CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Sepemikiran


__ADS_3

Rara sudah memakai baju nya dan di bantu oleh Syifa, "Dek, sarapan dulu ya, habis itu minum obat." ucap Syifa sambil menyelimuti Rara.


"Nanti saja kak, sekarang aku mau tidur, kepalaku pusing."


"Nak, kita sarapan dulu, kalau sudah sarapan kamu boleh tidur." ucap bu Salma sambil masuk dengan membawa makanan.


"Non Syifa juga sarapan, ini bibi sudah bawakan, bibi taro di sini ya." bi Mumun menata makanan nya di atas meja yang ada di kamar itu.


"Makasih bi."


"Non, apa perlu bibi panggilkan dokter?"tanya bi Mumun kepada Rara.


"Ngga usah bi, saya hanya mau istirahat saja."


"Apa yang kamu rasakan sekarang nak?" tanya bu Salma sambil menyentuh kening Rara.


"Aku lemas, pusing ngga enak perut seperti ingin muntah." jawab Rara.


Bi Mumun dan bu Salma saling menatap, sebagai orang yang sudah berpengalaman mereka tahu gejala yang sedang di alami Rara, tapi mereka tidak ingin langsung mengatakan nya.


"Apa kita sepemikiran bi?" tanya bu Salma


"Seperti nya sih iya bu."


Terdengar suara bel berbunyi, bi Mumun mohon izin untuk membuka nya.


"Nak, tolong pergi ke apotek belikan tespack ya." ucap bu Salma dengan nada pelan.


"Tespack? Bukan kah itu? Apa Rara?" tanya Syifa dengan wajah berbinar, kalau pun benar dia sangat bahagia sekali akan mempunyai keponakan, bu Salma hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Ya sudah kalau gitu sekarang aku cari apotek nya minta diantar bibi." Syifa memang belum tahu dengan daerah sekitar, karena memang Syifa belum pernah keluar rumah tanpa Rara dan Alvin, tapi dia sudah mempunyai tekad akan berusaha melawan rasa trauma dan tidak akan merepotkan Rara dan Alvin lagi.


"Kamu sarapan dulu nak, kamu kan belum sarapan." ucap bu Salma.


"Nanti saja bu, pulang dari apotek." ucap Syifa lalu menenggak segelas susu yang sudah disiapkan oleh bi Mumun.

__ADS_1


"Ayo nak kita makan dulu ya? Atau kalau tidak minum susu nya." bujuk bu Salma setelah kepergian Syifa, Rara mengangguk tapi dia hanya masuk dua suap nasi saja karena setelah itu perut nya mual.


Bu Salma tidak mau memaksa, karena dirinya juga dulu pernah merasakan nya,tap sebisa mungkin Rara harus ada makanan yang masuk walaupun hanya sedikit, dan beruntung nya Rara mau minum susu.


Syifa menuruni tangga satu persatu, di lihat nya bi Mumun sedang berbincang di depan pintu dengan seseorang.


"Bi." panggil Syifa sambil menghampiri bi Mumun, Ramzi dan bi Mumun yang mendengar suara mengalihkan pandangan nya.


"Iya non."


"Syifa." teriak Ramzi antara kaget dan senang bersatu, dan kembali jantung nya berdebar di kala mata mereka beradu pandang.


"Perasaan aku selalu seperti ini di kala aku menatap nya." bathin Ramzi.


"Pak Ramzi?" gumam Syifa dengan perasaan yang ngga bisa diungkapkan hadir lagi dalam hati nya, jantung nya yang langsung berdebar di kala nama nya di ucapkan oleh Ramzi.


"Sebenar nya apa yang selalu aku rasakan di kala aku sedang menatap pak Ramzi, kamu sadar Syifa, kamu harus sadar diri." bathin Syifa.


"Kamu kok ada di sini?" tanya Ramzi yang melupakan maksud awal kedatangan nya.


Ramzi mengerutkan kening nya lalu melirik ke arah bi Mumun, seakan-akan dirinya minta penjelasan.


