
"Aku kan sudah bilang dari awal kalau aku mau nya sate kambing bukan sate ayam." teriak seorang pria sambil menampar istri nya .
"Tapi mas, kamu kan punya darah tinggi, jadi ngga boleh makan sate kambing." ucap si istri sambil menangis.
"Aku tidak perduli, pokok nya aku mau makan sate kambing." teriak nya lagi.
Sepasang suami istri itu berdebat pas di depan mata Syifa membuat tubuh Syifa seketika gemetar, keringat mulai bercucuran di kening nya.
"Tidak! Jangan pukul, jangan pukul lagi." teriak Syifa mengagetkan semua nya termasuk pasangan suami istri yang sedang berdebat.
Ramzi yang melihat tubuh Syifa gemetar dan menutup matanya langsung memeluk erat Syifa.
"Tenang, aku akan selalu melindungi kamu, kamu akan aman dengan aku." ucap Ramzi sambil terus mengusap lembut punggung Syifa.
Untung acara makan mereka berdua sudah selesai, Syifa yang merasakan nyaman dengan pelukan dan sentuhan dari Ramzi mulai tenang, tanpa di sadari Syifa kepala nya bersandar di dada Ramzi.
"Pak, bisa ngga jangan berlaku kasar kepada perempuan, apalagi dia itu istri anda yang akan menemani anda sampai anda tua bahkan sampai anda menghembuskan nafas terakhir anda, dia yang akan dengan ikhlas mengurus anda di kala anda sakit." Ramzi menegur si bapak yang menampar istri nya.
"Dia nya saja ngga mengerti keinginan suami nya, memang dia nya sudah ngga sayang sama saya." pria paruh baya itu membela dirinya.
"Justru karena istri anda sayang sama anda makanya dia tidak memperbolehkan anda makan sate kambing, anda tahu resiko yang punya darah tinggi makan daging kambing? orang itu akan langsung struk atau bisa jadi langsung meninggal dunia." Ramzi sangat kesal dengan jawaban dari pria itu.
Pria paruh baya itu terdiam dan mencerna semua yang di ucapkan Ramzi, "Istriku maafkan aku, aku tidak akan kasar lagi pada kamu, mulai sekarang aku akan nurut apa yang kamu bilang." pria itu kini sadar setelah mendengar ucapan dari Ramzi.
"Terima kasih mas, anda sudah menyadarkan suami saya."
"Sama-sama bu, semoga kalian hidup bahagia, ayo kita pulang." ucap Ramzi lalu mengajak Syifa untuk pulang.
__ADS_1
Efek pelukan yang membuat nyaman, Syifa sampai tidak mau mengangkat kepala nya dari dada Ramzi, Ramzi dengan jantung yang berdetak sangat keras terus memeluk bahu Syifa sambil berjalan menuju mobil nya.
"Jantung pak Ramzi sama dengan jantung ku, jantungku juga berdetak seperti ini, ah kenapa aku nyaman sekali dalam pelukan nya." bathin Syifa.
"Detak jantungku pasti di dengar oleh Syifa, bodo amat lah yang penting dia tenang." bathin Ramzi.
Ramzi membuka pintu mobil nya, Syifa dengan setengah hati mengangkat kepala nya dan masuk ke dalam mobil, Syifa menyandarkan punggung nya, kedua mata nya dia pejam kan, kembali kejadian di mana Bima memukul dan menampar nya terlihat jelas di mata nya.
Ramzi yang kini sudah duduk di belakang kemudi menatap Syifa dengan serius.
"Begitu terluka nya hati kamu sampai kamu seperti ini, aku janji aku akan selalu melindungi kamu." bathin Ramzi.
Terlihat oleh Ramzi tubuh Syifa kembali gemetar dan keringat mulai bercucuran di kening nya.
Dengan perlahan Ramzi mengelap keringat di kening Syifa dengan tisu.
"Tenang Syifa, tenang, ada aku di sini, buka mata kamu, aku Ramzi, aku akan selalu melindungi kamu." ucap Ramzi sambil memegang kedua bahu Syifa.
