
Alvin dan Rara keluar kamar, Alvin yang menyunggingkan senyuman sedangkan Rara dengan wajah kusut nya.
"Pagi dek, kenapa wajah istri kamu seperti itu?" tanya Syifa yang sedang menikmati sarapan nya.
"Pagi juga kak, ibu kemana kak?" bukan nya menjawab pertanyaan Syifa, Alvin malah balik bertanya kepada kakak nya itu.
"Ibu lagi pergi ke pasar sama bi Mumun, kamu masih sakit dek? Kok belum siap-siap buat pergi ke kantor?" tanya Syifa sambil melihat penampilan Rara.
"Ngga, mulai hari ini kakak yang menggantikan dia." jawab ALvin dengan tegas.
"Tapi kan kakak belum menguasai semua ya dek." ucap Syifa.
"Perlahan saja kak, nanti juga kakak bisa, mbak Dian yang akan membantu kakak nanti."
"Memang nya kamu masih sakit dek?" tanya Syifa kepada Rara yang hanya diam dari tadi.
"Dia ngga sakit kak." lagi-lagi ALvin yang menjawab.
"Terus kalau ngga sakit kenapa ngga boleh pergi ke kantor?"
"Ini lihat saja sama kakak sendiri." ucap ALvin sambil memberikan tespack.
Syifa mengambil dan memperhatikan tespack yang dia beli kemarin, sudah tertera garis dua berwarna merah di sana membuat Syifa berjingkrak.
"Apa! Kamu positif dek? Berarti aku mau punya keponakan dong, baik kalau begitu sekarang aku ngerti dan memang seharus nya kamu diam di rumah, kamu ngga boleh kecapean, pokok nya adek harus benar-benar menjaga nya." ucap Syifa yang membuat Rara tambah kesal.
"Kalian adik kakak yang tidak punya perasaan." ucap Rara dengan wajah kesal nya.
"Kita bukan ngga punya perasaan adik ipar sayang, tapi kita berdua itu terlalu sayang sama kamu." ucap Syifa sambil memeluk bahu Rara dari samping.
"Ada apa ini? Kok kalian belum pada berangkat?" tanya bu Salma dengan kedua tangan nya penuh dengan belanjaan.
"Ibu, lihat ini bu, adik ipar positif." teriak SYifa sambil memperlihatkan tespack kepada bu Salma.
"Alhamdulilah, terima kasih nak, akhir nya ibu akan punya cucu." ucap bu Salma dengan rona wajah bahagia nya, dia melempar barang belanjaan nya terus memeluk erat Rara.
__ADS_1
"Alhamdulilah, ternyata benar dugaan kita." ucap bi Mumun yang ikut bahagia mendengar kabar ini.
"Kita semua pada bahagia, kenapa kamu cemberut nak? Apa kamu ngga mengharapkan nya?" tanya bu Salma sambil menatap wajah kesal Rara.
"Aku sangat senang kok bu, aku hanya kesal dengan keputusan mas Alvin, kakak juga malah ikut-ikutan." jawab Rara dengan wajah cemberut nya.
"Memang nya Alvin kenapa?" tanya bu Salma sambil membelai rambut panjang Rara.
"Masa aku ngga boleh kerja lagi, terus kakak bukan nya bantu aku merayu mas Alvin, ini malah ikut-ikutan nyuruh aku ngga boleh kerja."
"Sayang dengarkan ibu, ini kehamilan kamu yang pertama, terus usia kandungan nya juga masih sangat muda, jadi sebaik nya kamu ngga boleh kerja, kamu ngga boleh melakukan aktifitas yang membuat kamu capek, kalau kamu ngga percaya, kamu ke dokter periksa sekarang, pasti dokter pun sama dengan ucapan ibu." bu Salma selalu lemah lembut kalau menghadapi anak-anak nya yang lagi dalam emosi, sehingga membuat Rara mengerti dan menurut.
"Baiklah bu, aku tidak akan kerja, mas antar aku ke rumah sakit ya." ucap Rara.
"Kemana pun aku akan sellau siap." ucapAlvin sambil tersenyum.
"Tapi setelah periksa aku mau ke rumah papah, aku mau memberikan kabar ini lngsung kepada mereka."
