CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Kakak Kamu Kakak Aku Juga


__ADS_3

Awal nya Syifa ragu untuk masuk ke salon, karena selama dia hidup dia belum pernah masuk ke sebuah salon, rambut dia kalau mau dipotong cukup di potong biasa sama ibu nya.


Tapi Rara selalu meyakinkan dan membuat dia menjadi patuh untuk mengikuti nya.


Hari ini hanya Syifa yang ikut dengan Alvin dan Rara, sedangkan bu Salma diam di rumah di temani bi Mumun, dan rencana mereka hari ini mau membuat kue buat cemilan nanti malam sepulang mereka dari salon.


"Siang mbak?" tanya Rara kepada pegawai salon langganan nya, salon ini salon termewah dan termahal dengan hasil yang memuaskan, semenjak remaja Rara menjadi langganan di salon ini, maka dari itu Rara sudah kenal dengan para pegawai nya bahkan sama pemilik nya juga yang ternyata teman orang tua nya.


"Siang non Rara, kemana aja nih sudah lama ngga mampir kesini?" tanya salah satu pegawai laki-laki yang bergaya seperti wanita sambil mengulurkan tangan lalu mencium pipi kiri dan pipi kanan Rara.


Alvin yang melihat Rara di cium oleh setengah pria itu sudah menatap nya tajam karena cemburu.


"Siapa dia? Tampan juga, boleh dong buat akyu." bisik Eno yang punya nama asli Edo.


"Jangan macam-macam kamu No, itu suami aku, awas kalau kamu ganggu dia ku colok mata kamu." ucap Rara dengan wajah galak nya.


"Ya ampun, galak banget kamu beb, tapi ngomong-ngomong kapan kamu nikah?" kok aku ngga di undang sih."


"Tenang beb nanti pas resepsi aku undang kamu, asal jangan lupa isi amplop nya harus tebal ya."


Rara dan Edo memang sudah lama kenal, dan mereka sudah biasa dengan candaan mereka, para pegawai yang lain merasa terhibur dengan candaan mereka berdua, makanya Rara selalu di kangenin oleh semua pegawai di salon itu, bukan karena candaan nya yang menghibur, tapi mereka selalu dapat uang tips dari Rara.


"Duit kamu itu udah banyak beb, masih saja ingin dari aku yang pas-pas san seperti ini."


"Iya pas-pas san, pas mau makan ada, pas mau shoping ada, pas ti duit nya pinjam sama mereka." ucap Rara sambil menunjuk yang lain nya.

__ADS_1


Ini yang di rindukan mereka semua, tubuh yang lelah habis melayani pelanggan jadi hilang mendengar gurauan Rara, bukan mereka saja yang tertawa tapi pelanggan lain nya yang mendengar pun ikut tertawa, dan yang lebih kaget buat ALvin dan Rara ketika mereka berdua mendengar Syifa tertawa lepas, dari pertama bertemu dengan Syifa, ini adalah tertawa pertama yang Rara dengar.


Alvin yang awal nya marah dengan Edo pun hati nya mencair ketika dirinya melihat kakak nya tertawa lepas seperti tanpa ada beban.


"Ini siapa beb, kok akyu baru melihat nya, tertawa nya manis lo, pasti banyak cowok yang mengincar nya." tanya Edo sambil menatap Syifa.


Syifa yang sedang tertawa langsung terdiam dan sedikit menggeser tubuh nya jadi berada di belakang ALvin.


Rara yang mengerti dengan kondisi Syifa langsung memegang tangan Syifa dan memeluk nya dari samping.


"Kakak tenang ya? mereka itu baik kok, dan asal kakak tahu, dia itu tidak suka wanita, dia suka nya sebangsa mas Alvin." bisik Rara, Syifa pun kembali tertawa di buat nya.


"Kamu jahat beb, pasti kamu lagi menjelekan aku sama kakak cantik ini." ucap Edo dengan bibir yang di majukan ke depan.


Alvin dan Rara saling menatap, mereka benar-benar bahagia melihat kakak nya bahagia seperti sekarang, setelah sekian lama Alvin tidak melihat kakak nya tertawa, hari ini Alvin serasa memenang kan undian.


"Makasih ya kamu sudah membuat kakak aku tertawa seperti itu, nanti aku kasih tips asal kamu terus membuat nya bahagia." bisik Alvin.


Edo senyum-senyum mendengar bisikan ALvin, dia berasa menang banyak karena bibir Alvin hampir mengenai telinga nya, dan wangi tubuh ALvin membuat Edo berpikir kemana-mana.


"Jangan berpikir mesum kamu, awas ya, mas jangan dekat-dekat dengan calon pelakor dong." teriak Rara dan lagi-lagi membuat semua yang mendengar nya tertawa.


"Pinjam segitu saja ngga boleh, asal kamu tahu ya beb, barusan mas ganteng ini ngajak aku pergi ke hotel." Edo sengaja menggoda Rara agar mereka terus berdebat dan Syifa tertawa, kan lumayan malam ini dia bisa makan enak karena di kasih tips dari Alvin.


"Mas, benar kamu mau sama dia, awas kamu ya mas, mulai malam nanti kamu tidur di luar." ucap Rara dengan wajah jutek nya.

__ADS_1


"Ngga sayang, dia bohong mana ada aku mau sama dia aku kan mau nya sama kamu, aku ngga suka dia aku suka nya kamyu." ucap Alvin dengan gaya melenggak lenggok seperti Edo membuat Syifa kembali tertawa.


Rara melihat ke arah Alvin dan Edo, mereka berdua memberi kode kepada Rara dengan gerakan mata nya, Rara sekarang mengerti dengan apa yang sedang Edo dan suami nya lakukan.


"Ya sudah aku percaya sama mas, aku ngga bakal percaya sama pria jadi-jadian seperti dia."


"Kak tolong aku kak, aku di marahin sama nenek lampir." ucap Edo sambil menghampiri Syifa.


"Apa kamu bilang, awas ya kamu ngga ada uang tips buat kamu."


"Nasib oh nasib kenapa begini, sama laki nya mau di kasih, tapi sama bini nya tidak." gumam Edo yang masih bisa di dengar oleh semua yang ada di salon.


"Cukup drama nya, sekarang kamu permak kakak ku ini secantik mungkin." ucap Rara.


"Ya sudah ayo kak ikut aku, lama-lama dekat sama dia itu nanti kakak jadi galak, kakak kan manis."


"Sekali lagi kamu bilang apa Do? Ayo bilang lagi." ucap Rara dengan kedua tangan sudah ada di atas dada nya.


"Tuh kan seram kak, ayo kak duduk di sini." ucap Edo sambil menggeser kursi salon nya.


Syifa menurut dan mulai di permak oleh Edo, sedangkan Rara dan Alvin menunggu di sofa tempat menunggu.


"Terima kasih sayang, karena kamu dan Edo kak Syifa sampai tertawa lepas seperti tadi." ucap Alvin sambil membelai lembut kepala Rara yang sedang bersandar di dada nya.


"Aku bosan mas mendengar kamu ngucapin terima kasih terus, kamu ngga usah berterima kasih seperti itu, kakak kamu kakak aku juga, ibu kamu ibu aku juga, jadi semua yang aku lakukan sudah menjadi kewajiban aku sebagai istri kamu." ucap Rara sambil membelai dada Alvin kesukaan nya.

__ADS_1


__ADS_2