
Ramzi menatap pesawat yang sedang terbang di atas sana, ada rasa sesak di dada nya di kala dirinya harus berpisah dengan Syifa, tapi dirinya kembali menguatkan nya dengan yakin kalau mereka nanti akan bertemu kembali dan bahagia.
Dengan perlahan Ramzi mulai melangkahkan kaki nya meninggalkan bandara ketika pesawat sudah tidak terlihat dari pandangan nya.
Baru juga beberapa menit yang lalu Syifa pergi, tapi rasa rindu sudah datang pada diri Ramzi.
Ramzi sedikit mempercepat laju nya kendaraan, dia ingin menyibukkan diri dengan pekerjaan agar tidak terus kepikiran Syifa.
*
*
Di rumah Alvin yang baru, bu Lala sudah menyiapkan banyak makanan untuk menjamu keluarga bu Salma di bantu beberapa tetangga lain nya.
"Bu Salma sekarang hebat ya? Kehidupan nya berubah drastis." ucap bu Ema.
"Iya, semuanya berkat kedua anak nya." ucap bu Lilis.
"Bukan nya cuma berkat Alvin seorang, kan Syifa ngga ikut andil dalam kesuksesan bu Salma?" tanya bu Ema.
"Nak Syifa juga ikut andil dalam kesuksesan mereka, kalau nak Syifa ngga berkorban, nak ALvin juga ngga bisa sukses seperti sekarang, nak Syifa sampai depresi itu karena apa? Karena dirinya meminjam uang buat bekal dan ongkos nak Alvin ke kota, bukan dia ngga tahu dengan sikap kasar Bima, tapi demi adik nya meraih ke suksesan, nak Syifa mengorbankan dirinya." ucap bu Lala membuat ibu-ibu lain nya ikut terharu.
Memang sebagian orang tidak tahu alasan Syifa mau di nikahi oleh Bima, hanya bu Lala yang tahu segala nya tentang keluarga bu Salma.
Mereka pun kembali di sibukan dengan kerjaan mereka dalam menyambut kedatangan keluarga bu Salma.
Warga sekitar banyak yang terbantu dengan ada nya pembangunan rumah megah Alvin ini, mereka yang tidak punya bisa kembali bekerja dan menafkahi keluarga mereka.
Bima yang memang sudah keluar bersyarat pun terus mencari informasi tentang keluarga ALvin.
Dirinya merasa tersaingi oleh ALvin, rumah nya yang besar kini sudah tidak ada artinya lagi kalau di banding kan dengan rumah ALvin.
"Sebenar nya dia kerja apa sih di kota, kok bisa dengan cepat menjadi orang sukses." gumam Bima.
Lina yang melihat rumah ALvin yang megah seperti sekarang semakin menyesal telah menolak Alvin.
*
*
__ADS_1
Keluarga bu Salma sudah berada di dalam mobil menuju rumah nya dengan di jemput oleh pak Rohim atas permintaan dari Alvin.
Alvin meminta pak Rohim menjemput nya dengan dua mobil, kedua mobil yang menjemput mereka memang mobil Alvin, Alvin sengaja membeli mobil di kampung nya itu untuk keperluan mereka selagi ada di kampung, dan selama ini mobil nya di urus sama pak Rohim dan pak Anwar tetangga nya yang dapat Alvin percaya.
"Nak Syifa? ini nak Syifa kan?" tanya pak Rohim dengan wajah kaget nya.
Pak Rohim kaget melihat Syifa yang kini tampil modis dan lebih cantik dari terakhir yang pak Rohim lihat.
"Iya pak saya Syifa." jawab Syifa sambil tersenyum ramah.
"Alhamdulilah nak Syifa sudah sembuh, sekarang lebih cantik lagi." ucap pak Rohim.
"Saya pangling melihat nak Syifa ini." ucap pak Anwar sambil menatap Syifa.
"Ini semua berkat adik saya dan istri nya pak, mereka yang sudah membantu saya hingga saya menjadi seperti sekarang." ucap Syifa.
