CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Alvaro Mahesa


__ADS_3

Wajah bahagia dari Alvin dan ibu nya terpancar menatap bayi mungil yang masih merah.


Tak henti-henti nya Alvin mengucapkan terima kasih sambil mencium seluruh wajah Rara.


"Nak ponsel ibu ketinggalan, kamu hubungi Syifa dan keluarga nak Rara, beritahukan mereka kalau nak Rara sudah melahirkan." ucap bu Salma.


"Ya ampun aku sampai lupa, ya sudah aku hubungi mereka dulu ya sayang." Alvin kembali mencium kening Rara, Rara hanya tersenyum melihat kelakuan suami nya.


"Cucu nenek tampan sekali." ucap bu Salma sambil menatap bayi Rara.


"Kenapa dia mirip sama mas Alvin." ucap Rara sedikit kesal.


"Karena dia ayah nya sayang." bu Salma tersenyum, dia tahu kalau Rara kesal karena anak nya tidak mirip dengan nya.


"Tapi kan aku ibu nya, aku yang mengandung nya selama sembilan bulan, tapi kenapa begitu keluar malah mirip mas Alvin."


"Baiklah kalau begitu nanti kita buat lagi yang mirip kamu, biar adil." ucap Alvin sambil menghampiri Rara.


"Buat, buat, kamu harus puasa selama enam puluh hari." bu Salma menjewer telinga Alvin yang sudah bicara tanpa filter di hadapan nya.


"Sukurin kamu mas, lagian kalau ngomong asal saja." Rara tersenyum melihat Alvin di jewer ibu nya.


"Maaf mengganggu, adek bayi nya sudah selesai kan minum ASI nya, sekarang waktu istirahat." seorang suster mengambil bayi mereka untuk di tempatkan di ruang bayi.


"Silahkan sus." sebenar nya Rara ngga mau jauh-jauh dari anak nya, tapi mau bagaimana lagi, ini rumah sakit, jadi bayi harus berada di ruang bayi.


*


*


Kini mereka sudah berkumpul di rumah sakit, Syifa dan Ramzi pulang kerja langsung menjenguk Rara dan bayi nya.


"Sayang lihat deh bayi nya lucu sekali, aku juga pengen dong." ucap Ramzi sambil menatap bayi Rara yang berada di dalam gendongan Syifa.


"Nanti ya mas, kalau kita sudah mengadakan resepsi." sebenar nya Syifa juga menginginkan nya, tapi dia ngga mau kalau lagi resepsi dia muntah-muntah atau kecapean, jadi dia milih untuk menunda nya dulu sampai acara resepsi berlangsung.


"Aku mau tiga sekaligus ya sayang." Ramzi bicara tanpa beban.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu saja yang hamil aku ikhlas mas." Syifa tersenyum kesal kepada suami nya.


"Masa aku yang hamil, kamu ini ada-ada saja."


"Lagian nyuruh hamil sekaligus tiga, satu aja berat mas harus di bawa kemana-mana."


Bu salma tersenyum melihat Syifa dan Ramzi bercanda, dia sungguh tidak menyangkan kalau Syifa akan sembuh dan akan mendapatkan lagi pendamping sebaik Ramzi, tanpa terasa air mata nya membasahi pipi yang sudah mulai keriput.


"Ibu kenapa menangis?" tanya Alvin sambil menghapus air mata ibu nya.


"Ibu menangis karena bahagia nak, ibu tidak menyangka dengan kehidupan kita yang berubah seperti sekarang, dan ibu lebih bahagia lagi melihat kakak kamu yang sekarang." jawab bu Salma dengan mata yang terus menatap ke arah Syifa.


"Mana cucu nya opah ." teriak pak Ramly sambil membuka pintu ruangan.


Pak Ramly dan bu Rasti langsung berangkat begitu mendengar kabar Rara sudah melahirkan cucu nya.


Dengan segala hadiah di tangan nya bu Rasti menghampiri Rara.


"Selamat ya nak, sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu, mulai sekarang kamu akan menikmati jadi seorang ibu." bu Rasti mencium seluruh wajah anak nya.


