CEO Ku Suamiku

CEO Ku Suamiku
Melahirkan


__ADS_3

Pagi hari pak Ramly dan kedua orang tua kandung Ramzi kembali ke kota, kini tinggal seorang ibu dan dua orang anak beserta dua menantu nya.


Hari ini Syifa mengajak Ramzi jalan-jalan keliling kampung nya, sebagian tetangga ada yang kagum dan juga ada yang iri melihat kemesraan Syifa dan Ramzi.


"Sudah, jangan hiraukan mereka, kita fokus saja sama urusan kita." bisik Ramzi dengan tangan masih memeluk mesra Syifa dari samping, Syifa hanya mengangguk sambil tersenyum.


Syifa tidak menghiraukan para tetangga nya, dia terus berjalan sambil tersenyum dengan tangan tidak lepas dari genggaman suami nya.


Bima sudah menikah dengan Lina, mereka berdua melihat kemesraan Syifa dan Ramzi membuat hati Bima kepanasan dan rasa menyesal yang dalam.


Leli sudah tidak ada di kampung itu, dia memilih keluar dari kampung itu setelah dirinya resmi bercerai dengan Bima dan menikahkan Bima dengan Lina adik kandung nya.


Pembangunan untuk pabrik sepatu sudah di mulai, rumah Alvin sekarang sudah di kelilingi oleh cctv, Alvin tidak mau kejadian-kejadian yang pernah terjadi akan terulang kembali.


Warga kampung itu merasa sangat terbantu oleh Alvin, karena Alvin, suami dan anak mereka yang sedang menganggur kini kembali mempunyai pekerjaan.


Alvin ikut bahagia melihat senyuman orang sekitar nya, kini tidak ada seorang pun yang berani menjelek-jelek kan keluarga Alvin.


Bu Salma menikmati hari tua nya dengan kebahagiaan, tinggal di rumah besar, apa yang dia mau sudah tersedia di depan mata, Alvin tidak membiarkan ibu nya untuk pergi ke pasar, dan Alvin tidak memperbolehkan ibu nya untuk bekerja apapun, meski itu hanya menyapu lantai.


*


*


Hari berlalu, dan kini saat nya mereka kembali ke kota, rumah besar hanya di isi oleh para pekerja nya.


Meski Alvin dan keluarga nya pergi ke kota, tapi rumah besar nya masih diurus oleh para pekerja nya.


Pembanguan pabrik sepatu di kuasakan kepada pak Rohim dan pak Anwar, sedangkan pengamanan di kuasakan kepada Feri dan Asep.


Para pekerja Alvin mengantar kepergian mereka sampai bandara, mereka merasa sedih akan di tinggal keluarga Alvin, karena keluarga Alvin adalah keluarga yang baik, ramah dan tidak sombong.


*

__ADS_1


*


Waktu terus berlalu, perut Rara semakin besar dan tinggal menunggu anak nya lahir ke dunia,


Karena Rara yang sedang hamil besar, jadi Syifa dan Ramzi ikut tinggal di rumah Alvin, awal nya Ramzi menolak, tapi Syifa terus merayu nya sampai Ramzi mau tinggal bersama adik dan ibu nya.


Alvin selalu menjadi suami siaga untuk Rara, dia ngga mau meninggalkan Rara yang sedang hamil besar, Alvin datang ke kantor jika ada pertemuan penting saja, dia lakukan pekerjaan nya di rumah saja.


Syifa masih menjadi sekertaris Alvin, dirinya belum mau meninggalkan adiknya itu, dengan alasan tunggu sampai Rara melahirkan.


Syifa sudah mahir membawa mobil karena Ramzi yang mengajar kan nya, sedangkan mobil nya pemberian dari Alvin sebagai hadiah pernikahan nya.


Rencana resepsi pernikahan Ramzi dan Syifa akan dilaksanakan setelah Rara melahirkan.


Siang itu Alvin baru keluar dari ruang kerja nya, dia langsung masuk ke dalam kamar nya, ternyata Rara sedang mengeluh sakit di perut dan di pinggang nya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Alvin dengan wajah khawatir.


