CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Melawan Rasa Trauma


__ADS_3

"Sudah tidur mas." ucap Rara yang melihat suami nya sudah berbaring di atas tempat tidur.


"Kamu lama sekali sih sayang, aku sampai ngantuk nungguin kamu." ucap ALvin dengan mata terpejam.


"Kan aku nunggu kakak sampai benar-benar tenang dulu mas, dia itu trauma karena di dekati kak Ramzi, aku berusaha untuk membuat kakak bisa melawan rasa trauma nya." jawab Rara sambil membersihkan riasan nya.


Alvin hanya terdiam sambil mendengar istri nya berbicara, Alvin lelah sekali hari ini, tanpa terasa Alvin pun tertidur.


Sudah menjadi kewajiban semua para wanita, sebelum tidur membersihkan muka dari segala riasan nya.


Terdengar suar chat masuk ke ponsel nya, Rara membuka dan membaca isi pesan yang di kirim seseorang yang dia kenal, Rara pun membalas nya lalu mematikan dan menyimpan kembali ponsel nya.


Setelah membersihkan muka dan berganti dengan lingeria kesukaan nya Rara pun ikut membaringkan tubuh nya di samping Alvin.


"Seperti nya kamu sangat lelah mas, tidur yang nyenyak ya suami ku sayang." ucap Rara lalu mencium kening, pipi dan bibir Alvin.


Rara memeluk tubuh Alvin yang bertelanjang dada, sudah menjadi kewajiban Rara sebelum tidur mencium dada Alvin dengan sedikit berbulu, Rara terus membelai lembut dada Alvin hingga diri nya tertidur.


Tidak ada ritual apa pun malam ini, dikarenakan mereka berdua lelah setelah seharian beraktifitas.


Berbeda dengan Syifa, Syifa belum tidur karena dirinya harus menerima panggilan dari no yang tidak dia kenal.


Awal nya Syifa ingin mengabaikan panggilan tersebut, tapi karena berisik berdering terus menerus dan juga Syifa penasaran dengan orang yang menghubungi nya, akhir nya Syifa menerima panggilan tersebut.


"Ha-halo." sapa Syifa dengan terbata, lalu ia membaringkan tubuh nya.


"Akhir nya kamu angkat juga." ucap seorang pria dari seberang telepon.


"Maaf ini siapa? Tahu no saya dari mana?" tanya Syifa sambil menahan gemetar di tubuh nya.

__ADS_1


"Aku Ramzi, aku tahu no ini dari Rara, kamu belum tidur?" Ramzi tahu no ponsel memang dari Rara, untung Rara memberitahukan nya dengan ancaman jangan memaksa Syifa jadi Ramzi bisa langsung menghubungi Syifa.


"Oh pak Ramzi, belum pak." jawab Syifa dengan suara gemetar, ingin sekali Syifa mematikan ponsel nya, tapi hati nya seakan-akan tidak mengizinkan untuk memutuskan panggilan nya, karena suara Ramzi bikin jantung dia berdebar.


"Kenapa belum tidur? Besok kan kamu masuk kerja, ini sudah malam, ya sudah aku cuma mau memastikan saja kalau ini benar no kamu, selamat malam Syifa semoga mimpi indah malam ini." sebenar nya Ramzi tidak mau memutuskan panggilan nya, tapi dia ngga mau Syifa merasa tidak nyaman dan merasa ketakutan lagi seperti tadi di rumah nya pak Ramly.


"Tunggu." entah kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulut nya Syifa.


"Iya kenapa? Apa kamu ingin aku temani tidur?" tanya Ramzi degan bibir yang sudah mengembangkan sebuah senyuman, ini yang di harapkan Ramzi sebenar nya.


"A-ku, aku ngga bisa tidur, apa pak Ramzi mau menemani aku sampai tertidur." sungguh Syifa tidak mengerti dengan dirinya kini, andai saja Ramzi tahu kalau dirinya sedang menahan gemetar, serta tubuh nya yang kini sudah di banjiri dengan keringat karena menahan rasa trauma nya, tapi dia sudah bertekad akan melawan rasa itu.


