
Ramzi sudah ngga sabar ingin segera bertemu dengan Syifa, dengan penuh semangat Ramzi selalu menyelesaikan pekerjaan nya.
"Akhir nya selesai juga pekerjaan ku." gumam Ramzi lalu memanggil sekertaris nya.
"Bapak memanggil saya?" tanya Riki sekertaris Ramzi.
Sekertaris Ramzi memang seorang pria, karena dirinya ngga mau lagi mempunyai sekertaris perempuan, karena dia pernah di goda dan hampir saja Ramzi melakukan hal yang fatal yang akan membuat hidup nya hancur, tapi beruntung dia mengetahui niat busuk sekertaris nya dulu yang memasukan obat perangsang ke dalam minuman nya.
"Semua sudah saya kerjakan, dan untuk yang mau bertemu saya atau ada meeting, tolong kamu cansel untuk dua minggu ke depan, saya mau ke kota xxxx." ucap Ramzi kepada Riki.
Orang kantor sudah tahu semua nya dengan rencana pernikahan yang akan Ramzi laksanakan di kampung halaman nya Syifa.
"Baik pak, nanti saya atur ulang semua skejul nya."
"Terima kasih, oh iya apa sudah kamu pesankan tiket yang saya minta?" tanya Ramzi.
"Sudah pak, bapak tinggal berangkat saja." ucap Riki.
"Baiklah kalau begitu saya pulang dulu, ingat kamu urus semua nya dengan baik dan benar." ucap Ramzi sambil memakai kan jas nya.
"Siap pak, semoga acara nya lancar." ucap Riki lalu keluar dari ruangan setelah Ramzi yang keluar duluan dari ruangan nya.
Begitu masuk ke dalam mobil, ponsel Ramzi berdering.
"Jalan pak." ucap Ramzi kepada pak sopir sambil menerima panggilan dari ayah angkat nya.
Ramzi sengaja menyuruh sopir perusahaan mengantar nya ke bandara, pak sopir mulai melajukan mobil nya secara perlahan.
"Halo pah kenapa?" tanya Ramzi setelah menerima panggilan nya
"Nak, kamu kapan berangkat ke kampung halaman nya Syifa?" tanya pak Ramly lewat sambungan telepon nya.
"Ini lagi menuju bandara? Apa papah mau bareng?" ucap Ramzi.
"Ngga nak, papah sehari sebelum kalian menikah baru berangkat, kamu hati-hati ya nak? Sudah tahu kan alamat nya?" tanya pak Ramzi.
"Sudah pah dari Alvin." jawab Ramzi.
"Ya sudah kalau begitu hati-hati, nanti papah nyusul dengan mamah."
__ADS_1
"Iya pah." Ramzi pun memutuskan panggilan nya dan menyimpan kembali ponsel nya kedalam saku jas yang dia pakai.
Tibalah Ramzi di bandara, di pikiran nya dia terus memikirkan Syifa hingga dirinya tanpa sadar menabrak seorang wanita yang sedang berjalan.
"Maaf nona, saya tidak sengaja." ucap Ramzi dengan sopan.
"Ramzi? Kamu Ramzi kan?" tanya wanita itu sambil menunjuk ke arah Ramzi.
"Iya saya Ramzi, anda siapa ya? Tanya Ramzi sambil menatap wanita yang dia tabrak dari atas sampai bawah.
"Kamu ngga ingat sama aku? Aku Kania, teman kuliah kamu dulu." ucap Kania sambil tersenyum.
"Kania? Sekarang kamu berubah ya, kamu lebih cantik sekarang, sampai pangling aku." ucap Ramzi yang baru ingat dengan Kania.
"Kamu bisa saja, kamu mau kemana? Sendirian? Apa dengan istri kamu?" tanya Kania penasaran.
"Aku belum menikah Nia, dan sebentar lagi akan menikah." jawab Ramzi dengan bibir tersenyum.
"Serius? Pasti wanita nya sangat cantik."
"Ya iya lah Nia, kalau jelek mana aku mau."
"Kamu ini, kamu juga sekarang lebih tampan ya dibanding pas kuliah dulu."
