
Suara bel di pagi hari menggema di rumah Alvin.
"Biar aku yang buka." ucap Alvin lalu menuju ke pintu utama dan membuka nya.
"Pagi den, dengan den Alvin?" tanya bi Mumun.
"Iya saya sendiri, maaf anda siapa?"
"Perkenalkan nama saya Mumun, saya di tugas kan menjadi pelayan di rumah ini."
"Oh bibi ya yang akan menjadi pelayan di sini, kalau begitu ayo masuk bi." Alvin memang memesan ke yayasan seorang ibu paruh baya untuk menjadi pelayan di rumah nya.
"Makasih den." bi Mumun pun masuk mengikuti langkah Alvin.
Alvin memberitahukan apa yang harus bi Mumun kerjakan setiap hari nya, serta Alvin menunjuk kan kamar untuk di tempati bi Mumun selama menjadi pelayan di rumah nya.
"Ini kamar bibi, dan mulai sekarang silahkan bibi menempati kamar nya." ucap ALvin sambil membuka pintu kamar untuk bu Mumun.
"Sayang siapa?" teriak Rara dari atas tangga sambil menenteng dua tas, milik Alvin dan satu nya lagi tas milik Rara sendiri
"Sayang sini, kenalkan ini bu Mumun yang akan membantu semua pekerjaan kita di rumah ini." Alvin pun memperkenalkan Rara kepada bu Mumun.
"Semoga betah ya bi." ucap Rara sambil tersenyum.
"Insya Allah betah bu."
"Bi, jangan panggil ibu, aku masih muda lo." ucap Rara sedikit bercanda.
"Saya panggil nyonya sama aden saja ya?" bi Mumun sangat senang dan bahagia mendapat majikan baik seperti pasangan suami istri di depan nya, walaupun mereka masih muda dan kaya raya, tapi mereka tidak sombong dan sopan kepada nya.
"Ya sudah terserah bibi saja, kalau begitu kita tinggal ya bi, kita mau berangkat kerja dulu." ucap Rara sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ngga bibi masakin untuk sarapan dulu nyonya?"
"Ngga usah bi, kita sarapan di kantor saja nanti, ayo sayang." Alvin dan Rara pun keluar dengan tangan Alvin yang memeluk Rara dari samping.
"Sudah tampan dan cantik, kaya masih muda baik lagi, beruntung banget aku kerja di sini, aku tidak akan mengecewakan mereka berdua." bi Mumun pun masuk dan akan memulai pekerjaan nya di rumah itu.
Sementara di rumah Mayang, Juli dan Mayang sudah duduk manis di dalam mobil Mayang, mereka sudah siap dengan kamera di tangan nya, mereka akan merekam Alvin dan Rara pada saat mereka berdua keluar dari rumah ALvin.
"Itu mereka keluar." ucap Mayang sambil menunjuk ke arah Alvin dan Rara, Juli pun langsung memulai rekaman nya.
Terlihat Alvin keluar sambil memeluk erat Rara dengan mesra, seperti biasa Alvin selalu memberikan Rara sebuah ciuman sebelum mereka masuk ke dalam mobil nya.
"Tuh mbak lihat, mereka berciuman kan? benar kan apa yang aku bilang kemarin, kalau mereka itu ada hubungan spesial." ucap Mayang.
"Brengsek si Rara, ternyata diam-diam menggoda pak Alvin, awas saja kamu, akan aku bongkar semua nya di depan para karyawan." Juli merasa emosi melihat Rara sedang berciuman dengan Alvin, Juli memang bukan siapa-siapa Rara, tapi dirinya berharap Alvin akan menjadi milik nya.
"Sudah di rekam kan mbak, kalau sudah kita berangkat, mereka juga sudah mau jalan." Mayang pun mulai melajukan mobil nya dan mengikuti mobil Alvin yang sudah melaju di depan nya.
*
*
"Ah yang benar? Siapa sih mbak?' Mayang pura-pura bertanya sambil melirik sinis ke arah Rara.
Sedangkan Rara hanya diam pura-pura tidak mendengar ucapan mereka berdua.
"Siapa lagi kalau bukan seorang pelacur yang berpropesi sebagai sekertaris." ucap Juli sambil menekankan kata sekertaris nya.
Rara yang merasa dirinya terus di pojok kan pun menatap tajam Juli dan Mayang.
"Jaga ucapan kalian, jangan asal nuduh dan fitnah orang." ucap Rara sambil mengangkat telunjuk nya dan diarahkan di depan Juli dan Mayang.
__ADS_1
Juli yang memang sudah emosi semenjak melihat Rara berciuman dengan Alvin pun menarik tangan Rara dan menggenggam nya dengan sangat erat sekali.
"Jangan sok suci kamu, kamu memang seorang pelacur yang pura-pura menjadi sekertaris, pantas saja pak Ramly seperti menyayangi kamu, jangan-jangan pak Ramly pun sudah kamu layani."
"Plak." dengan keras nya Rara menampar pipi Juli dengan tangan kiri nya karena tangan kanan nya sedang Juli genggam.
"Jangan pernah sebut nama pak Ramly dengan mulut kotor mu itu." amarah Rara memuncak di kala nama ayah nya mereka sebut.
*Brengsek, dasar kamu pelacur, berani-berani nya kamu menampar saya " teriak Juli sambil menjambak rambut panjang nya Rara.
Mayang yang melihat Rara berontak, membantu Juli dan memegang kedua tangan Rara.
*Rasakan ini pelacur, wanita murahan, plak, plak" Juli menampar pipi kiri dan pipi kanan Rara membuat pipi Rara yang putih bersih menjadi kemerahan dan sedikit mengeluarkan cairan yang berwarna merah di bibir nya.
Rara menatap tajam Juli dengan penuh amarah, "Kamu akan menyesal dengan apa yang telah kamu lakukan sama saya hari ini, dan sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa melupakan nya." ucap Rara sambil menahan amarah nya.
"Ha, ha, ha, kamu dengar kan May? Apa tadi dia bilang? Kita akan menyesal?" Juli pun tertawa mengejek Rara.
"Mana ada kita menyesal, yang ada kamu yang akan menyesal, kamu akan langsung di blacklist dari perusahaan ini karena sudah menggoda CEO di perusahaan ini." ucap Mayang sambil tersenyum smirk.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berantem? Bagaimana kalau pak Alvin tahu?" tanya seorang karyawan wanita yang baru masuk ke dalam toilet.
"Asal kalian semua tahu, Rara sang sekertaris telah menggoda pak Alvin, bahkan dia sudah berhubungan intim dengan pak Alvin di rumah nya pak Alvin." teriak Juli dengan lantang, dia ingin semua karyawan tahu apa yang sudah di lakukan Rara dengan Alvin sang CEO di perusahaan mereka tempat bekerja.
Para karyawan mulai kasak kusuk dan menyebarkan berita terkini dari seorang sekertaris dan sang CEO.
Juli dan Mayang menarik tangan Rara dengan kasar bahkan mendorong tubuh Rara keluar toilet, mereka berdua akan membawa Rara ke aula tempat berkumpul nya para karyawan, di sana memang sudah di sediakan sebuah layar besar untuk acara-acara tertentu.
"Ada apa ini ribut-ribut?"tanya Dandi kepada teman nya.
"Itu mbak Rara lagi di seret ke aula, katanya sudah menggoda dan tidur bareng dengan CEO kita." jawab teman Dandi.
__ADS_1
"Apa!, memang nya ada bukti dengan semua itu?" tanya Dandi kembali.
"Ngga tahu, makanya kita ikuti saja mereka, ayo."