
Hari berlalu waktu terus bergulir seiring jarum jam, kini tiba saat mereka akan pergi ke kampung halaman ALvin.
Sebelum melakukan perjalanan ke kampung halaman Alvin, Rara dan Alvin sudah konsultasi dengan dokter, dan dokter mengizinkan Rara untuk pergi dengan catatan jangan kecapean.
Ramzi merasa sedih karena hari ini calon istri nya akan kembali ke kampung halaman nya, Ramzi memang tidak ikut bersama mereka, karena Ramzi harus menyelesaikan pekerjaan nya, dan juga mengatur waktu libur nya di kala dirinya menikah nanti.
"Sayang sudah siap semuanya? Awas ada yang ketinggalan." ucap Alvin sambil memakai sepatu nya.
"Sudah mas, dari kemarin sudah aku siapkan." jawab Rara, karena memang semua yang di butuhkan sudah Rara masukan ke dalam koper.
"Baiklah, kalau gitu mas bawa koper ke mobil dulu ya." Alvin menarik koper yang sudah di siapkan Rara.
Rara mengambil tas selempang nya, dan tidak lupa Rara kembali melihat ke sekitar kamar nya, takut ada yang ketinggalan.
Bu Salam dan Syifa sudah siap dengan koper mereka, mereka berdua sudah ngga sabar ingin segera sampai di kampung halaman nya.
Alvin menyerahkan semua pekerjaan nya kepada orang-orang kepercayaan nya, dan Alvin akan memantau setiap hari nya lewat rumah, karena untuk kepergian nya kali ini Alvin membutuhkan waktu yang lama hingga sampai hari pernikahan kakak nya.
Ramzi baru datang untuk mengantarkan mereka ke bandara, dengan sigap Ramzi langsung memasukan koper-koper yang akan di bawa mereka pulang di bantu oleh sopir nya Alvin.
Alvin memang punya seorang sopir, tapi sopir nya hanya untuk mengantar bi Mumun dan ibu nya kemana pun mereka pergi, dirinya hanya sesekali menggunakan jasa sopir nya di kala dia sudah benar-benar lelah.
"Mana lagi yang akan di bawa yang?" tanya Ramzi setelah memasukan semua koper nya.
"Sudah semua nya mas, tinggal kamu yang belum aku bawa." bisik Syifa karena takut kedengaran ibu nya dan sopir yang ada di sana.
__ADS_1
"Kamu mulai nakal ya." bisik Ramzi sambil mencolek hidung Syifa, dan Syifa hanya tersenyum.
"Sudah siap semua nya? Keberangkatan tinggal satu jam lagi, kita harus berangkat sekarang soalnya takut ketinggalan pesawat." ucap Alvin yang sedang menuruni tangga sambil menggandeng tangan Rara.
"Sudah nak, kita tinggal berangkat." ucap bu Salma.
"Ya sudah sekarang kita berangkat, bi saya titip rumah ya? Kalau ada yang bibi butuhkan bibi hubungi saya saja." ucap Alvin.
"Iya den, hati-hati semoga selamat sampai tujuan." bi Mumun sebenar nya diajak untuk ikut, tapi bi Mumun menolak nya karena dia takut naik pesawat.
Mereka pun pergi setelah pamit kepada bi Mumun, bu Salma diajak Rara untuk naik mobil nya, karena Rara tahu kalau Ramzi dan Syifa butuh waktu untuk berdua.
"Bu, ibu sama Rara saja di mobil mas Alvin." ajak Rara yang di setujui oleh bu Salma.
"Terus kakak berdua saja gitu sama mas Ramzi." ucap Syifa yang merasa ngga enak.
"Kamu ya dek," teriak Ramzi sambil ingin mencubit Rara.
"Sudah-sudah kita berangkat, nanti terlambat." ucap Alvin.
Mobil mereka mulai meninggalkan rumah Alvin, mereka sudah ngga sabar ingin segera sampai saja, padahal naik pesawat saja belum.
