
Ramzi membawa Syifa masuk ke dalam kamar nya setelah bu Salma membukakan pintu kamar Syifa.
Dengan perlahan Ramzi membaringkan tubuh Syifa dengan mata yang masih terpejam.
"Jangan, jangan pukul lagi, mas Ramzi tolong aku." teriak Syifa sambil memeluk erat tangan Ramzi.
"Tenang sayang, kamu sudah aman di sini, aku akan menjaga kamu." ucap Ramzi sambil mengelus lembut kepala Syifa.
Bu Salma yang melihat Ramzi kesusahan dalam posisi nya, berinisiatif mengambilkan kursi, bu Salma memberikan kursi yang ada di meja rias.
"Duduk di sini nak, kalau begitu terus nanti nak Ramzi akan sakit punggung nya." ucap bu Salma sambil menggeser kursi nya.
"Terima kasih bu." ucap Ramzi sambil duduk.
"Kalau begitu ibu mau menyiapkan untuk makan malam dulu." pamit bu Salma, Ramzi hanya mengangguk lalu kembali menatap wajah cantik Syifa.
"Sayang, mulai sekarang kamu ngga akan merasa ketakutan lagi, aku akan selalu menjaga kamu, aku akan selalu membuat tidur kamu nyenyak dan tenang." uap Ramzi lalu mencium tangan Syifa.
Ramzi kembali menatap wajah Syifa, wajah yang selalu ia rindukan akhir-akhir ini, Ramzi sudah melupakan status Syifa, dirinya berjanji tidak akan pernah mengungkit nya.
"Kalian dari mana?" tanya bu Salma ketika melihat Rara dan ALvin masuk ke dalam rumah.
"Habis jalan-jalan bu sebentar." jawab Rara.
"Nak, kalau jam segini wanita hamil di larang keluar, jadi jangan diulangi lagi ya." ucap buu Salma.
"Iya bu maaf, oh iya gimana dengan kak Syifa?" ucap Rara mengalihkan pembicaraan nya.
"Kakak kalian sedang tidur, ada nak Ramzi yang jaga, ya sudah ibu mau membantu menyiapkan buat makan malam nanti." bu Salma pergi ke ruang makan.
"Sayang ayo kita mandi dulu, kita kan habis dari luar." ajak Alvin.
"Ayo mas, tapi nanti langsung makan ya, aku kan sudah lapar." rengek Rara dengan manja.
"Iya, kita langsung makan asal kamu mandi dulu." Alvin dan Rara pun masuk ke dalam kamar nya.
Syifa menggerak kan kedua mata nya, dengan perlahan Syifa mulai membuka kedua mata nya dan terlihat Ramzi yang ikut tertidur.
__ADS_1
"Mas." panggil Syifa sambil mengusap rambut Ramzi dengan tangan nya yang sebelah.
Ramzi yang merasa ada sentuhan di kepala nya langsung membuka mata nya dan menatap Syifa.
"Kamu ikut tidur juga?" tanya Syifa sambil tersenyum.
"Iya sayang, maaf aku ketiduran." ucap Alvin sambil mengusap lembut wajah nya.
"Aku yang harus nya minta maaf, aku sudah merepotkan mas." jari Ramzi langung menempel di bibir Syifa.
"Jangan sekali-kali lagi bilang seperti itu, aku tidak suka, karena menurut aku itu semua sudah menjadi tanggung jawab aku."
Syifa tersenyum manis mendengar nya, Syifa merasa beruntung bisa menjadi pasangan Ramzi yang sangat menyayangi dan menjaga nya.
Dengan perlahan Ramzi mencium bibir Syifa yang sedang tersenyum.
"Manis," ucap Ramzi setelah melepaskan ciuman nya.
"Mas, aku mandi dulu ya, tangan aku kotor sudah di sentuh orang brengsek itu." ucap Syifa sambil bangun dari tidur nya.
"Kamu ngga ngajak aku sekalian mandi sayang." goda Ramzi dengan senyum nakal nya.
"Kan sebentar lagi juga halal sayang."
"Ya nanti saja, sudah ah aku mau mandi, mending mas keluar dan mandi di kamar tamu sana." ucap Syifa sambil mendorong tubuh Ramzi dengan pelan.
