
"Nak, apa kalian sudah selesai makan rujak nya?" tanya bu Salma sambil masuk ke kamar Rara.
"Sudah bu, ini rujak terenak yang pernah aku makan, makasih ya bu." ucap Rara.
"Muka kamu merah nak, sedangkan muka adek kamu biasa saja, kenapa?"
"Aku kepedesan bu." jawab Syifa sambil mengibas-ngibas kan tangan nya.
"Kirain kenapa, oh iya nak Ramzi sudah pulang tadi ada telepon dari kantor nya." ucap bu Salma..
"Katanya tadi ngga akan ke kantor, dan akan menghabiskan waktu sama aku, katanya tadi mau mengenal aku lebih dekat lagi, tapi sekarang malah pergi." bathin Syifa.
"Kamu kenapa melamun nak?"tanya bu Salma yang melihat Syifa hanya berdiam diri.
"Ngga apa-apa bu, aku kepedasan, ya sudah aku mau ngambil minum dulu." Syifa melangkah pergi meninggalkan ibu dan Rara.
"Bu, sebenar nya ada apa dengan kak Ramzi, ngga mungkin kak Ramzi pulang tanpa pamit dulu sama aku." Rara tidak percaya dengan alasan yang Ramzi bilang kepada bu Salma, karena selama dia mengenal Ramzi, Rara tahu kebiasaan Ramzi yang selalu pamit atau minta izin dulu kemana pun dia pergi.
"Ibu juga ngga tahu nak, tapi tadi Ramzi bertanya tentang Syifa sama ibu."
"Terus ibu bilang apa ke kak Ramzi?"
"Ya ibu bilang sejujur nya, tidak lama ibu habis cerita nak Ramzi pamit."
Rara terdiam dan berpikir kalau Ramzi pergi karena sudah mendengar status Syifa.
"Apa kak Ramzi akan mundur setelah mengetahui status kak Syifa?" bathin Rara menduga-duga."
"Oh iya nak, besok pagi sehabis bangun tidur kamu tes air seni kamu pakai ini ya." ucap bu Salma sambil memberikan tespack nya.
__ADS_1
Rara menerima tespack dengan wajah bingung nya.
"Coba saja ya nak, karena melihat dari gejala hari ini seperti nya kamu sedang ngidam." ucap bu Salma sambil tersenyum.
"Baiklah bu besok pagi aku akan mencoba nya, tapi ibu jangan terlalu berharap dulu ya, takut nya ini hanya masuk angin saja." ucap Rara yang ngga ingin membuat ibu mertua nya kecewa.
"Iya nak, baiklah kalau begitu ibu mau ke belakang dulu mau menyiapkan makan siang buat kamu."
"Ngga usah bu, nanti aku ke bawah, aku sudah enakan kok."
Rara menatap tespack di tangan nya sambil tersenyum, lalu menyimpan nya di bawah laci, Rara ingin memberikan kejutan buat suami nya besok.
Ponsel Rara berdering dan ternyata dari kedua orang tua nya, Rara belum mengatakan apa-apa, Rara hanya bilang kalau dia lagi ngga enak badan jadi ngga bisa datang ke rumah orang tua nya, dan Rara menyerahkan semuanya kepada ibu nya.
Baru juga Rara memutuskan panggilan nya dengan sang ibu, ponsel nya kembali berdering dan yang menghubungi nya sekarang adalah Alvin suami nya.
"Iya mas."
"Udah kok mas, udah segeran, kamu sudah selesai meeting nya?" Rara sengaja ngga bilang baru selesai makan rujak, karena Rara ngga mau Alvin langsung curiga dengan keadaan nya.
"Udah ini baru selesai, tapi maafkan mas ya sayang, mas belum bisa pulang sekarang soalnya masih ada kerjaan, tapi akan mas usahakan pulang nya ngga terlalu malam kok."
"Ngga apa-apa mas, aku juga udah enakan kok."