"Yang, tunggu aku di sana, setelah semua pekerjaan ku selesai aku akan langsung datang kesana." ucap Ramzi sambil menggenggam erat tangan Syifa lalu mencium nya dengan lembut.
"Mas kamu lagi nyetir, jangan begini." ucap Syifa yang merasa takut karena tangan Ramzi terus menggenggam nya dan yang sebelah lagi memegang setir mobil.
__ADS_1
"Tenang, mas sudah biasa, di sana kamu jangan nakal ya? Nanti banyak cowok lagi yang deketin kamu, dan jangan sampai man." Ramzi tidak meneruskan kalimat nya karena Ramzi takut Syifa kembali histeris dan trauma nya kambuh kembali.
"Kenapa ngga di terus kan? Teruskan saja kalimat nya, aku ngga apa-apa kok, mantan suami ku kan yang mas maksud? Tenang saja mas, sekarang aku sudah sembuh, aku sudah mengubur nya dalam-dalam, lagian dia itu laki-laki brengsek, jadi buat apa harus mengingat nya lagi, sekarang aku sudah mendapatkan calon suami yang menerima aku apa adanya, jadi buat apa harus mengingat nya lagi." ucap Syifa sambil menatap Ramzi yang terlihat sangat tampan hari ini.
Ramzi merasa tenang setelah mendengar semua penuturan dari calon istri nya, tapi hati nya tetap tidak tenang, dia takut mantan suami Syifa kembali menggoda Syifa, apalagi Syifa sekarang beda dengan Syifa yang dulu, Syifa yang sekatrang adalah Syifa yang sering pergi ke salon dan merias diri nya hingga terlihat sangat cantik, kalau Syifa yang dulu dia tidak mengenal kosmetik apa pun.
Karena melihat Ramzi hanya terdiam pun Syifa mendekatkan tubuh nya lalu mencium pipi Ramzi dari samping.
"Jangan berpikir yang ngga-ngga, walaupun dia menangis darah di depan ku dan meminta aku untuk menerima nya kembali, aku tidak akan pernah mau, aku tidak akan masuk ke jurang yang sama, sekarang aku mau nya masuk ke hati mas Ramzi seorang." ucap Syifa sambil tersenyum.
"Sudah mulai pintar menggombal rupanya calon istri mas ini." Ramzi tersenyum karena dapat gombalan sekaligus ciuman mesra dari Syifa.
Syifa tersenyum lalu menyandarkan kepala nya di bahu Ramzi, sebenar nya Syifa malu untuk bicara seperti itu, tapi dirinya ingin meyakinkan Ramzi kalau di hati nya sekarang hanya ada Ramzi seorang.
Sepanjang perjalanan bibir Ramzi dan Syifa terus mengembangkan senyuman nya, hingga tidak terasa mobil nya kini sudah berada di parkiran bandara.
"Sebenar nya mas ingin ikut pergi sama kamu sekarang, tapi kerjaan kantor banyak sekali, apalagi nanti akan mas tinggal untuk beberapa hari dikala kita mau melangsungkan pernikahan." ucap Ramzi sambil menatap Syifa.
"Sabar saja mas, ngga lama lagi juga kamu kan nyusul aku kesana, aku akan menunggu kamu di sana dengan rasa sabar.
Tanpa memberi aba-aba Ramzi langsung mencium bibir Syifa dengan rakus, seakan-akan dia ngga bakalan bertemu dengan Syifa lagi, Syifa membalas ciuman yang di berikan Ramzi dengan penuh rasa cinta.
Mereka curahkan semua rasa di dalam cumbuan nya.
"Kak, lagi pada ngapain sih, buruan turun kita harus masuk." teriak Rara sambil mengetuk kaca mobil Ramzi.
__ADS_1
Syifa langsung melepaskan cumbuan nya dan sedikit merapihkan riasan nya, dirinya takut ketahuan Rara dan yang lain nya.