CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Gejala


__ADS_3

"Permisi bu, saya mau mengantarkan puding kesukaan nya non Rara." ucap bu Salma sambil menata nya di atas meja.


"Simpan saja dulu bi, Rara nya lagi tidur, lo kok bibi masih di sini? terus Syifa pergi ke apotek nya sama siapa?" tanya bu Salma kaget.


"Oh non Syifa tadi berangkat ke apotek nya diantar den Ramzi bu, kebetulan tadi den Ramzi mampir kesini jadi sekalian saja dia mengantar nya."


"Kenapa bibi membiarkan nya, kalau dia teriak histeris seperti semalam gimana?" bu Salma sangat khawatir dengan Syifa.


"Ibu tenang saja, den Ramzi orang baik dan dia pasti bisa menangani nya, dan saya perhatikan seperti nya den Ramzi menyukai non Syifa." bi Mumun mencoba membuat hati bu Salma tenang dan ngga terlalu khawatir lagi dnegan keadaan Syifa.


"Masa sih bi, tapi saya takut nak Ramzi tidak akan menerima status dan keadaan Syifa, bibi juga kan tahu Syifa bagaimana."


Bi Mumun dan bu Salma pun berbincang dengan suara pelan karena takut mengganggu tidur nya Rara.


"Percaya sama bibi, den Ramzi pasti akan menerima non Syifa, yang harus kita lakukan sekarang hanya memberi semangat kepada non Syifa untuk bisa melawan rasa trauma nya.


*


*


Syifa melangkah masuk ke dalam apotek di temani Ramzi, semua mata memandang kagum kepada mereka.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang penjaga apotek.


"Saya mau beli tespack mbak." jawab Syifa.


"Kenapa Syifa membeli tespack? Apa jangan-jangan Rara sedang mengandung." bathin Ramzi.


"Ini mbak tespack nya, semoga hasil nya positif ya mbak, ini kan suami nya?" pegawai apotek penasaran.


"Iya saya suami nya, ini adalah anak pertama untuk kita berdua, sebelum ke dokter kita ingin memastikan nya dulu dengan pemeriksaan pakai tespack." ucap Ramzi sambil memeluk pinggang Syifa, Ramzi ngga mau Syifa di cap perempuan ngga baik karena membeli tespack.


Syifa yang mendapat pelukan dadakan dari Ramzi membuat dirinya kaget dan menahan gemetar di tubuh nya, ingin sekali Syifa menampar Ramzi dan menjerit minta tolong, tapi ucapan dokter dan Rara terus terngiang di telinga nya.

__ADS_1


"Terimakasih mbak." Ramzi membayar tespack lalu menarik tangan Syifa untuk keluar dari apotek.


Kini Syifa sudah duduk di dalam mobil kembali sambil mengatur nafas nya, keringat di kening nya sudah mulai bercucuran, Ramzi yang melihat kodisi Syifa kaget, dia teringat semalam dikala Syifa berteriak histeris di kala dirinya mendekati Syifa.


"Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan? Atau kita pergi ke dokter sekarang." ucap Ramzi dengan khawatir.


"Kenapa bapak memeluk saya tadi?" tanya Syifa sambil terus melawan rasa trauma nya.


"Maafkan saya jika itu membuat kamu seperti sekarang, sungguh saya tidak ada maksud lain, saya hanya tidak mau orang-orang yang ada di dalam apotek itu berburuk sangka sama kamu, tenang ya Syifa saya ngga bakal ngapa-ngapain kamu kok." Ramzi merasa bersalah melihat Syifa seperti tu.


Syifa terus melawan rasa trauma nya dan membuat dirinya tenang.


"Sebenar nya apa yang sudah kamu alami Syifa, sehingga kamu merasa ketakutan seperti ini dikala aku mendekati kamu." bathin Ramzi sambil berusaha melirik Syifa, sebenar nya Ramzi ingin sekali menenangkan Syifa dengan cara mengusap tangan dan menatap nya, tapi Ramzi takut Syifa berteriak dan berontak.


