
"Kakak lihat sendiri kan, sekarang Alvin sudah sukses kak, dia beda dengan Alvin yang dulu, coba kalau aku sama dia, sudah pasti kartu hitam itu menjadi milikku sekarang, dan aku bisa sepuas nya membeli apa pun yang aku mau." ucap Lina di sela-sela perjalanan mereka ke rumah sakit.
"Diam kamu, kakak lagi berpikir bagaimana caranya mempermalukan perempuan binal itu." ucap Leli dengan wajah kesal nya.
Leli merasa derajat dan harga dirinya sudah di rendahkan oleh Rara, dan Leli tidak bisa menerima nya.
"Kakak gitu saja repot harus mikir, itu masalah mudah lo kak." ucap Lina dengan senyum licik nya.
"Gimana caranya? jangan bilang kamu mau nyuruh orang-orang kamu yang ngga pernah becus dalam melaksanakan tugas nya." Leli tahu kalau adik nya itu selalu nyuruh para pekerja nya untuk melakukan apa yang dia mau, tapi mereka ngga pernah ada yang berhasil satu pun.
"Sini aku bisikin." Lina membisik kan rencana jahat nya untuk mempermalukan Rara dan keluarga ALvin.
"Gimana?" tanya Leli sambil tersenyum.
"Bagus juga ide kamu, tumben kamu pintar, sejak kapan kamu bisa berpikir seperti itu." baru kali ini Lina di puji kakak nya.
"Sejak aku sering jalan bareng sama kak Bi, eh itu kak Bisma, iya kak Bisma." Lina hampir saja keceplosan bicara di depan kakak nya.
"Mampus, hampir saja keceplosan." gumam bathin Lina.
"Pria mana lagi Bisma? Perasaan di kampung kita ngga ada yang namanya Bisma." ucap Leli tanpa ada curiga sedikit pun.
"Itu kak, di kampung sebelah." jawab Lina tanpa melihat wajah kakak nya, Leli hanya ber oh ria sambil mengangguk.
"Maafkan aku kak, kemarin aku sudah terlena sama kak Bima, habis nya dia selalu memuaskan aku, tapi sekarang setelah Alvin kembali ke kampung ini, aku akan melepaskan kak Bima dan akan mendekati Alvin, aku yakin Alvin masih mencintaiku, secara aku adalah wanita yang dari dulu dia cintai." gumam bathin Lina.
__ADS_1
Dulu Alvin memang menyukai Lina dan sangat mencintai nya, tapi karena keluarga Alvin yang miskin, Lina tidak menerima nya, dan sekarang Lina selalu memuaskan birahi nya Bima di kala Leli kakak nya sedang datang bulan.
Awal nya Lina ragu karena Bima adalah suami kakak nya, tapi segala bujuk rayuan dari Bima, hati Lina pun luluh dan mau melakukan nya dengan Bima hingga ketagihan sampai sekarang.
Permainan mereka sangat rapih hingga sampai detik ini perselingkuhan Lina dengan kakak ipar nya itu tidak ada yang mengetahui nya.
*
*
"Sayang kamu kalau lagi marah seram juga ya? kesombongan saja sampai dikeluarkan habis-habis san, baru kali ini aku melihat kamu seperti ini." ucap Alvin.
"Itu memang bukan sifat aku, dan itu memang bukan aku banget, aku kesal setelah mendengar kalau mereka merendahkan mas dan keluarga mas." jawab Rara dengan kepala yang dia sandarkan di dada Alvin.
"Is, ngga enak ujung nya mas ini, aku sombong juga kan saking kesal ma mereka, dan satu lagi, wanita yang sedikit muda tadi seperti nya sangat menyukai mas? Siapa dia?" tanya Rara dengan wajah cemburu nya.
"Dia itu Lina adik nya mbak Leli yang nyerocos terus, dulu mas memang menyukai dia, tapi mas di tolak nya karena mas dan keluarga mas yang miskin." jawab Alvin jujur.
"Oh ternyata seperti itu seleramu mas, tapi seperti nya dia menyukai mas dari cara dia bicara dan gestur tubuh nya tadi." Rara melihat Lina yang bicara sambil menyentuh tangan suami nya membuat dia sedikit cemburu.
"Terserah dia mau menyukai mas atau tidak, yang jelas sekarang mas sudah mempunyai seorang istri yang sangat cantik, baik dan bisa memuaskan mas di ranjang." ucap Alvin dan memelankan suara nya di kalimat terakhir karena takut di dengar oleh ibu nya.
"Dasar mesum, sudah ah mending aku bantu ibu beres-beres, lama-lama sama mas takut khilaf." ucap Rara sambil bangun dari duduk nya.
Alvin menarik tangan Rara yang membuat Rara jatuh dan duduk di pangkuan nya, Alvin menatap damba dan langsung ******* bibir Rara dengan sangat rakus.
__ADS_1
"Mas, nanti ibu dan kak Syifa melihat nya." ucap Rara setelah melepaskan ciuman nya.
"Aku kangen sayang, udah beberapa hari ini senjata ku tidak di asah nya." bisik Alvin yang membuat tubuh Rara merinding seketika.
Jujur Rara juga menginginkan nya, tapi sekuat tenaga Rara menahan nya, dia ngga mau ibu mertua dan kakak ipar nya mendengar suara laknat nya yang selalu dia keluarkan di saat mendapat sentuhan dan kenikmatan dari Alvin.
Kalau di rumah nya dia pasti mau melayani Alvin, selain rumah nya besar, kamar nya juga kedap suara, tapi kalau mereka melakukan nya di sini, di rumah ibu nya Alvin, sudah jelas mereka pasti mendengar nya.
"Nanti saja setelah kita pulang, aku akan memberikan servis yang sangat memuaskan, jadi sekarang mas tahan saja dulu, tinggal beberapa hari lagi kok." ucap Rara lalu mencium seluruh wajah Alvin, agar Alvin mau menahan nya.
"Benar ya?" tanya Alvin.
"Pokok nya mas hanya diam saja, biar nanti aku yang akan menjadi pemimpin nya." ucap Rara sambil mengedipkan mata nya.
Alvin tersenyum lalu berdiri, sebelum pergi Alvin kembali ******* bibir istrinya.
"Mas mau kemana?" tanya Rara sambil menarik tangan ALvin yang hendak pergi dari hadapan nya.
"Mas ngga kuat sayang, jadi mas mau solo dulu di kamar mandi, sudah on ini dari tadi." jawab Alvin sambil menarik tangan Rara dan menempelkan di senjata nya.
"Ya sudah sana pergi, sekarang solo aja dulu, nanti kalau sudah pulang kita duet maut." ucap Rara sambil menepuk pelan senjata ALvin membuat Alvin bergidik lalu pergi ke kamar mandi.
Rara hanya tersenyum melihat Alvin berlari ke kamar mandi, bukan Rara tega, tapi mau bagaimana lagi, kondisi yang tidak memungkin kan, dirinya ngga mau malu karena sudah mengeluarkan suara laknat yang nanti nya di dengar oleh ibu mertua dan kakak ipar nya.
Sambil menunggu Alvin yang sedang konser di kamar mandi, Rara menghampiri ibu dan kakak nya yang sedang memasukan baju mereka ke dalam koper.
__ADS_1