Tapi Ramzi malah menarik tangan Syifa, hingga membuat kepala Syifa membentur dada Ramzi dan tubuh nya sedikit terbaring.
Ramzi menatap nya lalu kembali ******* bibir Syifa dengan penuh dengan kerinduan, mereka berdua mencurahkan semua kerinduan lewat ciuman mereka.
"Woi, tahan sebentar lagi juga halal." teriak Rara yang sudah berdiri di ambang pintu dengan Alvin suami nya.
Syifa dan Ramzi kaget mendengar teriakan Rara lalu mereka saling menjauhkan wajah mereka.
Syifa yang merasa malu langsung pergi ke kamar mandi nya."Kakak mandi dulu." ucap Syifa dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa sih Ra, kamu itu ganggu saja." ucap Ramzi sambil menatap Rara dan ALvin.
__ADS_1
"Kak itu kamar nya sudah di siapkan, mandi sana sebentar lagi kita makan." ucap Rara.yang mengabaikan ucapan Ramzi.
Dengan sedikit kesal Ramzi pergi ke kamar nya yang sudah di siapkan, Ramzi langsung membersihkan tubuh nya.
"Kamu ini jail sayang." ucap Alvin sambil mencubit hidung Rara.
"Biarin saja, tapi ngga tahu kenapa ya mas, akhir-akhir ini aku suka ingin ngejailin orang."
"Mungkin karena ada dia, jadi kamu sedikit jahil." ucap Alvin sambil mengelus perut Rara yang sudah mulai buncit.
"Iya juga kali ya mas, aku juga merasa kok aku berubah."
"Iya berubah gendut dan cubby." goda Alvin sambil tertawa membuat Rara cemberut.
"Ini semua juga gara-gara kamu mas, oh jadi mas sekarang sudah berani bilang aku gendut ya." ucap Rara dengan tatapan tajam nya.
"Tapi kamu tetap cantik sayang, bahkan lebih cantik dari pas kita bertemu, aku suka kamu yang sekarang, kamu lebih berisi, apalagi pas bagian itu." ucap ALvin sambil mata nya menatap dua bukit kembar Rara yang memang semenjak hamil semakin berisi dan sedikit lebih besar.
"Mulai mesum, udah ah kita ke ruang makan yuk, aku dan anak ku sudah lapar." ucap Rara sambil menyentuh perut nya.
Alvin tersenyum lalu menggandeng Rara dan membawa nya turun melalui lift.
Syifa baru keluar dari kamar mandi, dia langsung memakai baju dres yang pernah di belikan Rara.
Syifa menatap nya di depan kaca besar yang ada di kamar nya, dia tersenyum dengan penampilan nya malam ini, dia ingin tampil lebih cantik di depan Ramzi, walaupun diri nya bukan gadis tapi dia masih kelihatan seperti masih anak gadis.
Syifa keluar kamar sambil tersenyum, tanpa di sadari nya di sana sudah berdiri Ramzi dengan senyuman manis nya menyambut calon istri yang baru keluar dari kamar nya.
"Mas, ngapain di sana?" tanya Syifa sambil menutup pintu kamar nya.
"Lagi nunggu bidadari nya aku." jawab Ramzi sambil tersenyum, dia sangat terpana dengan penampilan Syifa yang lebih cantik malam ini.
"Ah mas Ramzi, hati aku meleleh mas." ucap Syifa dengan wajah yang sudah berubah merah karena ucapan Ramzi.
Sejak dulu memang ngga ada yang memperlakukan Syifa seperti Ramzi, Syifa yang kurang kasih sayang dan cinta kasih dari pasangan nya dulu membuat dia ingin selalu manja dengan Ramzi yang selalu membuat dirinya tersenyum.
"Ayo sayang kita ke ruang makan, mas kan belum tahu semua ruangan rumah ini, lagian ya ini rumah gede banget sampai mas pusing untuk turun ke bawah, makanya mas tunggu kamu di sini."
__ADS_1
Syifa hanya tersenyum, lalu menggandeng tangan Ramzi dan turun ke bawah melalui lift.