"Aku mau ke daerah xxxx, mau cek mini market di sana,
"Berarti tujuan kita sama dong, kalau begitu sekalian antar aku ke alamat ini ya." ucap Ramzi sambil memperlihat kan alamat yang di kirim Alvin lewat chat nya.
"Alamat ini kan alamat mini market yang akan aku kunjungi." ucap Kania.
"Serius? Ah selalu ada keberuntungan dalam hidup ku." Ramzi merasa bahagia sekali, karena dirinya ngga perlu susah-susah untuk mencari alamat rumah nya Alvin.
"Memang nya kamu mau bertemu siapa di daerah xxxx?" tanya Kania penasaran.
"Beberapa hari lagi aku menikah dengan wanita yang aku cintai, dan dia orang sana, kamu jangan lupa nanti datang ya?" ucap Ramzi.
"Beneran? Kalau begitu aku minta no ponsel kamu, kali saja rumah calon istri mu itu ada kamar yang kosong, jadi aku bisa menginap di rumah calon istri kamu."
Ramzi dan Kania pun saling bertukar no ponsel, tidak berapa lama mereka naik ke pesawat karena pesawat sebentar lagi akan berangkat.
__ADS_1
Betapa kaget nya mereka berdua, ternyata tempat duduk mereka bersebelahan.
Kesempatan itu di manfaatkan oleh kedua nya untuk saling bercerita tentang perjalanan hidup mereka.
*
*
Sakit yang Syifa rasakan ketika dirinya di hina seperti itu oleh Bima.
"Sudahlah Syifa, kamu kembali lagi sama aku, kita akan menikah kembali, dan aku pastikan hanya kamu wanita aku satu-satu nya." ucap Bima sambil menarik tangan Syifa.
"Lepaskan saya, sekarang saya sudah ada yang memiliki, dan sebentar lagi kita akan menikah." teriak Syifa sambil berusaha menarik tangan nya dari genggaman tangan Bima.
"Jangan bohong kamu, laki-laki mana yang akan mau menerima kamu yang sudah tidak perawan lagi." Bima emosi karena Syifa menolak nya.
Syifa mulai ketakutan, bayangan dirinya sewaktu di pukul Bima waktu dulu kini melintas kembali di pikiran nya, tubuh nya mulai gemetar dan keringat sudah bercucuran keluar.
"Sekarang kita pergi ke KUA, kita nikah sekarang juga." ucap Bima sambil memaksa Syifa untuk ikut dengan nya.
"Lepaskan calon istri saya." teriak seorang pria yang kini sudah berdiri di belakang Bima.
Bima dan Syifa melihat ke arah suara seseorang yang ada di belakang Bima.
"Siapa kamu, kamu bukan orang sini kan? Jangan coba-coba membohongi saya, saya di sini orang terpandang." ucap Bima sambil menatap tajam ke arah Ramzi.
"Mas Ramzi, tolong aku." ucap Syifa dengan tubuh yang gemetar.
Ramzi yang melihat calon istri nya gemetar ketakutan merasa marah dan langsung melayangkan sebuah pukulan ke wajah Bima.
":Bugh, sudah saya bilang dari tadi kalau dia ini calon istri saya, apa kamu tuli, bugh." kembali Ramzi melayangkan sebuah pukulan yang sangat keras ke wajah Bima, hingga Bima terhuyung dan terjatuh ke tanah.
"Mas, aku takut." teriak Syifa lalu memeluk dan menangis dalam pelukan Ramzi.
"Tenang sayang, kamu sudah aman, kenapa kamu bisa bersama dia." ucap Ramzi sambil membelai lembut punggung Syifa.
Bima yang melihat mereka lagi lengah pun mencoba berdiri, dia melihat ada sebuah balok yang berukuran sedang tergeletak di atas tanah, Bima mengambil nya dan melayangkan ke kepala Ramzi.
"Bugh." rasakan ini bajingan." teriak Bima sambil melayangkan balok tepat di kepala Ramzi.
__ADS_1
"Argh."
"Mas Ramzi." teriak Syifa.