"Iya sayang, mas antar kamu." Alvin senang karena istrinya sudah mulai tersenyum lagi.
"Sama saya saja." teriak seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Kak Ramzi."
"Pak Ramzi." ucap Rara dan Syifa bersamaan.
Setelah semalaman berpikir Ramzi memutuskan untuk mengenal Syifa lebih dekat lagi, kalau memang Syifa sudah menjadi jodoh nya, Ramzi akan menerima status Syifa yang sekarang.
"Benarkah kakak mau mengantar Syifa ke kantor?" tanya Alvin.
"Benar, sekalian ada yang mau kakak urus di sana, boleh kan bu aku mengantar Syifa ke kantor?" tanya Ramzi kepada bu Salma.,
"Boleh banget nak, lagian hanya kamu yang kami kenal, dan ibu percaya kalau nak Ramzi bisa menjaga Syifa." ucap bu Salma sambil tersenyum penuh arti, ini memang keinginan bu Salma mereka bisa lebih dekat dan lebih saling mengenal lagi.
"Selamat ya dek atas kehamilan kamu." ucap Ramzi sambil tersenyum, Ramzi senang mendengar Rara sedang mengandung, tapi Ramzi lebih senang lagi ketika bu Salma sudah percaya sama dirinya untuk menjaga Syifa.
__ADS_1
"Kakak nanti di temani mbak Dian ya, nanti aku hubungi mbak Dian nya." ucap Alvin.
"Iya dek." Syifa mengambil tas kerja nya dan siap untuk pergi.
"Ya sudah kalau sudah siap sekarang kita berangkat, takut macet di jalan." ajak Ramzi sambil tersenyum.
Syifa yang sedang menatap Ramzi jantung nya langsung berdebar ketika melihat senyuman manis dari bibir Ramzi.
"Kalau begitu aku berangkat ya bu." Syifa pamit kepada bu Salma sambil mencium telapak tangan nya, di susul oleh Ramzi.
"Kalau begitu kita juga berangkat ya bu." Alvin dan Rara pun ikut pamit.
Bu Salma menatap kepergian kedua anak nya dengan senyuman yang mengembang, bu Salma ngga pernah menyangka hidup nya akan berubah menjadi lebih baik seperti sekarang, dulu yang selalu kekurangan, kini malah ngga pernah kurang apapun, walaupun dirinya tidak pegang uang sama sekali pun tidak akan risau dan gelisah, karena persediaan makanan di dapur melimpah.
*
*
"Maaf kemarin saya ada kerjaan mendadak jadi langsung pulang dan ngga pamit dulu sama kamu." ucap Ramzi membuka obrolan nya.
"Ngga apa-apa pak, kerjaan lebih penting." entah kenapa Syifa merasa kalau Ramzi sedang menghindar dari nya tapi Syifa berusaha untuk seperti biasa didepan Ramzi.
Entah karena sering bertemu atau memang Syifa sudah benar-benar sembuh, pagi ini tubuh Syifa biasa saja, tidak gemetar sedikit pun bahkan keringat yang selalu keluar di kening nya kini tidak nampak sama sekali.
Ada sedikit rasa bersalah pada diri Ramzi ketika mendengar ucapan Syifa yang bilang kalau kerjaan lebih penting bagi diri nya.
"Pulang nya nanti aku jemput lagi ya?" tanya Ramzi mengganti panggilan nya dari saya menjadi aku.
"Aku? Kenapa panggilan nya jadi aku?" bathin Syifa sedikit heran.
"Bagaimana? Apa kamu keberatan jika aku menjemput kamu?'" pertanyaan Ramzi mengagetkan Syifa.
"Tidak, saya tidak keberatan, tapi itu akan membuat bapak repot." jawab Syifa yang sudah tersadar dari lamunan nya.
"Aku tidak repot kok, tenang saja, pokok nya mulai hari ini tugas aku mengantar jemput kamu, tidak ada penolakan lagi." ini kesempatan Ramzi untuk mendekat kan diri dengan Syifa.
__ADS_1
Syifa hanya menghela nafas lembut, dia pasrah dengan keputusan Ramzi dan adik nya, sebab mau bagaimana pun dirinya belum berani pergi sendirian.