Dengan nafas yang tidak beraturan Syifa mulai membuka matanya, dia menatap mata Ramzi yang sedang menatap diri nya.
"Tenang ya, aku akan selalu melindungi kamu, lupakan semua nya, hapus semuanya dari ingatan kamu, kamu harus bangkit, kamu harus tunjuk kan kepada dunia terutama sama orang yang sudah menyakiti kamu kalau kamu mampu dan kamu jangan mudah lagi bisa ditindas sama orang lain, kamu kuat Syifa, aku yakin kamu bisa." ucap Ramzi sambil menatap dalam mata Syifa.
Mereka berdua saling menatap, menyelami perasaan mereka, tubuh Syifa mulai kembali tenang, entah dorongan dari mana Ramzi sedikit demi sedikit mendekat kan wajah nya ke wajah Syifa.
Syifa yang merasa terhipnotis oleh tatapan Ramzi bukan nya menghindar tapi dia malah memejamkan kedua matanya.
Bibir mereka berdua pun sudah bertemu, kenyal dan hangat yang mereka berdua rasakan, hujan turun tanpa permisi membuat malam ini seperti di khususkan untuk mereka berdua yang ingin saling menghangatkan satu sama lain nya.
__ADS_1
"Bibir nya hangat, tidak seperti bibir Bi, cukup Syifa kamu harus melupakan dia, yang ada di hadapan kamu sekarang Ramzi bukan laki-laki brengsek itu." bathin Syifa.
"Manis sekali bibir kamu Syifa, baru kali ini aku merasakan bibir seorang wanita." bathin Ramzi sambil sedikit menggerak kan bibir nya.
Sejenak Syifa melupakan rasa trauma nya ketika dirinya mendapat ciuman yang lembut dari Ramzi.
Syifa mulai terlena dengan ciuman Ramzi, jujur bagi Syifa ini memang bukan ciuman pertama nya, tapi sensasi yang di berikan Ramzi sangat berbeda dengan yang diberikan oleh Bima, Bima yang kasar dalam segala hal hingga membuat Syifa hanya terpaksa saja melayani nya, sedangkan dengan Ramzi, Ramzi melakukan nya dengan penuh kelembutan dan penuh dengan perasaan.
Ciuman mereka semakin panas di tambah udara yang sangat dingin karena memang lagi hujan deras menambah suasana menjadi lebih romantis.
"Mas, seperti nya itu mobil kak Ramzi, sedang apa dia? Apa sedang beli sate juga." ucap Rara sambil menunjuk mobil di depan nya.
Rara dan Alvin memang sedang dalam perjalanan pulang sehabis melakukan prewed dan fitting baju pengantin di rumah nya pak Ramly, tapi dalam perjalanan pulang nya Rara meminta di belikan sate.
"Kamu jangan keluar ya sayang, biar mas yang pesan sate nya, dan mas akan melihat apa benar ada kak Ramzi di dalam sana." ucap Alvin sambil bersiap keluar dari mobil.
"Hati-hati mas jalan nya licin." Alvin hanya mengangguk lalu keluar dari mobil dengan memakai payung.
Alvin langsung memesan sate nya dan melihat ke arah sekitar yang sedang menikmati sate nya, tapi tidak ada sosok yang di cari nya, karena Alvin penasaran Alvin menghampiri mobil Ramzi.
"Apa kak Ramzi ada di dalam mobil?" bathin Alvin.
Sedangkan di dalam mobil masih asik dengan cumbuan mereka, saling menghangat kan lewat bibir mereka masing-masing.
"Kak, apa kak Ramzi ada di dalam." teriak Alvin sambil mengetuk kaca mobil Ramzi.
Syifa dan Ramzi yang mendengar ketukan di kaca mobil nya kaget dan langsung melepaskan cumbuan nya, untung saja kaca mobil Ramzi gelap jadi ngga ada yang bisa melihat apa yang telah mereka lakukan di dalam.
__ADS_1