CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Terkejut


__ADS_3

"Mas ini kampung kamu ya?" Rara dan Alvin kini sudah sampai di kampung halaman nya Alvin.


"Iya sayang, sebentar lagi kita sampai, tapi kamu jangan kaget ya kalau nanti melihat rumah aku."


"Ngga lah sayang, ngapain harus kaget, yang penting kan tidak kehujanan dan tidak kepanasan." ini yang di suka Alvin dari Rara, dia ngga pernah sombong walaupun dia orang kaya.


"Berhenti di depan pak." ucap ALvin kepada sopir taxi.


"Terima kasih pak." ucap Alvin sambil memberikan beberapa lembar uang.


"Ini kebanyakan tuan." ucap pak sopir sambil memberikan kembali uang Alvin.


"Ngga apa-apa pak, ambil saja."


"Terima kasih tuan, nyonya." betapa senang dan bahagia nya pak sopir mendapat uang banyak dari Alvin.


Rara dan Alvin hanya mengangguk dan tersenyum, lalu turun dari mobil.


Alvin menatap rumah nya sambil tersenyum, "Bu, kak, aku kembali, aku akan membangun rumah yang besar buat kalian." ucap Alvin.


"Itu rumah nya mas?" Rara ikut menatap rumah tua Alvin, sepi seperti tidak ada penghuni.


"Iya sayang, di sinilah aku tinggal dari kecil, kangen juga sama suasana kampung ini, ternyata banyak yang berubah." Alvin melihat ke arah sekitar yang memang sebagian sudah ada yang berubah, cuma rumah nya saja yang belum berubah.


"Kok sepi ya mas? Apa ibu dan kakak mas lagi pada pergi?" tanya Rara.


"Kalau jam-jam segini mereka pasti lagi di ruang belakang, ya sudah ayo kita masuk, kita kasih surprise mereka."


Alvin dan Rara pun melangkah menuju rumah nya dengan perlahan, Alvin ingin membuat kejutan buat ibu dan kakak nya, mereka berdua berjalan tanpa suara dengan koper di tangan mereka.


Sementara di dalam rumah, tepat nya di ruang belakang, bu Salma sedang berusaha memberi makan Syifa, dengan kondisi Syifa saat ini, bu Salma sedikit kerepotan, Syifa yang terkena mental akibat penganiayaan dari Bima suami nya.


"Ha,ha,ha kamu jahat! Ya kamu jahat! Ha,ha, ha, hik, hik, hik,"

__ADS_1


Begitulah kondisi Syifa saat ini, selama menikah dengan Bima, bukan bahagia yang dia dapatkan, tapi tekanan demi tekanan yang dia dapatkan hingga dia kini menjadi gila.


"Nak, ayo makan dulu." ajak bu Salma dengan mata yang sudah basah dengan air mata nya.


Bu Salma tidak menyangka dengan nasib yang dialami anak pertama nya ini.


"Alvin anak ku, kenapa kamu belum pulang juga nak? Lihatlah kondisi kami nak? Lihat kondisi kakak kamu, ibu sudah ngga sanggup lagi, cepat pulang nak." gumam bathin bu Salma sambil menghapus air mata nya.


"Aku bahagia, aku kaya, aku akan bunuh kamu! Hik, hik, hik, ha, ha, ha."


"Nak sudah cukup, kamu harus kuat nak, ibu akan selalu ada buat kamu."


Bu Salma sangat sabar menghadapi Syifa anak nya dengan kondisi saat ini.


Untung saja sisa uang pemberian dari Bima dulu Syifa simpan di tempat aman, dan hanya ibu nya yang tahu, jadi semenjak Syifa terkena gangguan mental ibu nya menggunakan uang tersebut untuk kebutuhan sehari-hari mereka.


Semenjak Syifa terkena gangguan mental, bu Salma tidak diam saja, berbagai pengobatan sudah dia lakukan, hingga uang yang dia simpan selama ini pun semakin menipis.


