
Sebenar nya Rara sedikit khawatir membiarkan Syifa pergi ke toilet sendirian, secara Syifa belum benar-benar sembuh dari rasa trauma nya.
"Sudah lah sayang, biarkan kak Syifa sendirian, lagian toilet nya juga kelihatan dari sini." ucap Alvin sambil menatap punggung Syifa.
Rara kembali fokus melihat-lihat ponsel yang di berikan pelayan counter.
Sementara Syifa sengaja ingin pergi ke toilet sendirian, dia ingin membuktikan kepada diri nya sendiri kalau dia bisa dan mampu, dengan sedikit gemetar Syifa bejalan dan masuk ke dalam toilet perempuan.
Keringat dari kening mulai keluar karena Syifa sudah menahan rasa trauma nya, Syifa menghembuskan nafas nya lalu mencuci tangan dan muka nya.
Dirasa sudah selesai dengan urusan di toilet nya, Syifa keluar dan mulai melangkah kan kaki untuk menghampiri Alvin dan Rara.
Tapi baru beberapa langkah dirinya keluar dari toilet tiba-tiba ada seorang pria yang baru keluar dari toilet pria.
Karena Syifa yang berjalan menunduk dan pria itu juga sambil melihat ponsel nya, akhir nya mereka pun bertabrakan dan membuat ponsel pria itu jatuh ke lantai.
"Maaf, saya tidak sengaja." ucap Syifa dengan tubuh yang mulai gemetar, semenjak dirinya di perlakukan kasar oleh Bima, Syifa trauma untuk mengenal dan dekat dengan pria lagi.
"Ngga apa-apa, ini juga salah saya yang berjalan tanpa melihat jalan." ucap Ramzi sambil mengambil ponsel nya.
Sore itu Ramzi ada di mall tersebut lagi bertemu dengan klien nya.
"Kalau begitu saya permisi, dan sekali lagi saya minta maaf." ucap Syifa dan langsung pergi dengan langkah setengah berlari meninggalkan Ramzi yang sedang menatap nya.
"Cantik." gumam Ramzi lalu menerima panggilan telepon nya yang sejak kepergian Syifa berdering terus.
Dengan nafas sedikit terengah-engah serta keringat yang keluar dari kening nya Syifa sampai ke depan Rara dan Alvin yang sedang melakukan pembayaran ponsel nya.
"Kakak, kakak kenapa? Ada apa?" tanya Rara khawatir dengan keadaan kakak ipar nya.
"Tadi ada pria yang menabrak kakak." jawab Syifa sambil mengatur nafas nya.
"Tapi kakak ngga diapa-apain kan?" tanya Alvin dengan nada khawatir nya, Syifa hanya menggeleng.
__ADS_1
Rara dengan sigap memberikan air mineral yang di suguhkan oleh pihak counter kepada Syifa.
"Minum dulu kak." Syifa mengambil dan menenggak nya hingga habis.
Selagi nunggu Syifa siap bercerita, Rara mengusap keringat yang keluar dari kening Syifa dengan tisu.
"Apa kakak bersedia untuk menceritakan nya?" tanya Rara dengan lembut.
Syifa ingat dengan pesan dari dokter yang menangani nya, kalau dirinya harus selalu terbuka dan jangan ada yang di tutupi lagi dari siapa pun.
Setelah dirinya tenang, Syifa mulai bercerita dari semenjak dirinya keluar dari toilet hingga dia berada di depan Alvin dan Rara.
Rara dan Alvin menghela nafas lega setelah mendengar cerita dari Syifa.
"Syukurlah, aku kira kakak diapa-apain." ucap Rara sambil menghela nafas lega nya, begitu pun juga Alvin, Alvin sudah siap untuk melihat rekaman cctv kalau misalkan terjadi sesuatu sama kakak nya.
"Ya sudah sekarang kita pulang, lagian juga sudah mau malam, besok kita harus ke rumah sakit lagi, dan ini untuk kakak." Rara memberikan satu paper bag kepada Syifa.
"Nanti di rumah aku akan ajarin kakak cara menggunakan nya."
