
Jantung bu Salma dan jantung Syifa berdetak kencang, sekilas bayangan wajah suami nya muncul di benak bu Salma.
"Yah, Alvin sudah memenuhi keinginan kamu, kamu bahagia di sana ya yah, dan restuilah Syifa dan nak Ramzi, mereka sebentar lagi akan menikah di rumah ini, rumah yang kamu cita-cita kan." bathin bu Salma sambil menitikkan air mata nya.
Bu Lala dan bu Ema dengan perlahan membuka ikat sapu tangan yang menutupi kedua mata mereka.
Mereka berdua mengerjap kan kedua mata mereka, nampak sebuah rumah besar dan megah bak sebuah istana ada di hadapan nya, sekarang di kampung itu rumah yang paling besar dan megah adalah rumah keluarga bu Salma.
Bu Salma dan Syifa berpelukan dan menangis melihat rumah mereka yang bak istana itu, lalu mereka berdua memeluk Alvin dan menangis dalam pelukan Alvin.
"Nak, terima kasih sudah mewujudkan keinginan ayah kamu, terima kasih sudah mau berjuang untuk semua ini." ucap bu Salma lalu mencium seluruh wajah Alvin.
"Dek, makasih sudah berjuang untuk semua ini, terima kasih sudah mau berjuang untuk membahagiakan kita semua." ucap Syifa dengan deraian air mata.
"Kak, ini semua berkat kakak, kakak yang paling berjuang di sini, kakak mengorbankan masa depan kakak, kakak rela hidup menderita sampai kakak depresi hingga sama orang-orang kakak di kucilkan, dan ini juga pengorbanan ibu, ibu yang sudah menjaga kita berdua dari kecil hingga sekarang, bahkan ibu dengan sabar menjaga kakak walau kondisi kakak ada di level terbawah." ucap Alvin yang ikut menitikkan air mata nya.
"Semua ini berkat perjuangan kalian semua, tanpa kalian saling bahu membahu ini semua tidak akan terlaksana." ucap Rara yang sedari tadi hanya menatap mereka bertiga dan ikut menitik kan air mata nya.
Alvin memberikan kode agar Rara masuk ke dalam pelukan nya, Rara yang mengerti pun masuk ke dalam pelukan Alvin, mereka berempat menangis mengeluarkan air mata kebahagiaan.
Semua orang yang berada di rumah Alvin ikut menitik kan air mata nya termasuk pak Anwar dan pak Rohim, mereka sangat terharu dengan keluarga bu Salma, apalagi tahu perjuangan mereka dari awal.
"Kalian bertiga adalah wanita yang aku sayangi, ayo sekarang kita melihat ke dalam nya." ucap Alvin setelah melepaskan pelukan nya dan mencium kening ke tiga wanita yang sangat ia sayangi.
Mereka tersenyum sambil mengusap air mata nya lalu menatap rumah nya kembali dan melangkah masuk ke dalam.
"Selamat datang di rumah baru nya bu Salma." ucap bu Lala dan yang lain nya sambil menjabat tangan dan memeluk nya satu persatu.
"Terima kasih semua nya, tanpa bantuan dari kalian semua ini juga tidak akan terwujud." ucap bu Salma sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
Dari dulu bu Salma memang ramah pada semua orang, bahkan dirinya ngga pernah menaruh dendam pada orang yang sudah membuat diri nya sakit hati.
"Bu, maafkan saya mungkin dulu ada perkataan saya yang membuat ibu sakit hati." ucap bu Lilis.
"Ngga apa-apa bu, saya sudah memaafkan nya kok, tenang saja." ucap bu Salma sambil tersenyum.
"Nak, kamu sangat cantik sekali, alhamdulilah sekarang kamu sudah sembuh." ucap bu Lala sambil memeluk Syifa.
"Terma kasih bu, dari dulu ibu selalu membantu keluarga saya." ucap Syifa sambil tersenyum, bu Lala hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu wanita tercantik di kampung kita, awas ya nak banyak buaya yang mendekati kamu." ucap bu Ema, mereka semua nya tersenyum.
"Ya sudah ayo sekarang kita masuk, kita lihat dalam nya." ajak Alvin.
Mereka semua masuk ke dalam rumah megah itu, bu Salma dan Syifa tak henti-henti nya menitik kan air mata, mereka berkeliling sampai ke lantai tiga, ruangan yang luas dan kamar ada beberapa hingga bisa menampung banyak orang.
"Biar ngga berebut nanti nya bu, kan nanti akan banyak cucu ibu di sini." jawab ALvin.
Bu Salma tersenyum, memang benar apa yang diucapkan oleh Alvin, bu Salma dan Syifa terus menatap kagum dekorasi rumah nya.
"Sayang aku lapar." rengek Rara dengan manja.
"Ya ampun ibu sampai lupa kalau Rara sekarang ngga kuat lapar, ayo nak kita ke ruang makan, kata bu Lala mereka udah masak." ucap bu Salma.
Mereka kembali turun dengan menggunakan lift, Alvin sengaja menyuruh pak Rohim memasang lift karena untuk memudahkan mereka terutama istri nya yang sedang mengandung.
"Bu Salma semua nya sudah kita siapkan, kalian semua nya pasti lapar." ucap bu Lala.
"Iya bu Lala, kita akan mencicipi masakan kalian semua nya, terima kasih banyak semua nya sudah mau menjamu saya sekeluarga." ucap bu Salma lalu duduk di meja makan yang besar dan luas itu.
__ADS_1
"Nak Rara gemukan ya sekarang?" tanya bu Lala sambil menatap Rara.
"Iya bu, dia lagi mengandung anak kita." jawab Alvin.
"Wah selamat ya nak, semoga bayi dan ibu nya sehat selalu, di lancarkan lahiran nya." ibu-ibu yang ada di rumah bu Salma satu persatu mengucapkan selamat dengan bayi yang di kandung Rara.
"Terima kasih bu." Rara pun duduk di sebelah Alvin setelah mendapat ucapan selamat dari para tetangga bu Salma.
"Ayo ibu-ibu makan bareng, makanan nya banyak begini siapa yang akan menghabiskan." ajak bu Salma
"Tidak bu Salma, silahkan saja." ucap bu Lala dan yang lain nya.
"Mas, kalau ibu-ibu ini ngga ada yang mau makan bareng kita, mas jangan bayar mereka ya." ucap Rara, Rara tahu mereka sungkan dnegan bu Salma sekarang.
"Iya sayang, jadi biarkan saja mereka mau ikut makan atau pun tidak." ucap Alvin.
"Bagaimana ini bu Lala?" tanya bu Ema.
Bu Lala bingung, sebenar nya dia merasa bahagia bisa makan bersama mereka, tapi dirinya juga malu dan merasa ngga pantas duduk bersama keluarga bu Salma.
"Ngga usah malu dan bingung bu, ayo kita makan bersama, sudah lama kita ngga makan ramai-ramai seperti ini." ucap Syifa.
Mereka pun mengalah, akhirnya ikut duduk dan makan bersama keluarga bu Salma, termasuk pak Anwar, pak Rohim dan penjaga pintu, bu Salma tidak membeda-bedakan orang.
"Makanan nya enak sekali, aku sangat suka, siapa ini yang masak?" tanya Rara yang makan dengan lahap nya.
"Yang masak bu Lala nak Syifa, dia kan dari dulu jago masak." jawab bu Lilis.
"Mas, boleh ngga kalau bu Lala yang masakin kita setiap hari selama kita di sini?" tanya Rara.
__ADS_1