
Syifa merenung di kamar nya, entah kenapa dia sedikit memikirkan Ramzi, dia heran kenapa dia sepert ini, mungkin karena tekad dia yang ingin mengubur masa lalu dan menghilangkan rasa trauma nya, sekilas bayangan Ramzi yang sedang memeluk pinggang nya waktu di apotek muncul di benak nya, membuat bibir Syifa sedikit tersenyum.
"Kenapa aku jadi memikirkan pak Ramzi terus, sadar Syifa dia itu siapa dan kamu siapa, kamu juga harus ingat status mu apa." Syifa ngga ingin berlarut-larut memikirkan Ramzi, dia pun memilih pergi menemui bi Mumun.
Sedangkan Ramzi setelah mendapat ceramah dari Rara dirinya kini termenung mencerna semua yang di ucapkan oleh Rara, sambil menatap poto Syifa hasil secreenshot nya tadi malam.
Tersungging sebuah senyuman di bibir nya d kala Ramzi mengingat ucapan Syifa yang membangun kan nya tadi pagi.
"Benar kata kamu Ra, apalah arti sebuah status kalau dia sudah bikin aku nyaman dan jatuh hati pada nya." gumam Ramzi.
Ramzi bangkit dari duduk nya lalu menghampiri mobil nya dan pergi meniggalkan pantai tempat pavorite nya.
"Dasar laki-laki payah, apa sih artinya status buat para laki-laki, percuma perempuan yang masih di segel kalau dia nya tidak mencintai dengan tulus." gumam Rara sambil melempar ponsel nya ke atas kasur.
"Kamu kenapa sayang? Kok cemberut seperti itu?"
"Sayang, aku kangen." teriak Rara dengan kedua tangan nya di rentangkan.
Alvin yang baru pulang kerja tersenyum melihat tingkah aneh Rara hari ini dan langsung memeluk dan mencium kening Rara.
"Tumben istri mas yang cantik dan imut ini kangen sama mas." ucap Alvin sambil mencubit hidung bangir Rara.
"Memang nya ngga boleh, aku kangen juga sama suami aku sendiri kok, ya udah kalau ngga mau di kangenin sana pergi."Rara melepas pelukan nya dengan wajah kesal nya.
"Bukan begitu sayang, mas senang banget kalau kamu kangenin sumpah, cuma kan ini pertama kali kamu bilang seperti itu dari semenjak kita nikah, bahkan dari semenjak kita bertemu, udah jangan cemberut kalau cemberut seperti itu jelek."
"Oh jadi aku ini jelek ya? Terus yang cantik siapa? jangan bilang ada wanita lain ya mas." entah kenapa mood Rara cepat berubah-ubah.
"Ngga sayang, bukan maksud mas kamu jelek, coba kamu tersenyum pasti sangat cantik sekali, istri mas ini ngga ada dua nya, di hati mas hanya ada istri mas yang cantik dan imut ini, setiap hari nya mas semakin cinta sama kamu Yang." Alvin terus membujuk Rara sedemikian rupa dan sebisa dia.
"Ada apa dnegan kamu sayang, kok hari ini kamu berbeda sekali, kamu cepat marah tapi kamu juga cepat tersenyum." bathin Alvin.
__ADS_1
"Badan kamu sudah enakan sayang?" tanya Alvin dengan tangan yang dia tempelkan di kening Rara.
"Udah mas, mas tumben pulang masih siang, memang nya kerjaan kantor sudah selesai?" tanya Rara sambil melepaskan pelukan Alvin.
"Sudah sayang, tadinya mas mau ke showroom dulu tapi mas ingat kamu jadi mas langsung pulang aja." jawab Alvin.
Rara tersenyum mendengar ucapan dari suami nya, dirinya merasa sangat di prioritaskan oleh Alvin.
*
*
Pagi hari Rara sengaja bangun duluan, dengan perlahan Rara melepaskan tangan Alvin yang sedang memeluk nya, semalam tidak ada ritual apapun yang mereka lakukan, karena Alvin tdak mau kondisi Rara kembali sakit.