Karena Alvin tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Rara, Alvin langsung mengubah penggilan ke mode video.
*
*
__ADS_1
Semilir angin pantai menerpa tubuh Ramzi, pantai lah tempat Ramzi dari dulu kalau dirinya sedang banyak masalah atau lagi ada yang di pikirkan.
"Kenapa aku harus lari? Kenapa aku harus menjauhi Syifa? Kenapa begitu aku mau membuka hati pada wanita lagi aku malah kecewa? kenapa aku harus kecewa begitu mendengar kalau Syifa sudah pernah menikah, sedangkan Syifa saja belum tentu mau menerima aku, ayo lah Ramzi apalah arti sebuah status." gumam Ramzi sambil melihat hamparan luas nya lautan, ombak yang menggulung menjadi pemandangan nya saat ini.
Selagi Ramzi bergelut dengan segala pemikiran nya, terdengar suara ponsel nya berdering, Ramzi melihat layar ponsel nya dan tertera nama Rara di sana.
"Ya dek." ucap Ramzi setelah menerima panggilan dari Rara.
"Kak, kakak di mana? Aku yakin kakak ngga balik ke kantor, itu hanya alasan saja kan?" tanya Rara dengan berbagai pertanyaan.
Ramzi hanya diam tidak menjawab semua pertanyaan dari Rara, karena siapa pun ngga ada yang tahu tempat Ramzi kalau sedang gelisah atau di terpa masalah.
Rara yang penasaran langsung mengubah panggilan ke mode video, Ramzi bingung antara menerima nya atau tidak.
"Alihkan kak, kalau tidak aku tidak mau bicara sama kakak lagi." Rara mengancam Ramzi karena Ramzi tidak mau mengalihkan mode panggilan nya.
Dengan pasrah Ramzi mengalihkan panggilan nya, karena dirinya tidak mau sampai Rara marah dan ngga mau bicara lagi dengan nya.
Dulu Ramzi pernah satu kali kena marah Rara ketika Ramzi berbohong, Rara sampai berbulan-bulan tidak mau mengajak nya bicara, dan itu membuat dada Ramzi sesak, karena waktu dulu Ramzi sangat menyukai Rara bukan sebagai adik.
"Kak, kakak lagi di pantai?" teriak Rara dengan antusias.
"Iya dek, kakak lagi menenangkan pikiran." jawab Ramzi dengan terus memperlihat kan air laut, dia ngga mau melihat kan wajah sedih nya kepada Rara.
"Sekarang jelaskan sama aku, kenapa kakak pergi tanpa pamit sama aku?"
"Kakak." hanya itu yang keluar dari bibir Ramzi.
"Apa karena kakak sudah mengetahui semua cerita kak Syifa?" lagi-lagi Ramzi hanya diam membisu.
__ADS_1
"Apa karena status kak Syifa yang sudah pernah menikah? memang ada yang salah dengan wanita yang pernah menikah? Apa itu yang membuat kakak pergi? Kakak sadar ngga? Kakak itu belum jadian sama kak Syifa, kak Syifa bukan siapa-siapa kakak, jadi ngapain kakak harus pergi, lagian apa kakak tahu kalau kak Syifa menyukai kakak? Belum tentu juga kak Syifa menyukai kakak, dengar ya kak Ramzi, kakak jangan langsung memutuskan sesuatu hal yang belum pasti, jalani saja dulu, mencoba berteman saja dulu, sekalian kakak membantu kak Syifa sembuh dari trauma nya, lagian kak Syifa juga ngga akan langsung mau menerima seorang pria yang baru di kenal nya, apalagi kak Syifa mempunyai masa lalu yang buruk, untuk melupakan masa lalu yang buruk itu tidak mudah, butuh perjuangan dan semangat dari orang sekitar terutama orang-orang terdekat, kalau sikap kakak seperti ini terus jujur aku sangat tidak suka." rara langsung mematikan ponsel nya.