
Pagi hari bu Salma keluar kamar dan mencari dapur dengan wajah bingung nya, satu persatu bu Salma menuruni tangga sambil melihat ke arah sekitar rumah.
"Maaf ibu siapa?" tanya bi Mumun yang melihat bu Salma sedang melihat ke arah kanan dan kiri.
"Ya ampun ya tuhan." teriak bu Salma sambil menyentuh dada nya, dia kaget dengan suara bi Mumun yang tiba-tiba bertanya.
"Maaf bu saya sudah membuat anda kaget." ucap bi Mumun yang masih waspada dengan bu Salma.
"Iya ngga apa-apa bu, ibu siapa? Kok ada di sini?" bukan nya menjawab, bu Salma malah balik bertanya kepada bi Mumun.
"Saya memang sudah tinggal di sini bu beberapa bulan ini, ibu sendiri ngapain ada di rumah majikan saya?"
"Kenalkan saya Salma ibu nya Alvin." ucap bu Salma sambil mengulurkan tangan nya.
"Ya ampun nyonya, maafkan saya, saya tidak tahu kalau anda ibu nya den Alvin." ucap bi Mumun sambil menunduk.
"Jangan panggil nyonya, panggil ibu saja, semalam kami datang kesini."
""Mari bu, mau saya buatkan teh atau susu?" tanya bu Mumun sambil menggeser kursi makan.
"Biar saya yang buat sendiri saja, tunjukan saja bu apa yang ada di dapur ini, saya ingin tahu." ucap bu Salma sambil tersenyum.
__ADS_1
"Panggil bi Mumun saja bu, mari bu." bi Mumun menunjuk kan apa yang ada di dapur dan mengajak bu Salma untuk mengelilingi rumah nya Alvin, bi Mumun dengan sabar menjawab semua pertanyaan dari bi Mumun, hingga kini mereka sudah berada di ruang makan kembali.
Sungguh bu Salma dibuat takjub dan kagum dengan rumah ALvin yang sangat besar menurut bu Salma.
"Maaf ya bu, saya tidak tahu kalau den Alvin sudah pulang semalam, jadi saya belum membuatkan sarapan." ucap bi Mumun.
"Ngga apa-apa bi, ya sudah kalau gitu kita masak bareng saja, jadi lebih cepat." ajak bu Salma dengan semangat empat lima nya, dia senang dengan dapur nya karena luas dan bersih.
"Tapi bu, nanti den Alvin marah, biar saya saja yang masak."
"Ngga, Alvin tidak akan marah, sudahlah urusan Alvin itu urusan saya, sekarang kita mulai masak nya." ucap bu Salma sambil menarik tangan bi Mumun.
Syifa membuka kedua mata nya, dia melihat ke sekeliling kamar dan mengingat dimana dia berada saat ini.
"Ibu, ibu." teriak Syifa dengan tubuh yang sudah gemetar.
"Syifa, nak, sini sayang, ibu lagi masak." teriak bu Salma.
"Sebentar ya bi, saya mau menemui kakak nya Alvin dulu.
"Iya bu."
__ADS_1
Bu Salma langsung menghampiri Syifa dan memeluk nya.
"Tenang nak, di sini kamu aman, kita ke ruang makan yuk?" bu Salma membawa Syifa ke ruang makan.
Bi Mumun yang melihat Syifa sedikit mengernyitkan kening nya.
"Seperti nya kakak nya den Alvin kena gangguan mental." gumam bathin bi Mumun sambil menatap Syifa.
Syifa yang merasa ada orang asing menatap nya langsung memeluk ibu nya dengan erat.
"Tenang sayang, bi Mumun ini orang baik, dia lagi masak buat kita sarapan." ucap bu Salma sambil membelai rambut Syifa.
"Maafkan anak saya bi, dia memang sedang terguncang jiwa nya." ucap bu Salma setelah mengajak Syifa untuk duduk.
"Ngga apa-apa bu, kasihan sekali, padahal anak nya cantik." ucap bi Mumun.
"Ya begitulah bi, dia seperti itu karena tertekan oleh kelakuan suami nya, dan dia juga sering di siksa hingga dia menjadi seperti ini sekarang, makanya Alvin membawa kami berdua kesini salah satu nya mau mengobati Syifa." ucap bu Salma dengan pelan karena takut Syifa mendengar nya dan ngamuk.
"Ya ampun kasihan sekali non Syifa, semoga non Syifa sembuh dan ngga trauma lagi." ucap bi Mumun yang sangat prihatin melihat kondisi Syifa.
"Amin, makasih ya bi."
__ADS_1
Sementara di kamar Alvin, mereka berdua masih betah dengan selimut tebal nya.