Dengan susah payah Rara melepaskan diri dari pelukan suami nya, setelah terlepas Rara langsung pergi ke kamar mandi dengan sebuah tespack di tangan nya.
Dengan harap-harap cemas Rara menunggu tespack itu bekerja, selang beberapa menit dengan mata terpejam Rara mengambil tespack nya.
"Sayang, kamu di kamar mandi ya? Kok di kunci sih." terak Alvin sambil mengetuk pintu kamar mand.
"Iya mas, tunggu sebentar." jawab Rara lalu mencuci muka nya membersihkan air mata yang sempat keluar tadi.
Perlahan Rara membuka pintu, dan nampaklah Alvin yang sedang berdiri menatap nya.
"Mas, aku kira kamu belum bangu."
"Kenapa pintu nya di kunci? Biasanya juga ngga."
"Mas, ada sesuatu untuk kamu." Rara mengabaikan pertanyaan Alvin.
"Apa? Lebih baik jangan dulu sayang, aku takut kamu sakit lagi seperti kemarin."
__ADS_1
"Maksud mas apa? Mas kenapa berpikiran nya kesana-mana?"
"Ya terus pagi-pagi seperti ini apa yang akan kamu kasih, kalau bukan mandi keringat, jangan-jangan kamu sudah mempersiapkan untuk ritual kita di dalam lagi." ucap Alvin sambil melihat ke dalam kamar mandi.
"Ya ampun mas, pikiran kamu itu kesana melulu, pokok nya pagi ini aku ingin memberikan sesuatu sama mas, sekarang pejamkan mata mas."
Walau sebenar nya Alvin masih bingung dengan Rara, tapi dirinya menuruti apa yang di inginkan istri nya, karena kalau ngga di turuiti Alvin takut Rara marah.
"Jangan ngintip ya mas." Rara meraih tangan Alvin lalu meletakan tespack di tangan Alvin.
Avin meraba sesuatu yang Rara kasih, "Apa ini Yang?" tanya Alvin dengan mata yang masih terpejam.
"Sekarang mas boleh membuka mata nya." ucap Rara sambil tersenyum manis.
Dengan perlahan kedua mata Alvin terbuka, Alvin menatap kearah tespack yang ada di tangan nya yang sudah ada garis dua berwarna merah yang tertera di sana.
"Sayang, kamu." teriak Alvin dengan perasaan yang sangat bahagia sekali, ini yang Alvin harapkan dari awal menikah, tapi Alvin tidak mengungkapkan nya karena takut jadi beban untuk Rara.
"Iya mas, aku hamil, sebentar lagi kamu akan di panggil papah." ucap Rara sambil tersenyum.
Alvin langsung memeluk Rara dengan erat, "Terima kasih sayang, ini hadiah terindah di pagi ini yang aku dapatkan." ucap Alvin lalu mencium seluruh wajah Rara. tidak terasa air mata nya jatuh, dia ingat kepada mendiang ayah nya.
"Ayah, aku sekarang sudah mau jadi seorang ayah, ayah dulu pasti bahagia ketika ayah mengetahui aku dan kakak tumbuh di rahim ibu." bathin Alvin.
"Mas, kenapa mas menangis?" tanya Rara setelah melepaskan pelukan nya.
"Aku bahagia sayang, aku akan menjadi seorang ayah, mulai sekarang kamu ngga boleh masuk kerja lagi, kamu harus diam di rumah jaga anak kita." ucap Alvin yang tidak mau Rara capek.
"Tapi mas."
"Tidak ada tapi-tapian, aku tidak mau kamu kecapekan, mulai sekarang kamu jangan melakukan apa-apa, biar bibi dan ibu yang melakukan nya, dan untuk posisi kamu biar kak Syifa yang gantikan, dnegan perlahan mas dan mbak Dian akan mengajari nya.
__ADS_1