
Ruangan aula yang tadi gemuruh oleh para karyawan, kini langsung sepi dan hening ketika pak Ramly masuk kedalam aula dan di kawal oleh beberapa satpam.
"Papah." teriak Rara tanpa sadar.
"Apa! papah." ucap mereka semua dan kembali ruangan tersebut riuh karena mendapat kan lagi satu kabar yang mengejutkan mereka semua.
Tubuh Juli dan Mayang gemetar ketakutan, mereka berdua benar-benar diambang kehancuran.
Pak Ramly kini sudah berdiri di depan para karyawan dan menatap semua nya dengan tatapan tajam nya.
Para karyawan yang tadi riuh karena kaget dengan kabar yang mereka dengar, kini kembali terdiam dan hening ketika melihat tatapan tajam dari pemilik perusahaan ini.
"Sudah cukup kalian berdua mempermalukan anak dan menantu saya?" tanya pak Ramly dengan tatapan intimidasi kepada Juli dan Mayang.
Juli dan Mayang hanya menunduk, sedangkan di samping mereka berdua di apit para satpam yang menjaganya agar mereka berdua tidak berbuat kericuhan kembali.
Rara kini berada dalam pelukan Alvin, Alvin yang merasa bersalah tidak bisa menjaga nya mengelus pipi Rara dengan lembut.
"Sakit ya?" ucap Alvin dengan pelan, Rara hanya mengangguk lalu memeluk erat tubuh ALvin kembali.
"Baik, saya akan menjelaskan semua kericuhan yang terjadi di perusahaan saya siang ini, Rara yang menjabat sebagai sekertaris, dia adalah anak semata wayang saya, memang dari awal masuk ke perusahaan ini dia meminta saya untuk menyembunyikan jati diri dia, dia tidak ingin kalian semua menganggap kalau dia menjadi sekertaris karena ayah nya pemilik perusahaan, Rara masuk kesini sama seperti kalian yang masuk melalui tahapan demi tahapan dan juga seleksi plus wawancara, dan Alvin, Alvin yang menjabat CEO sekarang dia adalah suami nya, terus ada masalah buat sepasang suami istri yang keluar masuk rumah nya?" mereka semua terdiam dan menunduk, baru kali ini mereka melihat Pak Ramly marah.
"Mampus, ternyata Rara anak nya pak Ramly." gumam bathin Mayang.
"Hancur sudah karir dan masa depan ku, ternyata mereka sepasang suami istri, bodoh kamu Juli, kenapa kamu tidak mencari tahu dulu." gumam bathin Juli.
Pak Ramly menatap layar di belakang nya yang masih menampak kan video yang berdurasi pendek dengan wajah Alvin dan Rara.
"Terus untuk video yang memalukan ini, saya yakin ini bukan mereka berdua, tapi ini adalah editan dimana mereka berdua ingin menjatuhkan nama baik Rara dan Alvin, dan kalau pun memang ini asli, apa ada yang salah? Secara mereka berdua sudah sah menjadi suami istri, jawab! Apa mereka salah." teriak kan pak Ramly begitu menggema di dalam aula tersebut membuat siapa pun yang mendengar nya ketakutan.
Jangankan para karyawan yang hadir di sana, Rara saja anak nya sendiri baru melihat ayah nya yang sedang marah besar.
Tidak ada seorang pun dari mereka yang mampu untuk mnegeluarkan kata-kata, mereka hanya diam dan menunduk.
Pak Ramly menatap tajam ke arah Juli dan Mayang lalu mendekati nya.
__ADS_1
"Sekarang kalian katakan dengan jujur, apa video ini asli atau hanya editan kalian?"
Juli dan Mayang menunduk tidak berani menatap pak Ramly.
"Kalian tinggal pilih, mau kalian selesaikan di sini atau di kantor polisi?" tanya pak Ramly dengan menampak kan wajah amarah nya.
"Maafkan kita berdua pak, kita salah, dan video itu hanya editan dan Mayang yang mengedit nya." ucap Juli sambil duduk bersimpuh.
