
Mereka berpencar mencari Syifa termasuk Alvin ikut turun tangan sendiri, sedangkan para perempuan di suruh menunggu di dalam rumah.
"Pak, disini kalau mau pesan cctv dimana?" tanya ALvin sambil terus mencari Syifa,.
Pencarian di bagi-bagi, dan Alvin berdua dengan pak Rohim.
"Harus ke kota xxxx nak. Katanya di sana ada dan lengkap." jawab pak Rohim.
"Kalau begitu setelah kita menemukan kak Syifa kita pasang cctv di setiap sudut rumah, tolong semua nya urus dengan pak Anwar ya pak, pembayaran nya seperti biasa nanti saya transfer.
"Iya nak, nanti bapak akan mencari nya dengan pak Anwar." jawab pak Rohim.
Di kampung Alvin memang belum ada yang memasang cctv, selain kampung nya aman, jasa pemasangan cctv nya juga jauh dari kampung Alvin.
Alvin dan pak Rohim terus mencari Syifa, mereka berkeliling kampung dan bertanya kepada orang yang mereka temui, tapi nihil mereka ngga ada yang melihat nya.
"Mas Ramzi, tolong aku." terdengar suara Syifa dan suara orang yang berantem di telinga ALvin dan pak Rohim membuat mereka langsung menghampiri suara itu berasal.
"Mas Ramzi." teriak Syifa dengan mata melotot ke arah Bima yang sedang melayangkan kayu yang dia pegang.
"Bugh." Alvin memukul keras tengkuk Bima hingga Bima terjatuh ke tanah.
"Sudah ku bilang jangan pernah ganggu kakak ku lagi." kembali Alvin memberikan pukulan demi pukulan kepada Bima hingga Bima tidak sadarkan diri
"Vin, kamu jangan kotori tangan kamu, biarkan kita berdua yang mengurus nya." terak Feri sambil menghampiri Alvin.
Feri dan Asep sedang berkeliling mencari Syifa, terdengar oleh mereka seperti orang yang sedang berkelahi, Feri dan Asep langsung menghampiri suara itu, dan mereka melihat bos nya sedang memukuli Bima dengan penuh emosi.
Alvin di tarik oleh Asep, sedangkan Feri langsung mengikat Bima ke pohon besar yang ada di dekat mereka.
"Kakak ngga apa-apa?" tanya Alvin dengan wajah khawatir nya.
"Ngga dek, untung mas Ramzi datang tepat waktu dan menjaga kakak." jawab Syifa yang masih sedikit gemetar.
"Thanks Vin, kalau ngga ada kamu mungkin besok aku ngga akan menikah dengan kakak kamu." ucap Ramzi sambil menepuk bahu Alvin, sedang tangan sebelah nya masih memeluk erat Syifa.
__ADS_1
"Aku juga makasih kak, kakak tepat waktu datang dan melindungi kak Syifa dari orang brengsek macam dia." ucap Alvin dengan wajah yang masih terlihat emosi.
"Ya sudah nak, ayo kita bawa pulang nak Syifa, biar nak Syifa nya juga lebih tenang." ajak pak Rohim.
Sebenar nya pak Rohim ingin bertanya tentang Ramzi, tapi ini bukan waktu yang tepat, tapi pak Rohim berpikir kalau pria yang sedang memeluk Syifa adalah calon suami nya.
"Ya sudah Vin, kalian pulang saja, biar dia menjadi urusan kita berdua, kita sudah ngga lama olah raga juga." ucap Feri dengan senyum bengis nya.
"Baiklah aku serahkan dia sama kalian berdua, tapi ingat, jangan sampai dia mati." bisik Alvin karena takut terdengar oleh Syifa.
"Oke bos." jawab Feri dan Asep, mereka mendapat tatapan tajam dari Alvin karena memanggil nya bos.
Feri dan Asep hanya tersenyum sambil mengangkat dua jari nya.
Ramzi memeluk tubuh Syifa dengan sebelah tangan nya sedangkan tangan yang sebelah lagi menarik koper nya.