"Baiklah kalau begitu aku alihkan ke video call ya." Ramzi mengalihkan dari sambungan biasa ke video call.


Dengan tangan yang sedikit gemetar Syifa menerima nya, terlihat lah wajah tampan Ramzi di layar ponsel nya sedang tersenyum manis kepada nya.


Syifa yang masih merasa malu dan trauma hanya menatap layar ponsel nya sebentar lalu memejamkan kedua mata nya.


"Ya sudah kamu tidur saja, aku akan menceritakan siapa aku pada kamu, biar kamu tahu aku ini siapa bagi keluarga Rara.


Ramzi pun memulai cerita nya dari dia kecil terus diangkat anak oleh ayah Rara, hingga saat ini, Ramzi menjeda cerita nya lalu menatap wajah cantik Syifa yang seperti nya sudah terlelap.


"Kamu sudah tidur ya? Ya sudah selamat malam, semoga kamu mimpi indah." ucap Ramzi sambil terus menatap wajah cantik Syifa.


"Cantik sekali kamu Syifa, aku harus pelan-pelan mendekati kamu, aku harus tahu apa yang sudah terjadi sama kamu hingga kamu bisa berteriak seperti tadi." gumam Ramzi lalu dengan perlahan ikut memejam kan kedua mata nya, sedangkan ponsel nya dia biarkan hidup dan tidak mematikan nya.


*


*

__ADS_1


Pagi hari Syifa mulai menggerak kan kedua mata nya, yang pertama dia lihat pagi ini adalah wajah damai seorang Ramzi yang masih terlelap.


"Pak Ramzi tidak mematikan telepon nya, ya ampun sampai mau habis begini baterai nya." gumam Syifa sambil menatap wajah Ramzi.


"Pak Ramzi tampan juga, ingin sekali ku cubit hidung nya." bathin Syifa sambil tersenyum.


"Tidak, kamu tidak layak untuk pak Ramzi, kamu itu sudah pernah menikah Syifa, oh Tuhan kenapa aku jadi seperti ini."


Sebelum Syifa mematikan ponsel nya, Syifa kembali menatap wajah Ramzi, "Pak bangun sudah pagi." setelah mengucap kan kalimat seperti itu Syifa langsung mematikan ponsel dan men charger nya.


Sementara Ramzi di tempat tidur nya sedang tersenyum sambil menatap layar ponsel nya yang sudah mati.


"Lucu juga kamu Syifa." gumam Ramzi lalu membuka hasil screenshot nya, selagi melakukan video call Ramzi sempat men screenshot wajah Syifa yang sedang tertidur.


Sebenar nya Ramzi sudah terbangun lebih dulu dari Syifa, tapi begitu Ramzi mau menatap Syifa terlihat kedua mata Syifa bergerak dan Ramzi pun pura-pura masih tertidur.


Ramzi ingin sekali menatap wajah Syifa yang baru bangun tidur, tapi ia menahan nya karena Syifa takut kaget dan berteriak seperti malam kemarin.


Bahagia sekali Ramzi ketika mendengar suara Syifa yang menyuruh nya untuk bangun, dengan bibir tersenyum dan semangat baru, Ramzi bangun dan membersihkan tubuh nya, siang ini Ramzi ingin pergi ke kantor nya Rara, dia ingin mengetahui tentang Syifa.


Di kamar Alvin Rara masih tertidur di atas dada nya, dengan perlahan Alvin menggeser tubuh Rara hingga kini sudah berada di samping nya, Alvin mencium bibir Rara hingga membuat Rara mengerjapkan ke dua mata nya.


Alvin terus menyerang Rara dengan ciuman panas di pagi hari serta sentuhan-sentuhan yang membuat Rara bak cacing kepanasan.


"Kamu sudah bangun mas?" tanya Rara setelah melepaskan ciuman nya.


"Sudah, sebelum kita mandi kita olah raga dulu ya sayang." bisik Alvin sambil menyentuh seluruh tubuh Rara.


Rara hanya pasrah, karena dirinya pun sudah terpancing dengan segala sentuhan yang Alvin berikan.

__ADS_1


__ADS_2