"Ya sudah ayo sekarang kita berangkat." ajak Alvin.
Dua mobil milik Alvin terus berjalan menuju rumah baru nya, di sana bu Lala dan para tetangga lain sedang menunggu kedatangan mereka.
Sepanjang perjalanan bibir bu Salma dan bibir Syifa terus tersenyum, mereka berdua sudah ngga sabar ingin segera sampai dan melihat rumah baru mereka.
"Berhenti sebentar pak." ucap Alvin kepada pak Rohim.
"Kok berhenti di sini mas?" tanya Rara.
"Sebentar Yang, aku mau tutup mata ibu sama mata kakak dulu." jawab Alvin sambil mengambil dua sapu tangan yang berwarna hitam.
Rara yang mengerti dengan apa yang akan di lakukan Alvin hanya ber oh ria sambil mengangguk.
Pak Rohim menghentikan mobil nya di ikuti mobil yang di bawa pak Anwar, Alvin keluar dan menghampiri mobil yang di bawa pak Anwar.
"Ada apa nak? Kenapa berhenti di sini?" tanya bu Salma sambil membuka kaca mobil nya.
"Mata ibu dan kakak harus di tutup, biar nanti langsung melihat nya, pak tolong ikat kan sapu tangan ini." ucap Alvin sambil memberikan sapu tangan nya kepada pak Anwar.
"Kamu ini apa-apaan sih dek, kenapa harus pakai di tutup segala sih?" tanya Syifa.
"Sudah kakak dan ibu nurut saja."
__ADS_1
Alvin mengikatkan sapu tangan nya dan menutupi mata bu Salma.
"Maaf ya nak, bapak hanya di suruh nak Alvin." ucap pak Anwar lalu mengikatkan nya seperti yang Alvin lakukan.
"Ya sudah pak jalan lagi, ibu dan kakak jangan coba-coba mengintip atau membuka sapu tangan nya, pak Anwar tolong sambil perhatikan ibu dan kakak saya ya, kalau mereka mengintip atau membuka nya kasih tahu saya." ucap ALvin.
"Baik nak Alvin."
Alvin tersenyum lalu kembali masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Rara.
"Sudah mas?" tanya Rara sambil terus ngemil cemilan nya.
"Sudah sayang, ayo pak kita lanjut lagi."
Pak Rohim melajukan kembali mobil nya di ikuti mobil yang di kemudikan pak Anwar.
Bu Salma dan Syifa pasrah dengan apa yang di lakukan Alvin, mereka tahu kalau Alvin ingin memberikan kejutan buat mereka berdua.
Kedua mobil Alvin masuk ke halaman rumah yang bak istana itu dengan pagar yang menjulang tinggi.
Seorang penjaga pintu yang di tugaskan pak Rohim membuka nya setelah melihat kedua mobil tersebut mau masuk.
Bu Lala dan para ibu-ibu yang lain nya sudah berdiri di depan pintu untuk menyambut kedatangan bu Salma.
"Pak kok berhenti? Apa sudah sampai?" tanya Syifa.
"Sudah nak, tunggu sebentar jangan keluar dulu." ucap pak Anwar lalu keluar mobil nya dan membuka kan pintu mobil untuk bu Salma dan Syifa.
"Bu Lala dan bu Ema tolong bantu bu Salma dan nak Syifa, teriak pak Anwar.
Bu Lala dan bu Ema pun langsung menghampiri mereka dan menggandeng nya.
"Bu tolong bawa ibu dan kak Syifa kesini." ucap ALvin yang sudah berdiri di tengah-tengah halaman rumah nya sambil menggandeng Rara.
Bu Lala dan bu Ema membawa bu Salma dan Syifa mendekati Alvin.
"Bu tolong sekarang buka ikat sapu tangan nya." ucap ALvin.
Bu Lala dan bu Ema langsung membuka ikat sapu tangan nya.
__ADS_1