"Biar saya yang bawa den." ucap pak Rohim sambil mengambil alih koper Ramzi.
"Panggil Ramzi saja pak." ucap Ramzi sambil tersenyum.
Mereka pun pergi meninggalkan Bima yang akan di beri pelajaran oleh Feri dan Asep.
"Bu, itu kak Syifa." teriak Rara sambil menunjuk ke arah orang-orang yang lagi berjalan ke rumah nya.
"Alhamdulilah, tapi seperti nya itu nak Ramzi, apa mereka tadi sedang jalan-jalan berdua ya nak?" tanya bu Salma sambil menatap mereka yang sedang berjalan menghampiri nya.
"Iya bu benar itu kak Ramzi."
Pak Rohim yang berjalan lebih dulu langsung menghampiri bu Salma sambil menarik koper Ramzi.
"Alhamdulilah bu neng Syifa sudah ketemu." ucap pak Rohim.
"Alhamdulilah." ucap ibu-ibu semua nya.
"Nak, kamu kenapa?" tanya bu Salma yang melihat anak nya masih sedikit gemetaran.
__ADS_1
"Kita bicara di dalam." ajak ALvin.
Mereka semua masuk ke dalam rumah dan langsung berkumpul di ruang keluarga, sedangkan para pekerja Alvin kembali dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Sebenar nya mereka sangat penasaran dengan apa yang sudah terjadi kepada Syifa, tapi mereka ngga enak kalau mendengarkan perbincangan keluarga bu Salma, dan mereka memilih untuk menghampiri pak Rohim.
Bu Lala yang sigap langsung membawakan minuman dan beberapa cemilan ke ruang keluarga dan menata nya di atas meja.
"Silahkan di nikmati." ucap bu Lala.
"Terima kasih bu." ucap Alvin dan Rara.
"Kenapa kak Ramzi bisa ada bersama kak Syifa?" tanya Alvin setelah kepergian bu Lala dari hadapan mereka.
"Sebenar nya aku lagi mencari rumah kamu tapi di tengah jalan tadi aku mendengar ada suara yang mirip dengan Syifa sedang berdebat dan seperti nya lagi ketakutan, begitu aku samperin ternyata benar ada nya, dia sedang memaksa dan menarik tangan Syifa untuk ikut dengan nya, tapi aku beruntung datang tepat waktu dan sedikit menghajar nya." ucap Ramzi sambil terus membelai lembut kepala Syifa hingga tanpa di sadari semua nya Syifa tertidur dalam pelukan.
"Ngga ada kapok-kapok nya itu orang, aku ingin sekali menampar dia bolak balik." ucap Rara dengan wajah kesal nya.
Ramzi hanya tersenyum mendengar ucapan Rara, "Kamu tidur sayang?" tanya Ramzi sambil melihat ke arah Syifa.
"Terus sekarang dimana dia?" tanya bu Salma.
"Sedang diurus sama Feri dan Asep." jawab Alvin dengan santai.
"Bu saya izin untuk membawa Syifa ke kamar nya." ucap Ramzi dengan pelan.
"Boleh nak, ayo ikuti ibu." Ramzi menggendong Syifa dan mengikuti langkah bu Salma menuju kamar Syifa.
"Sayang aku ingin melihat Feri dan Asep." ucap Rara dengan nada manja nya.
Alvin menatap tajam Rara, dia cemburu kenapa istri nya mau melihat Feri dan Asep.
"Ngga usah cemburu gitu, aku hanya ingin melihat mereka aja, ya sayang ya, please." Rara merayu Alvin dengan wajah imut nya.
Kalau Rara sudah mode imut begitu, Alvin tidak bisa menolak keinginan nya.
__ADS_1
"Ya sudah ayo, tapi jangan macam-macam." ucap Alvin sambil menarik tangan Rara.
Rara bangun dari duduk nya, bibir nya tersenyum entah kenapa Rara ingin sekali melihat Feri dan Asep sedang menghajar Bima, mungkin karena lagi ngidam kali ya.