CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Emosi Alvin


__ADS_3

Betapa bahagia nya hati Bu Salma melihat Alvin sekarang, tidak sia-sia semua pengorbanan Syifa, Bu Salma memang sedih dengan kondisi Syifa, tapi dirinya juga bahagia melihat Alvin yang sudah sukses seperti sekarang.


"Apa ibu jahat nak, kalau ibu sekarang bahagia?" tanya Bu Salma dengan deraian air mata nya.


"Jahat kenapa memang nya bu?" Rara balik bertanya karena bingung dengan pertanyaan dari bu Salma.


"Ibu bahagia sekali melihat Alvin sekarang yang sudah sukses, tapi melihat kondisi Syifa yang sekarang ibu juga sedih, karena Syifa rela mengorbankan dirinya hanya demi Alvin menuju sukses."


"Ibu ngga jahat, yang jahat itu Alvin bu, Alvin yang sudah menyebabkan kakak seperti sekarang, Alvin janji akan mengembalikan kakak seperti dulu lagi, ibu percaya sama Alvin." ucap Alvin sambil memeluk ibu nya.


"Syifa, keluar kamu dasar orang gila, kau apakan Leli." teriak Bima dengan begitu keras nya sambil menggedor-gedor pintu rumah Bu Salma.


"Bima, mau apa lagi sih dia." Bu Salma menatap Syifa yang sedang ketakutan.


Rara yang melihat tubuh Syifa yang gemetar karena takut langsung memeluk nya, "Tenang kak, ada mas Alvin yang akan melindungi kakak." ucap Rara menenangkan Syifa.


Alvin hendak melangkahkan kaki nya, namun tangan bu Salma menarik tangan ALvin sambil menggeleng.


"Biar ibu yang buka."


Bu Salma menghampiri dan membuka pintu nya, terlihat sudah berdiri sosok Bima di depan pintu dengan kedua tangan yang dia simpan di pinggang nya.


"Mana orang gila itu, bawa keluar, aku akan memberikan pelajaran buat nya, berani-berani nya sudah menyiksa Leli." teriak Bima dengan penuh emosi.


"Kamu jangan kurang ajar ya, anak saya tidak gila, semua itu juga akibat kamu yang sudah menyiksa nya, saya akan melaporkan kamu." bu Salma merasa sakit hati anak perempuan nya di sebut gila oleh Bima, sedangkan yang membuat Syifa menjadi seperti itu semua nya gara-gara Bima.

__ADS_1


"Ha, ha, ha, mau lapor? Silahkan saja, saya tidak takut, punya apa kamu ibu tua mau melaporkan saya, dasar keluarga miskin, sok-sok an mau main lapor? Memang nya lapor itu ngga pakai duit apa, sudah jangan banyak omong kamu ibu tua, sekarang bawa orang gila itu kehadapan saya atau saya yang akan masuk dan menyeret nya."


"Plak," bu Salma menampar pipi Bima dengan keras, sudah habis kesabaran bu Salma selama ini menghadapi sikap Bima, entah keberanian dari mana hingga bu Salma berani menampar Bima, mungkin karena ada Alvin yang kini akan melindungi nya.


"Brengsek kamu ibu tua, berani-beran nya kamu menampar saya." teriak Bima dengan tangan yang sudah melayang mau menampar balik bu Salma, tapi sebelum tangan kekar Bima menyentuh pipi ya bu Salma, sebuah tangan menahan dan mencengkeram nya dengan kuat hingga membuat Bima merasakan sakit di tangan nya.


"Jangan coba-coba menyentuh ibu ku dengan tangan kotor mu ini." ucap Alvin sambil menahan emosi nya, lalu menghempas tangan Bima dengan cukup keras.


"Alvin? Oh rupanya anak ngga tahu diri ini sudah kembali, bagaimana kamu sudah sukses? Kalau begitu kembalikan uang yang saya pinjam sama kakak kamu sebesar lima belas juta." ucap Bima dengan senyum mengejek nya.


