
Acara resepsi pernikahan Alvin dan Rara pun sudah selesai, mereka kini sudah berada di rumah mereka kembali, bukan mereka tidak bisa tidur di hotel, tapi Mereka tidak ingin capek bolak balik dari hotel ke rumah.
Dan atas permintaan pak Ramly mereka semuanya kini ada di rumah besar nya pak Ramly.
Rara yang sudah lelah karena seharian berdiri dan melalu berbagai acara sudah masuk kamar dengan Alvin, mereka sudah beristirahat, begitu pun dengan pak Ramly, bu Rasti dan bu Salma.
Dan menyisakan Ramzi dan Syifa yang masih duduk di ruang keluarga, mereka berdua sebenar nya lelah, tapi mereka enggan untuk berpisah.
"Sayang, terima kasih ya kamu sudah menerima aku, hampir saja jantung aku copot tadi pas kamu mengambil bunga ini." ucap Ramzi sambil menyentuh bunga yang masih setia berada di telinga Syifa.
"Aku yang harus nya berterima kasih sama kamu mas, kamu sudah menerima aku yang berstatus sudah pernah menikah, oh iya tadi kamu bilang kalau kamu sudah mengetahui masa lalu dan statusku, kamu pasti tahu dari Rara ya?" tanya Syifa sambil menatap mata Ramzi.
"Bukan, aku mengetahui semua tentang kamu dari ibu kamu, tapi Rara selalu memberikan semangat dan selalu meyakinkan aku untuk terus mendapatkan kamu." jawab Ramzi sambil tersenyum.
Mereka saling menatap dan dengan sendiri nya wajah mereka saling mendekat, hidung mereka berdua sudah saling menyentuh, di lanjutkan dengan bertemu nya kedua bibir yang kenyal dan menghangatkan.
Syifa memejamkan kedua matanya, Ramzi pun mulai menggerak kan bibir nya dan bermain-main di sana, Syifa yang memang bukan anak polos pun membalas semua pergerakan bibir Ramzi.
Malam ini seakan malam untuk mereka berdua, mereka saling menyalurkan rasa cinta mereka lewat cumbuan hingga Syifa menghentikan nya karena merasa sudah tidak bisa bernafas akibat pergerakan bibir Ramzi.
"Cukup mas, takut nya kita berdua khilaf dan melakukan yang belum mesti nya kita lakukan." ucap Syifa setelah melepaskan ciuman nya.
Ramzi mengerti dengan ucapan Syifa, karena Ramzi merasakan sesuatu di balik celana nya yang sejak tadi sudah bergerak dan terbangun.
"Ya sudah sekarang kamu istirahat ya?" ucap Ramzi dan kembali mencium seluruh wajah Syifa.
"Aku tidur duluan ya mas, selamat malam." entah keberanian dari mana Syifa mencium pipi Ramzi duluan, baru kali ini Ramzi mendapatkan ciuman dari Syifa, biasa nya Ramzi duluan yang mencium Syifa.
Setelah mencium pipi Ramzi, Syifa langsung berlari menuju kamar yang sudah di sediakan oleh bu Rasti.
__ADS_1
Ramzi tersenyum sambil memandang Syifa dengan tangan menyentuh pipi nya.
"Sudah mulai nakal rupanya." gumam Ramzi lalu pergi ke kamar nya setelah Syifa benar-benar masuk ke kamar nya.
Di dalam kamar Syifa ngga bisa tidur, kejadian tadi siang dan yang barusan terjadi terus muncul di pikiran nya.
"Ah, kenapa aku mencium mas Ramzi duluan." gumam Syifa sambil tersenyum.
Syifa terus memikirkan Ramzi, bunga yang dia ambil dari Ramzi dia simpan di atas meja rias, pandangan nya tidak lepas dari jari manis yang sudah melingkar cincin putih dengan permata yang indah, tanpa terasa Syifa pun tertidur dengan bibir yang masih tersenyum.
