
Pagi hari seperti biasa bu Salma selalu membantu bi Mumun untuk menyiapkan sarapan untuk mereka semua, Malam tadi Syifa mencoba untuk tidur sendiri di kamar yang di berikan Alvin untuk dirinya, dengan sekuat tenaga Syifa melawan semua rasa takut dan trauma pada dirinya, dan akhir nya Syfa bisa melalui malam dengan sendirian di kamar nya.
Syifa sudah kelihatan cantik dengan baju santai nya, mulai sekarang Syifa akan melakukan semua nya sendiri, dia ingin sembuh dan tidak mau merepotkan ibu nya lagi.
Syifa berjalan pelan sambil melawan rasa takut nya, dia masih berpikir kalau Bima akan datang dan menyiksa nya kembali, keringat mulai keluar dari kening Syifa, dia sedikit gemetar tapi tekad dia ingin sembuh dan kata-kata dokter kemarin selalu terngiang di kepala nya, Syifa pun berusaha sekuat tenaga untuk melawan nya.
Hingga Syifa sampai ke ruang makan dan membuat bu Salma dan bi Mumun kaget dengan penampilan Syifa, pagi ini Syifa terlihat lebih segar dan tenang, tidak seperti kemarin pagi.
"Kamu cantik sekali nak, ayo duduk ibu siapkan sarapan nya." ucap bu Salma sambil tersenyum, bu Salma tahu kalau Syifa mash ada rasa takut dan rasa trauma, terlihat dari keringat yang keluar dari kening nya, tapi bu Salma tidak mau membahas nya karena mulai sekarang mereka akan membantu Syifa untuk sembuh seperti yang di sarankan oleh dokter.
"Alhamduliah pagi ini sudah terlihat ada perbedaan nya, walaupun dia masih ada rasa khawatir." gumam batin bu Salma.
"Nak Syifa seperti nya sudah tenang dan mulai nyaman, semangat ya nak, lawan semua rasa takut dan trauma pada diri kamu, ibu yakin akan ada seorang pria yang akan menerima kamu apa adanya dan yang akan sayang sama kamu." gumam bathin bi Mumun sambil tersenyum, dia ikut bahagia melihat kakak Alvin sudah kelihatan tenang, bi Mumun ngga berani untuk mengungkapkan semua nya secara langsung, karena takut rasa trauma dalam diri Syifa kambuh kembali.
"Boleh aku yang menyiapkan nya sendiri? Aku ingin melakukan nya sendiri, aku ingin memulai semua nya dengan diri sendiri." ucap Syifa sambil menatap bi Mumun dan ibu nya dan sekaligus membuat lamunan bi Mumun dan bu Salma seketika buyar.
"Tentu boleh nak, silahkan saja, kalau ada yang di butuhkan atau di perlukan tanya saja sama bibi, bibi akan ada dua puluh empat jam buat semua nya." jawab bi Mumun yang tersadar dari lamunan nya.
Syifa tersenyum manis ketika mendengar celotehan dari bi Mumun.
Sungguh bahagia nya hati bu Salma pagi ini melihat Syifa yang sudah ada perubahan hingga tanpa sadar matanya menitik kan air mata.
"Jangan memeperlihatkan air mata di depan nya bu, nanti dia ikut sedih dan mengingat kembali masa lalu nya." bisik bi Mumun sambil memberikan tisu kepada bu Salma.
__ADS_1
Bu Salma lamngsung menghapus air mata nya di kala Syifa sedang membuat susu untuk diri nya.
"Ibu mau aku buatkan susu ngga?" tanya Syifa tanpa menoleh ke arah bu Salma.
"Tidak nak, tadi ibu sudah minum teh manis bareng bibi, iya kan bi?" ucap bu Salma yang di jawab sebuah anggukan dari bi Mumun.
Di dalam kamar Alvin, mereka sudah terlihat segar dan rapih dengan pakaian santai nya, mereka berdua memang belum mulai kerja, karena mereka ingin memastikan Syifa dulu sampai benar-benar ada perubahan.