"Sudah pak ngga apa-apa, ayo sekarang kita pulang." ucap Syifa setelah merasa dirinya tenang.


"Benar kamu sudah ngga apa-apa?" Ramzi ingin meyakinkan, Syifa terlihat mengangguk kan kepala nya, Ramzi mulai melajukan mobil nya.


Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya diam dan hanya suara alunan musik yang terdengar.


Di dalam rumah bu Salma sedang khawatir karena Syifa pergi nya lama.


"Syifa kok lama ya bi? Saya takut terjadi apa-apa dengan nya, ini pertama kali dia keluar tanpa di dampingi Alvin atau pun Rara." ucap bu Salma.


"bu tenang saja, mungkin sebentar lagi mereka datang, kalau begitu saya ke bawah dulu ya bu, sekalian mau menyiapkan buat makan siang kita."


"Baiklah bi kalau Syifa sudah sampai tolong suruh langsung menemui saya."


"Baik bu." bi Mumun meninggalkan bu Salma yang masih dengan setia menemani menantu nya.


"Bu." panggil Rara yang sudah bangun dari tidur nya.


"Iya nak kenapa?"tanya bu Salma.

__ADS_1


"Aku mau makan rujak, sepertinya enak deh kalau lagi pusing begini makan rujak." ucap Rara sambil menelan saliva nya.


"Kamu mau rujak nak? Sebentar ibu akan membuat nya, kamu tunggu dulu ya." bu Salma yakin kalau menantu nya itu lagi ngidam, beliau berjalan menuju dapur dengan perasaan bahagia.


"Siang bu." sapa Ramzi dengan sopan.


"Siang nak Ramzi, makasih ya sudah mengantar Syifa ke apotek."


"Ngga usah berterima kasih bu, itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai kakak nya Rara."


"Bu, ini tespack nya." ucap Syifa sambil memberikan tespack nya.


"Oh iya nak, kamu simpan dulu, ibu mau buat rujak, adik ipar kamu mau di bikinin rujak."


"Rujak? Jadi benar aku akan punya keponakan?" tanya Syifa.


"Gejala nya sih memang seperti lagi ngidam, tapi kita jangan bahagia dulu sebelum Rara menggunakan tespack nya." ucap bu Salma.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi untuk melihat Rara." Alvin meminta izin kepada bu Salma.


"Silahkan nak." bu Salma menatap Syifa dan Ramzi yang sedang menuju ke kamar Rara, ada seberkas kebahagiaan yang bu Salma rasakan seandainya Syifa bisa membuka hati nya dan Ramzi menerima Syifa, tapi bu Salma tidak mau terlalu berharap karena bu Salma sadar dengan status dan keadaan Syifa putri nya, bu Salma hanya bisa berdo*a suatu saat ada yang menerima Syifa apa ada nya.


Setelah Syifa dan Ramzi tidak terlihat lagi, bu Salma melanjutkan langkah nya dan menemui bi Mumun.


"Bi, ada buah apa saja di kulkas?" tanya bu Salma dengan bibir yang terus menyunggingkan senyuman nya.


"Ada bu, ibu mau apa biar saya ambilkan." ucap bi Mumun sambil membuka kulkas nya.


"Saya mau buat rujak bi, Rara mau makan rujak, dan seperti nya apa yang kita pikir kan benar bi, tapi saya ngga mau terlalu bahagia dulu soalnya takut kecewa."


"Tapi melihat gejala nya sih saya yakin kalau non Rara sedang mengandung."


Mudah-mudahan saja ya bi, saya sangat berharap sekali kehadiran cucu."

__ADS_1


Bu Salma di bantu bi Mumun membuat rujak pesanan Rara, mereka berdua bahu membahu untuk membuat rujak yang enak yang akan di sukai oleh Rara.


__ADS_2