Setiap hari selalu saja ada barang yang di lempar Syifa, kadang Syifa menangis, kadang juga tertawa, yang lebih fatal nya lagi Syifa sering menyakiti dirinya sendiri


Para tetangga pada takut melihat Syifa yang sekarang, maka dari itu Syifa di kurung oleh bu Salma.


Kadang kalau Syifa ngamuk ingin pergi ke halaman depan, bu Salma akan selalu mendampingi nya, karena bu Salma tidak mau hal yang tidak di inginkan terjadi.


Bagaimana pun keadaan Syifa, bu Salma berjanji pada dirinya sendiri akan terus merawat dan mendampingi nya.


*


*


Dengan perlahan Alvin membuka pintu rumah nya, dengan langkah perlahan dirinya berjalan menuju ruang belakang di ikuti Rara dari belakang.


Terlihat ibu nya sedang memberi makan kakak nya dengan susah payah, Alvin kaget melihat kondisi kakak nya yang seperti itu, sungguh Alvin sangat shock.

__ADS_1


"Bu, Kak." panggil Alvin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Bu Salma yang sedang menyuapi Syifa pun langsung membalik kan tubuh nya ketika mendengar ada seseorang yang memanggil nya.


"Alvin, anakku." teriak bu Salma dan langsung memeluk Alvin hingga tanpa sadar dirinya melempar piring yang sedang dia pegang.


"Syukurlah kamu pulang nak, hik, hik, hik." pecah sudah tangisan bu Salma yang selama ini dia pendam.


*Siapa kamu, pergi kamu dari sini pergi! ha, ha, ha, hik, hik, hik,"


Rara menatap Alvin kaget, karena Syifa berbeda dengan yang selalu Alvin ceritakan.


"Mas." ucap Rara sambil menyentuh bahu Alvin.


Alvin melirik kearah Rara sambil menggelengkan kepala nya, tanda dirinya tidak tahu dan tidak mengerti dengan kondisi kakak nya.


"Kak, ini Alvin kak, ini Alvin."Alvin langsung meraih tangan Syifa dan memeluk nya, awalnya Syifa berontak dan melawan, karena dia pikir yang menyentuh nya adalah Bima, tapi setelah dalam pelukan Alvin dan mendengar bisikan dari Alvin, Syifa pun terdiam dan menangis.


Sungguh sakit hati Alvin melihat kakak nya seperti ini, dia sudah ngga bisa menahan nya lagi, air mata kerinduan dan airmata kesedihan pun menyatu hingga membuat ketiga nya saling berpelukan dan menangis.


Rara yang melihat suaminya seperti itu ikut menitik kan air mata nya, awal nya sang suami mau memberikan kejutan, tapi justru dirinya lah yang terkejut.


"Al_ Alvin? Ini Alvin? Adek?" ucap Syifa sambil terus menyentuh wajah Alvin.


Syifa memang masih ingat dengan semuanya, bahkan dirinya ingat dengan Alvin yang selama ini dia rindukan, tapi karena tekanan dan pukulan yang di berikan oleh Bima, membuat Syifa mental nya sedikit terganggu.


"Iyah kak, aku Alvin, aku adek mbak, bu, kenapa kakak jadi seperti ini? Katakan bu, siapa yang sudah membuat kakak seperti ini, aku tidak akan melepas kan nya." tanya Alvin sambil menahan amarah nya.


"Nanti ibu ceritakan nak, oh iya wanita cantik yang bersama kamu ini siapa kamu nak?" tanya bu Salma sambil menatap Rara dengan air mata yang masih menetes.


"Bu, Kak,, kenalkan ini istri Alvin, cantik kan kak?" Alvin ngga melepaskan pelukan nya, Syifa pun merasa nyaman dan memeluk erat tubuh Alvin seakan-akan dirinya takut di tinggalkan oleh Alvin lagi.


"Mari kita duduk di sana, kalian pasti pada capek." ajak bu Salma.

__ADS_1


__ADS_2