"Hari ini mau kemana sayang?" tanya Alvin sambil memakai jam tangan rolex di tangan nya.
"Antar aku dan kak Syifa ke salon ya mas, aku ingin membuat kak Syifa rilex biar dia mendapat perawatan dan pijitan dari salon, dengan begitu tubuh dan pikiran dia akan rilex dan semoga bisa membantu dia untuk bisa melupakan rasa trauma pada dirinya." jawab Rara.
"Terima kasih ya sayang, kamu sudah sangat perduli dengan kakak, entah mas harus bagaimana lagi untuk membalas semua yang sudah kamu lakukan untuk keluarga mas, kadang mas malu dengan kamu." ucap Alvin sambil memeluk Rara dari belakang hingga hembusan nafas dari mulut Alvin pun mengenai kulit leher nya yang putih bersih.
"Cukup dengan kamu mencintai dan menyayangi aku, dan pastikan kalau aku satu-satu nya wanita yang ada di hati mas." jawab Rara lalu mencium bibir Alvin sebentar tapi lembut.
"Itu sudah pasti sayang, tidak akan ada yang bisa menggantikan kamu di dalam hati mas, hanya kamu wanita yang mau menerima mas apa adanya, hanya kamu yang selalu memberikan mas semangat untuk maju hingga saat ini, I Love U." ucap Alvin dan kembali meraupu bibir Rara.
Sedikit lebih lama mereka bercumbu, tapi Rara mulai menghentikan nya karena dia ingat akan membawa Syifa ke salaon.
"Sudah cukup mas, kalau begini terus ujung-ujung nya aku tidak sarapan dan tidak pergi ke salon." ucap Rara setelah melepaskan ciuman nya.
Alvin hanya menyungggingkan senyuman nya, entah kenapa semakin hari rasa cinta dan rasa sayang Alvin semakin besar kepada Rara.
__ADS_1
"Ayo mas kita ke ruang makan, ibu dan kakak pasti sudah menunggu." ajak Rara sambil menggandeng tangan Alvin.
Mereka berdua menuju ruang makan sambil bergandengan mesra, senyuman di kedua nya tidak hilang dari bibir mereka.
Hingga tiba di ruang makan, Alvin dan Rara di kaget kan dengan Syifa yang sedang makan tanpa di suapin oleh ibu nya, dan juga Syifa sudah terlihat cantik dan tatapan nya sudah tenang di bandingkan kemarin-kemarin.
"Kak, maaf kita berdua terlambat." sebenar nya Rara ingin bertanya dengan kondisi Syifa, tapi Rara takut Syifa malah ingat masa lalu nya dan ngamuk lagi, Alvin pun hanya diam dan terus memperhatikan kakak nya itu.
"Ngga apa-apa dek, ayo temani kakak makan." ucap Syifa.
Rara duduk dan melihat Syifa sedikit masih ada rasa khawatir, tapi Rara langsung mengalihkan semua nya.
"Kak, aku mau pergi ke salon, kakak ikut ya temani aku, soalnya kalau ke salon diantar mas Alvin ngga asik, dia malah sering tertidur di kursi tunggu." ucap Rara sedikit mengedipkan mata kepada Alvin, Alvin yang mengerti dengan kedipan istri nya pun mengikuti drama dari sang istri.
"Ya kan di salon suka lama kak, ya mending aku tdur lah dari pada nungguin kamu lama."
"Ya tapi ngga seharus nya tidur juga mas, kan aku jadi malu."
"Sekarang pilih mana, pilih aku tidur atau aku ngobrol sama cewek cantik yang ada di salon?"
"Oh, jadi mas mau main-main sama aku ya? Jadi mas mau di temani cewek cantik ya." ucap Rara sambil memukul pelan Alvin.
Syifa yang melihat tingkah kedua nya tersenyum.
__ADS_1