"Kan non Syifa ini kakak kandung nya den Alvin den." ucap bi Mumun yang membuat Ramzi kaget seketika.


"Serius? kenapa saya baru tahu? Kalau tahu dari kemarin, saya sudah sering kesini bi." ucap Ramzi dengan senyum manis nya.


"Senyum pak Ramzi manis sekali, ya ampun Syifa apa sih yang sedang kamu pikirkan." bathin Syifa dengan sedikit menggelengkan kepala nya.


"Den Ramzi nya ngga nanya, coba kalau nanya." bi Mumun tersenyum mendengar perkataan Ramzi, bu Mumun melihat dari sorot pandangan Ramzi kepada Syifa seperti nya Ramzi menyukai Syifa.


"Seperti nya den Ramzi menyukai non Syifa, mudah-mudahan den Ramzi mau menerima non Syifa apa ada nya." bathin bi Mumun.


"Bi, malah melamun." ucap Syifa membuyarkan lamunan nya bi Mumun.


"Eh iya non, kenapa?"

__ADS_1


"Bibi bisa antar aku ke apotek ngga? aku di suruh ibu." ucap Syifa sambil menghindar tatapan dari Ramzi.


"Biar saya yang antar, biar lebih cepat juga, kan kalau sama bibi pasti lama." ucap Ramzi sambil sedikit mengerlingkan mata nya kepada bi Mumun.


Bi Mumun yang mengerti kerlingan mata Ramzi pun mengerti, "Iya non sama den Ramzi saja, bibi mau buatkan ramuan buat non Rara." bi Mumun mencari alasan agar dirinya tidak di paksa Syifa untuk menemani nya ke apotek.


"Tapi bi,"


"Ngga apa-apa non, den Ramzi orang nya baik kok, percaya deh sama bibi." ucap bi Mumun meyakinkan Syifa, bi Mumun mau Syifa sembuh dan melupakan rasa trauma nya.


"Ayo saya antar." ajak Ramzi sambil tersenyum.


Syifa terdiam dan berpikir, dia mengingat kembali ucapan dari dokter dan ucapan Rara yang selalu memberi nya semangat dan meyakin kan kalau Ramzi adalah orang baik.


Dengan perlahan Syifa melangkah kan kaki nya, tubuh nya yang sedikit gemetar dan keringat yang mulai keluar dari kening nya membuat nya sekuat tenaga melawan rasa trauma datang kembali.


Ramzi membuka kan pintu mobil untuk Syifa, dengan menahan segala rasa yang ada pada tubuh nya, Syifa masuk dan duduk di kursi depan.


"Terima kasih pak." ucap Syifa sambil memasangkan safety belt nya.


Ramzi hanya mengangguk sambil tersenyum dan mulai melajukan mobil nya dengan perlahan.


Hening dan sepi di dalam mobil itu, mereka berdua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, Ramzi sudah memberi kan tugas nya kepada sekertaris dan orang kepercayaan nya, dan bilang kalau dirinya tidak bisa masuk kantor.


Sekedar untuk menghilangkan sepi, Ramzi memutar musik klasik dengan suara pelan.


"Pak Ramzi ngga kerja?" Syifa memberanikan diri untuk bertanya kepada Ramzi.


"Tadi nya saya mau kerja setelah melihat Rara sebentar, tapi seperti nya hari ini saya ngga masuk saja lah."


"Lo kok gitu? Lagian juga Rara ngga apa-apa kok, dia cuma mau istirahat saja."


"Saya memutuskan tidak masuk kerja ketika di rumah Rara ada kamu, saya ingin mengenal kamu lebih dekat lagi, saya ingin berbincang sama kamu dan menghabiskan hari ini bersama kamu saja."


Ungkapan dari Ramzi membuat muka Syifa langsung berubah warna menjadi merah, baru kali ini ada orang yang membuat hati nya bergetar, dan baru kali ini dia merasa bahagia ketika dirinya mendengar ada seorang pria yang ingin menghabiskan waktu dengan diri nya.

__ADS_1


__ADS_2