin adik nya yang sudah membuat dirinya seperti sekarang.


"Begini saja, semua kita serahkan sama kak Syifa karena dia yang akan menjalani nya, tapi kalau pun Syifa memilih untuk menjadi sekertaris kak Ramzi, aku meminta nya nanti setelah kalian berdua menikah." ucap ALvin berusaha bijak.

__ADS_1


"Benar yang Alvin bilang barusan, kita ngga bisa memutuskan, karena semua keputusan ada pada diri Syifa." ucap bu Salma.


"Bagaimana menurut kamu Yang?" tanya Ramzi.


"Untuk saat ini biarkan aku menjadi sekertaris Alvin dulu mas, lagian kita juga belum menikah, aku ngga mau nanti di kantor mas menjadi bahan gunjingan para karyawan lain nya.


"Ya sudah kalau memang itu sudah menjadi keputusan kamu." Ramzi hanya bisa menerima keputusan Syifa, karena Ramzi ngga mau memaksa Syifa yang akhir nya akan membuat Syifa ngga nyaman.


"Nak, ada kabar apa lagi dari pak Rohim?" tanya bu Salma mengalihkan pembicaraan.


"Kata pak Rohim sudah selesai bu, perabotan pun sudah di tata sama bu Lala, sekarang lagi menyelesaikan pintu pagar nya." jawab ALvin.


"Ibu bisa lihat poto nya tidak nak?" bu Salma sangat penasaran sekali dengan rumah nya yang sedang di bangun di kampung nya.


"Tidak bu, aku ingin rumah itu menjadi surprise buat ibu dan kakak nanti nya." jawab ALvin sambil tersenyum.


"Kamu pelit dek, cuma mau lihat poto nya saja kok, atau kalau ngga sini kakak minta no pak Rohim, biar kakak sendiri yang minta ke pak Rohim." ucap Syifa karena sangat penasaran dengan rumah nya di kampung.


"Sekali ngga tetap ngga kak, aku ingin membuat surprise buat kakak dan ibu, kalau aku memperlihatkan nya sekarang ngga surprise lagi nanti nya."


Syifa dan bu Salma hanya diam dan ngga bisa memaksa lagi, mereka berdua sudah ngga sabar ingin segera kembali ke kampung halaman nya.


"Mas semua perabotan nya sudah lengkap kan?" tanya Rara.


"Sudah yang, semua yang kamu pesan sudah di tata sama bu Lala sesuai keinginan kamu." jawab ALvin.


"Jadi Rara sudah tahu dong dengan rumah kita?" tanya Syifa sambil menatap Rara.

__ADS_1


"Sudah kak, kan yang mendekor ruangan nya juga aku, setiap hari aku melakukan panggilan video sama bu Lala dan pak Rohim." jawab Rara dengan senyum mengembang membuat Syifa kesal karena dirinya tidak di perbolehkan melihat rumah mereka di kampung.


__ADS_2