CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Keren dan Tampan


__ADS_3

Pak Rohim di bantu warga sekitar membawa Bima ke rumah sakit, awal nya warga sekitar tidak mau membantu nya, karena mereka benci dengan kelakuan Bima yang suka semena-mena, tapi pak Rohim merayu mereka hingga mereka mau membantu nya.


Bu Lala masih menenangkan bu Salma karena tubuh nya masih gemetar, dia sudah menyaksikan anak nya yang hampir saja membunuh orang.


"Minum dulu mas, tarik nafas lalu buang secara perlahan." Rara memberikan segelas air putih kepada suami nya dan terus berusaha meredam emosi Alvin.


"Avin, maaf, maaf, hik, hik, hik." Syifa kembali menangis ketika melihat adik nya yang lagi emosi.


Alvin menatap Syifa dan dengan perlahan Alvin sudah mulai tenang lalu menghampiri dan memeluk Syifa.


"Maaf kan aku kak, semuanya gara-gara aku." ucap ALvin sambil memeluk Syifa.


Syifa hanya menggeleng kan kepala nya dalam pelukan Alvin.


"Sudah lah mas, ini semua bukan kesalahan siapa-siapa, ini sudah menjadi takdir hidup kalian, mulai sekarang lupakan semuanya, kita fokus untuk membuat kakak kembali pulih dan mengabulkan semua keinginan ayah mas." ucap Rara sambil memeluk Alvin dan Syifa.


Alvin melepas pelukan Syifa lalu memeluk kedua wanita yang ia sayangi, bu Salma yang melihat mereka sedang memeluk satu sama lain nya pun tersenyum.


"Begitu besar kasih sayang mereka, ibu sekarang tenang ya? Alvin juga sudah tenang, semua berkat menantu ibu yang cantik itu." ucap bu Lala sambil mengelus pundak bu Salma.


"Makasih ya bu sudah menemani saya, lagi-lagi saya merepotkan ibu." ucap bu Salma.


"Sama-sama bu, tidak bu tidak merepotkan, selagi saya bisa saya akan membantu ibu." kedua nya tersenyum.


"Makasih sayang, kamu sudah menyadarkan mas." ucap ALvin lalu mencium kening Rara, Rara hanya mengangguk dalam pelukan ALvin.


*

__ADS_1


*


"Apa! Berani-berani nya wanita gila itu membuat suami ku masuk rumah sakit." teriak Leli yang kini mendapat kabar dari seorang warga kalau suami nya masuk rumah sakit.


"Lina, antar mbak ke rumah sakit sekarang." teriak Leli dengan wajah yang sudah di penuhi amarah.


"Ke rumah sakit dulu atau ke rumah perempuan gila dulu mbak? Menurut aku mending kita ke rumah perempuan gila itu dulu deh." seperti biasa Lina selalu menghasut kakak nya.


"Benar juga kata kamu LIn, ya sudah kita ke rumah perempuan gila itu aja dulu, setelah dari sana kita ke rumah sakit."


Sedangkan Syifa kini sedang bercengkerama dengan Rara dan Alvin, mereka sedang membujuk Syifa untuk ikut dengan mereka ke kota.


"Kak, kakak ikut kita ya ke kota? Kakak akan Alvin bawa dokter hebat di sana, Alvin yakin kakak akan sembuh dan seperti biasa lagi." ucap Alvin sambil menggenggam tangan Syifa.


Rara yang melihat Syifa yang hanya diam pun ikut bicara dan membujuk nya, "Kakak tenang saja, kita berdua akan selalu menjaga kakak, di sana nanti kita jalan-jalan, aku akan ajak kakak belanja ke mall, kakak mau ya ikut kita." ucap Rara sambil tersenyum hangat.


Syifa menatap Alvin dan Rara secara bergantian, Syifa melihat senyum tulus dari adik dan adik ipar nya itu membuat dirinya yakin dan mengangguk kan kepala nya.