"Saya akan mengembalikan uang nya beserta bunga nya sekalian, tapi saya minta kamu kembalikan juga psikis kak Syifa yang sudah kamu hancur kan." ucap Alvin sambil mencengkeram kerah kemeja Bima dengan sedikit mengangkat nya.


"Ha, ha, ha, dia gila karena dia sendiri, dia gila karena kamu ALvin, kamu lah yang sudah membuat nya gila."


"Bugh." satu pukulan melayang ke perut Bima membuat Bima mengaduh menahan rasa sakit hingga terbatuk.


"Bugh." kembali pukulan dari tangan Alvin mengenai tubuh Bima.


"Rasakan ini, ini dari kakak ku yang sudah kamu buat seperti sekarang, bugh." lagi-lagi Alvin memberikan pukulan yang sangat keras.


"Dan ini dari ibu ku yang sudah membuat nya menangis karena kondisi anak nya. "bugh, bugh, bugh."


Alvin terus-terus san melayangkan pukulan demi pukulan hingga Bima mengeluarkan cairan warna merah dari bibir nya.


Bu Salma yang melihat nya ngga bisa menahan Alvin yang sedang marah maka dia pun langsung berlari ke rumah nya bu Lala untuk meminta pertolongan pak Rohim suami bu Lala.

__ADS_1


Sedangkan di dalam Syifa sedang ngamuk begitu mendengar suara Bima, Rara dengan sabar dan penuh kasih sayang terus menenangkan Syifa.


Syifa melempar semua barang-barang yang ada di dekat nya, dia sudah tidak terkendalikan lagi, Rara dengan memberanikan diri memeluk nya dengan erat, hingga Rara terkena pukulan di bagian punggung nya membuat dia mengaduh dan berusaha menahan sakit.


"Aw," teriak Rara sambil memejamkan kedua mata nya menahan rasa sakit di punggung nya.


Syifa tersadar ketika dirinya mendengar teriakan seseorang dan menghentikan amukan nya.


"Maaf, aku jahat, Avin maaf, hik, hik, hik." Syifa pun menangis dan memeluk Rara.


"Ngga apa-apa kak, kakak tenang ya? Kakak sudah aman, ada aku dan mas Alvin yang akan selalu melindungi kakak." dengan penuh kasih dan kelembutan Rara mengusap punggung Syifa hingga membuat Syifa perlahan merasa tenang.


"Bajingan kamu, berani-berani nya membuat kak Syifa seperti ini, dan membuat ibu ku terus-terus san bersedih, ingat mulai saat ini aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti mereka lagi, bugh, bugh, bugh."


Alvin sudah kalap, dirinya terus memukul tubuh Bima sampai Bima terkapar dan tergeletak di atas lantai rumah nya.


Bu Salma, bu Lala dan pak Rohim dengan susah payah melerai Alvin, tapi Alvin seolah-olah tuli dan tidak mau mendengar teriakan mereka bertiga.


"Nak Alvin sudah cukup, nanti nak Alvin di penjara." teriak pak Rohim sambil menarik tangan Alvin, tapi Alvin mengibaskan nya.


"Mati kau bajingan." teriak Alvin dengan kaki yang sudah siap untuk menendang perut Bima yang sudah tidak berdaya.


Bu Salma, bu Lala dan pak Rohim hanya bisa menutup kedua mata mereka, mereka pasrah dengan apa yang akan di lakukan oleh Alvin.


"Tidak." teriak mereka bertiga dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Grep." sebuah pelukan yang sangat erat membuat Alvin menahan kaki nya dan mengembalikan lagi seperti semula.


"Tidak mas, jangan lakukan itu, aku tidak mau melihat kamu tidur di dalam penjara, aku tidak mau tidur sendirian, aku tidak mau anak-anak kita nanti nya mempunyai ayah seorang pembunuh." ucap Rara sambil menangis dengan tangan masih memeluk erat tubuh Alvin dari belakang.


__ADS_2