Seperti hal nya Syifa, Ramzi pun sama, dia ngga bisa tidur, dia terus mengingat apa yang sudah terjadi hari ini hingga dirinya tertidur.
*
*
Pagi hari d rumah nya pak Ramly tidak biasa nya sudah ramai, pelayan pak Ramly masak banyak untuk sarapan pagi ini, untung meja makan yang ada di rumah pak Ramly luas dan cukup untuk banyak orang.
"Pah, mau lama di sini?" tanya Rara.
"Besok papah dan mamah kembali ke sana, perusahaan di sana alhamdulilah sudah banyak kemajuan." jawab pak Ramly.
"Sebentar amat sih pah di sini nya."
"Papah dan mamah kan udah mau sepuluh hari di sini." jawab bu Rasti.
"Nanti bulan depan papah dan mamah kesini lagi pas acara pernikahan Ramzi sama Syifa." ucap pak Ramly sambil menatap Ramzi dan Syifa bergantian.
"Maksud papah?" Ramzi belum paham dengan maksud dari pak Ramly.
__ADS_1
Sedangkan keluarga Alvin hanya diam dan mendengarkan obrolan pak Ramly dengan Ramzi.
"Begini, bu karena saya besok akan kembali lagi ke kota xxxx jadi kita bicarakan saja langsung sekarang untuk pernikahan Ramzi dan Syifa bagaimana?" tanya pak Ramly sambil menatap bu Salma.
"Kalau saya terserah pihak nak Ramzi saja, kalau memang itu yang terbaik, saya akan mengikuti nya, bukan begitu nak?" ucap bu Salma dan bertanya kepada Alvin, mau bagaimana pun juga yang akan menjadi wali Syifa nanti adalah Alvin.
"Iya pah, kalau memang itu yang terbaik kita akan menerima nya, asal jangan sampai kerjaan papah terhambat saja." ucap Alvin.
"Baiklah bagaimana menurut kalian berdua?apa kalian sudah siap untuk melaksanakan pernikahan bulan depan?" tanya pak Ramly sambil menatap Ramzi dan Syifa.
"Maaf, boleh saya bicara?" tanya Syifa dengan sopan, dirinya memang ingin mengatakan sesuatu kepada mereka semua nya.
Ramzi menatap dengan tatapan penasaran nya, "Jangan bilang kamu belum siap sayang, aku sudah ngga mau menunggu lagi, karena aku sudah merasa siap banget." bathin Ramzi.
"Silahkan nak, ungkap kan saja semua yang ada pada kamu, jangan di tahan dan jangan merasa ngga enak." ucap pak Ramly.
Semua mata kini menatap kepada Syifa, mereka semua penasaran dengan apa yang akan di ungkapkan oleh Syifa.
"Saya memang tidak keberatan untuk menikah kapan pun, tapi yang saya inginkan di kala saya menikah saya ingin di kampung halaman saya, bagaimana pun saya dari kecil tinggal di sana, dan sebelum saya menikah saya ingin mengunjungi makam mendiang ayah saya." ucap Syifa dengan wajah penuh harap.
Semua saling menatap satu sama lain nya, mereka ngga menyangka kalau Syifa ingin melaksanakan pernikahan nya di kampung halaman nya, di mana di kampung itu sudah membuat hidup nya hancur dan menoreh kan luka yang dalam.
"Mas, bagaimana ini, aku takut trauma nya kakak kambuh lagi, pasti mantan suami nya yang brengsek itu hadir, aku takut dia mengganggu kakak lagi." bisik Rara.
"Kamu tenang sayang, aku yakin kakak sudah memikirkan semua ini matang-matang."
"Kenapa kamu memilih di sana sih sayang, apa kamu ingin bertemu sama mantan kamu yang brengsek itu." bathin Ramzi sambil menatap kesal kepada Syifa.
"Apa kamu sudah siap nak menghadapi orang-orang kampung terutama mantan suami kamu yang brengsek itu." batin bu Salma.
__ADS_1
Semua nya sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.