Bu Salma yang baru pulang dari warung sehabis belanja sayur buat makan mereka tersenyum melihat Syifa yang terlihat tenang dan mau bergabung dengan ALvin dan Rara.


"Ibu dari mana?" tanya Rara sambil menghampiri dan membantu membawakan belanjaan nya.


"Habis belanja sayur nak, tadi ibu bingung harus beli apa buat makan kamu, ibu ngga tahu makanan kesukaan kamu." jawab bu Salma.


"Apa saja bu, pasti aku makan kok." ucap Rara sambil tersenyum.


"Bu, nanti kalian siap-siap ya besok kita berangkat ke kota." ucap ALvin.

__ADS_1


"Besok nak? terus rumah kita gimana?" bu Salma kaget mendengar Alvin mau mengajak nya besok, dia kira masih lama Alvin akan mengajak nya.


"Ibu tenang saja, aku sudah menyuruh pak Rohim untuk mengurus semua nya."


"Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusan kamu, ibu ngikut saja, semoga kakak kamu sembuh ya nak." bu Salma sangat berharap sekali Syifa bisa sembuh seperti sedia kala.


Alvin hanya mengangguk, dia senang ibu dan kakak nya mau ikut ke kota, Alvin berharap Syifa bisa sembuh dan kembali ke semula, masalah pembangunan rumah, Alvin sudah menyerahkan semua nya kepada pak Rohim suami nya bu Lala.


Alvin memberikan sebuah ATM yang isi nya ada sekitar satu milyar untuk pembangunan rumah nya, Alvin juga tidak lupa memberikan sketsa gambar rumah besar idaman nya, dia ingin benar-benar mewujudkan impian ayah nya dan membuat ibu dan kakak nya bahagia.


"Kalau begitu ibu masak dulu, kamu harus tenang sekarang ya nak, kita sudah aman, ada Alvin yang akan menjaga kita berdua." ucap bu Salma sambil mengelus kepala Syifa, Syifa hanya mengangguk kan kepala nya.


Mereka bertiga pun kembali bercengkerama, Rara terus membuat Syifa tersenyum dan nyaman dengan kehadiran nya, Rara yakin dengan membuat nya nyaman dan selalu tersenyum, Syifa akan segera sembuh dan melupakan rasa trauma pada dirinya.


Alvin merasa sangat senang melihat Rara yang menerima keadaan ibu dan kakak nya, sungguh ALvin merasa beruntung menjadikan Rara sebagai istri nya, Alvin tidak menyangka hidup nya akan berubah seperti ini, dirinya berjanji akan selalu membahagiakan Rara dan keluarga nya.


"Hai pelacur, perempuan gila keluar kamu." teriak Leli dengan suara kencang.


Bu Salma, Alvin, Rara dan Syifa kaget dengan teriakan dari seorang perempuan di luar sana, bu Salma yang sedang mencuci sayuran pun menyimpan sayuran nya dan langsung pergi keluar melihat siapa yang sedang berteriak di depan rumah nya.


Rara langsung memeluk erat tubuh Syifa begitu melihat kedua mata Syifa ngga tenang, Rara tidak mau Syifa kembali ngamuk dan menangis histeris.


Sedangkan Alvin, dia langsung berdiri dan membuka pintu nya, Alvin menatap kedua wanita yang sedang berdiri di depan pintu dengan gaya sombong nya.


"Siapa nak?" tanya bu Salma yang kini sudah berdiri di belakang Alvin.


"Mau apa kalan kemari?" tanya Alvin dengan tatapan tajam nya.

__ADS_1


Lina yang melihat penampilan Alvin yang lebih baik dari yang dulu serta wajah Alvin yang semakin tampan sangat terpesona dengan Alvin.


"Inikan Alvin, dia makin tampan dan keren saja, kenapa juga dulu aku tidak menerima nya sebagai pacar aku." gumam bathin Lina sambil terus menatap Alvin dengan tatapan kagum nya.


__ADS_2