"Boleh mamah menggendong nya?" pinta bu Rasti sambil menatap bayi tampan di depan nya.


Mereka semua bahagia dengan kehadiran cucu mereka, hingga bayi tampan yang masih merah itu kini menjadi rebutan semua nya.


"Lihat deh mas, masa aku yang hamil mereka yang memiliki nya."


"Sabar sayang, nanti kita buat lagi."


"Dasar mesum, baru juga aku melahirkan sudah mikir membuat nya." Rara memukul pelan bahu suami nya, Alvin hanya tersenyum mendengar ucapan istri nya.


"Kak, sekarang bagian kakak ya yang hamil, biar anak aku ngga jadi rebutan mereka." ucap Rara sambil menatap ibu dan kedua mertua nya sedang mengelilingi bayi nya.


"Iya nanti setelah melangsungkan resepsi." ucap Syifa.


"Memang nya kapan resepsi nya?" tanya Rara penasaran.


"Minggu depan." jawab pak Ramly sambil menghampiri mereke dan meninggalkan istrinya dan bu Salma yang sedang menggendong cucu nya.

__ADS_1


"Minggu depan? Kenapa papah baru ngasih tahu sekarang?"tanya Ramzi dengan wajah kaget nya.


"Kenapa mendadak pah?" tanya Syifa.


"Kan dari awal sudah di bilang, setelah Rara melahirkan, kita akan langsung melaksanakan resepsi, biar papah cepat punya cucu banyak." ucap pak Ramly dengan senyum bahagia nya.


"Tapi aku belum bisa ikut gabung di acara resepsi nya dong pah." protes Rara.


"Kamu bisa gabung sayang, asal kamu jangan melakukan apa-apa, kamu cukup duduk diam saja, kalau capek kamu istirahat saja, lagian juga kan ini hanya resepsi bukan acara ijab kobul." ucap bu Salma.


"Benar yang di ucapkan bu Salma, kamu bisa ikut gabung kok sayang, anak kamu biar kita yang jaga nanti nya kalau kamu merasa kerepotan." ucap bu Rasti sambil menatap cucu nya dengan sebuah senyuman.


"Oke, kalau begitu sudah deal ya, kalau acara kita lakukan minggu depan."


"Ya sudah terserah papah saja, aku hanya mengikuti nya saja." ucap Ramzi.


"Sebentar, ngomong-ngomong nama bayi kalian siapa?" Syifa baru sadar kalau bayi Rara belum di kasih nama.


"Oh iya, kita juga sampai lupa tidak menanyakan nya." ucap bu Salma dan bu Rasti bersamaan.


"Bagaimana kalau Alvaro Mahesa." ucap Rara sambil tersenyum.


"Bagus juga sayang, ya sudah kita kasih nama Alvaro saja." Alvin menyetujui nama yang di kasih istri nya.


"Alvaro." gumam pak Ramly sambil menganggukkan kepala nya.


Mereka semua terlihat sangat bahagia, apalagi di tambah dengan kehadiran ALvaro di tengah-tengah mereka.


Kini kebahagiaan bu Salma semakin bertambah setiap hari nya.


"Kami tinggal menantikan cucu dari kalian berdua." ucap bu Rasti.


"Iya mah, nanti setelah acara resepsi kita program." jawab Ramzi.


"Sudah ngga sabar, nanti kita kalau banyak cucu, rumah akan semakin ramai, pah, kita pindah lagi yuk ke sini? perusahaan di sana kan sudah lancar." bu Rasti ngga mau jauh-jauh dari cucu nya.


"Ya sudah nanti kita urus, tapi untuk sementara kita pulang dulu, kita selesaikan semua kerjaan di sna dulu baru kita pindah lagi kesini."

__ADS_1


"Terima kasih opah, Alvaro jadi akan selalu dekat dengan omah." ucap bu Rasti dengan suara yang seperti anak kecil.


Mereka semua tertawa mendengar ucapan bu Rasti yang seperti anak kecil itu.


__ADS_2