"Sakit mas, seperti nya aku mau melahirkan." jawab Rara sambil menahan sakit di perut nya.


Pintu lift terbuka, bu Salma langsung menatap ke arah pintu lift dan melihat anak nya sedang menggendong menantu nya yang sedang menahan sakit.


Untung Alvin sudah memasang lift, seperti di rumah nya yang di kampung, jadi ngga susah-susah lagi harus menuruni tangga.


"Kenapa dengan Rara nak?" tanya bu Salma yang kaget melihat Rara di gendong Alvin.


"Rara seperti nya mau melahirkan bu, tolong ambil kan koper di kamar bu." teriak Alvin.


"Biar saya yang ambilkan bu, ibu masuk saja ke dalam mobil dengan den Alvin." bi Mumun langsung pergi ke kamar Alvin dan membawa koper yang berisi perlengkapan bayi.


Alvin memanggil sopir nya karena dalam keadaan seperti itu Alvin tidak berani membawa mobil sendiri, setelah semua sudah siap mobil pun melaju membawa Rara ke rumah sakit terdekat.


"Mas, sakit." teriak Rara sambil mencengkeram tangan Alvin dnegan sangat erat membuat ALvin juga merasakan sakit nya.

__ADS_1


"Tahan ya sayang, sebentar lagi kita sampai." Alvin membelai lembut kepala Rara yang sedang bersandar di bahu nya, dengan penuh kasih sayang Alvin terus membelai dan mencium kening Rara.


Mobil yang membawa Rara masuk ke pelataran rumah sakit, pak sopir langsung berlari memanggil suster.


Tidak lama kemudian sopir dan para suster datang sambil membawa brankar.


Alvin menggendong Rara lalu membaringkan nya di atas brankar, selama membawa Rara masuk ke ruangan bersalin, tangan Alvin tidak melepaskan nya dari genggaman Rara, bu Salma mengikuti mereka dari belakang dengan koper di tangan nya.


"Mas, temani aku, aku ngga mau kalau ngga sama mas." ucap Rara.


"Iya sayang, mas akan menemani kamu sampai anak kita melihat dunia ini."


Alvin terus mengecup tangan dan kening Rara, dia terus memberikan semangat untuk istri nya itu.


Dokter dan para suster sudah menyiapkan semua peralatan yang di butuh kan.


Setelah dokter memeriksa dan ternyata sekarang saat nya Rara untuk mengeluarkan bayi nya.


"Ayo nyonya dengarkan arahan saya ya, tarik nafas, buang nafas, ayo nyonya dorong dnegan kuat." dokter memberikan arahan untuk Rara.


Kening yang sudah di penuhi dengan keringat dan tangan yang menggenggam tangan Alvin dengan erat dan bahkan Alvin sempat kena jambak istri nya itu, Rara mengikuti arahan dari dokter.


Setelah beberapa kali mengejan akhir nya lahir juga bayi mereka yang berjenis kelamin laki-laki lahir ke dunia.


"Oek." suara bayi laki-laki itu terdengar sangat nyaring memenuhi ruangan.


"Terima kasih sayang, kamu sudah memberikan keturunan buat keluarga ku." Alvin mencium seluruh wajah istri nya yang sedang lemas dan mengatur nafas nya.


Rara tersenyum penuh bahagia, akhir nya dirinya sudah menjadi seorang ibu.


Dokter membersihkan Rara dan bayi nya, sedangkan Alvin tidak berhenti-henti nya terus mencium wajah Rara karena bahagia.


Bu Salma yang menunggu di luar mondar mandir tidak tenang, dia bingung harus melakukan apa, dia lupa membawa ponsel nya, jadi tidak bisa menghubungi Syifa.

__ADS_1


Bu Salma sudah di belikan ponsel oleh Alvin, dan dengan sabar Rara selalu mengajari bu Salma agar bu Salma bisa menggunakan ponsel nya.


Samar-samar terdengar oleh bu Salma suara tangisan bayi dari dalam ruangan, membuat bu Salma sudah tidak sabar ingin melhat nya.


__ADS_2