Alvin tersenyum melihat kebersamaan kakak dan istri nya.
*
*
Kini mereka sudah sampai di depan rumah, mereka bertiga turun lalu masuk ke dalam rumah nya.
Bu Salma sedang berbincang di ruang keluarga dengan bi Mumun melihat ke arah pintu masuk.
"Syifa? Itu kamu nak?" tanya bu Salma sambil menatap Syifa dari atas sampai bawah, bu Salma sanget kaget dengan perubahan Syifa hari ini, begitupun juga bi Mumun, bi Mumun sampai tidak berkedip menatap Syifa yang sangat berbeda sekali dengan tadi pagi.
"Non Syifa? Cantik sekali non." ucap bi Mumun.
__ADS_1
"Kak Syifa cantik kan bu, pokok nya mulai sekarang kak Syifa akan menjadi kak Syifa yang baru, kak Syifa yang cantik, kuat dan juga elegan." ucap Rara dengan semangat.
"Terima kasih nak." bu Salma langsung memeluk Rara sambil menitik kan air mata nya, bu Salma tidak menyangka hidup nya akan seperti sekarang, bu Salma sangat bersyukur mempunyai seorang menantu seperti Rara.
"Apa kalian keluarga yang selalu terus menerus mengucapkan terima kasih? Sudah lah bu ngga usah berterima kasih sama aku, ini semua juga sudah menjadi kewajiban aku, kewajiban kita bersama sebagai keluarga, ibu jangan mengeluarkan air mata lagi, mulai sekarang kita harus selalu tersenyum bahagia." mereka berempat pun berpelukan.
Bi Mumun hanya tersenyum sambil menitik kan air matanya, dia ikut bahagia dengan kebahagiaan mereka.
"Bibi mau ikutan juga? Ayo sini bi, biar kita lengkap menjadi teletubies nya." Rara selalu membuat orang sekitar tersenyum.
Sedangkan di sebuah kamar, Ramzi terbaring sambil menatap langit-langit kamar nya, dia masih terbayang dengan wajah Syifa yang dia tabrak di mall tadi sore.
"Cantik sekali gadis itu, kenapa aku tadi tidak meminta no ponsel nya ya? Ah kamu bodoh Ramzi, dia wanita kedua yang sudah membuat hatiku bergetar, sekarang aku mau membuka hati lagi, aku tahu kalau Rara sudah ngga mungkin menjadi milikku, dia sudah bahagia dengan Alvin, oh iya Rara sudah balik belum ya dari kampung Alvin? Anak itu benar-benar ya, semenjak menikah dengan Alvin sudah jarang lagi menghubungi aku.," gumam Ramzi sambil meraih ponsel nya.
Ramzi mencari kontak Rara dan langsung menghubungi nya, tapi beberapa kali Ramzi menghubungi Rara, tidak ada jawaban sama sekali dari Rara.
"Mungkin dia sudah istirahat." gumam Ramzi lalu menyimpan kembali ponsel nya.
Sedangkan Rara yang di hubungi Ramzi sedang sibuk mengajarkan Syifa menggunakan ponsel baru nya.
"Gimana kak, udah ngerti kan? Dan kalau kakak mau menghubungi aku atau mas Alvin, no nya sudah aku save, coba sekarang kakak hubungi no aku."
Syifa pun memulai panggilan nya, "Sudah bisa dek." ucap Syifa dengan senyuman nya.
"Pokok nya kakak pelajari lagi nanti, kalau misalkan ada yang ngga mengerti kakak tanyakan saja langsung sama aku."
"Baiklah dek, kalau gitu kakak masuk kamar duluan." Syifa pergi ke kamar nya, sedangkan bu Salma sudah dari tadi masuk dan istirahat.
Alvin tersenyum sambil menatap Rara, Alvin sudah dengan sabar menunggu istri nya yang sedang mengajari kakak nya.
"Apa mas senyum-senyum?" tanya Rara pura-pura ngga tahu.
"Jangan banyak bertanya, sekarang aku mau nagih pembayaran beli ponsel tadi." ucap Alvin sambil menggendong Rara ke kamar nya.
__ADS_1