"Mbak, saya memang yang edit, tapi itu juga berkat persetujuan dari mbak." teriak Mayang yang ngga mau hanya dirinya sendiri yang di salahkan.
"Sudah cukup! intinya kalian berdua yang salah, pak Hendra tolong blacklist mereka berdua, dan untuk kalian semua nya, ini peringatan buat kalian semua, seandainya kalian masih ingin bekerja di perusahaan ini, maka kalian bekerjalah dengan baik dan benar, kalau tidak nasib kalian akan sama dengan mereka berdua."
Pak Hendra pun langsung mengurus Juli dan Mayang saat ini juga dan di bantu para satpam lain nya.
"Karena hari ini ada kekacauan seperti ini, kalian semua silahkan pulang, dan kembali bekerja besok pagi." teriak asisten pak Ramly setelah mendapat isyarat dari pak Ramly.
Para karyawan pun keluar dari aula dengan segala pemikiran mereka.
"Sayang, kamu ngga apa-apa?" tanya pak Ramly sambil menghampiri Rara.
"Sudah, semua nya sudah selesai." ucap pak Ramly sambil memeluk dan mencium kening Rara.
"Kita ke ruangan pah." ajak Alvin dengan sopan.
*
*
"Maafkan saya pah, saya sudah lalai dalam menjaga Rara." ucap ALvin sambil mengompres pipi Rara.
Kini mereka sudah berada di dalam ruangan Alvin, mereka ingin membahas yang terjadi tanpa ada orang lain.
"Sudah lah kamu ngga perlu minta maaf sama papah,sekarang dan ke depan nya ngga bakalan ada kejadian seperti ini lagi." ucap pak Ramly.
"Papah kok bisa ada di sini? Papah kesini sama mamah?" tanya Rara.
__ADS_1
"Papah ada meeting dengan klien di kota ini, tadi setelah meeting sebelum papah pulang ke sana, papah sempatkan mampir ke sini, tapi dari depan sepi dan papah mendapat laporan kalau semuanya sedang kumpul di aula, makanya papah langsung ke aula."
"Makasih pah."ucap Rara.
"Sudah ngga usah di pikirkan lagi, sekarang semua nya sudah tahu siapa kamu dan siapa kalian, jadi ke depan nya kalian fokus saja untuk menghadirkan cucu untuk papah dan mamah." ucap pak Ramly sambil tersenyum.
"Kalau untuk itu papah sabar aja, karena setiap malam juga kita berusaha." jawab ALvin.
"Mas." ucap Rara sambil memukul bahu ALvin.
"Sakit sayang? Kamu KDRT ih." ucap Alvin sambil meringis pura-pura kesakitan.
"Lagian kamu ngga ada malu nya ngomong seperti itu di depan papah."
"Kenapa mesti malu, kita kan sudah menikah dan juga memang benar kan?"
"Au ah, sudah ah jangan di bahas lagi." ucap Rara sambil cemberut.
Pak Ramly tersenyum melihat anak dan menantu nya yang sedang berdebat seperti itu.
"Ra, kamu ngga apa-apa?" teriak Ramzi sambil membuka pintu ruangan ALvin tanpa mengetuk nya terlebih dahulu.
Pak Ramly, Alvin dan Rara menatap horor kepada Ramzi.
"Pa-pah." gumam Ramzi lalu menunduk.
"Maaf, aku sudah masuk dengan ngga sopan, kalau begitu aku ulang kembali." Ramzi kembali keluar ruangan sambil menutup pintu nya.
Mereka bertiga pun tertawa melihat kelakuan Ramzi dengan mengulang kembali cara dia masuk.
Ramzi mengetuk pintu dan Alvin menyuruh nya masuk, dengan perlahan Ramzi masuk.
"Papah kapan kesini? Ra, kamu ngga apa-apa kan? Kamu diapakan saja sama mereka? Mana yang sakit? Tadi aku dengar kabar dari satpam di depan." Ramzi langsung mengeluarkan beberapa pertanyaan kepada Rara.
Mereka bertiga hanya diam dan menghela nafas kasar dengan semua pertanyaan yang Ramzi lontarkan.
__ADS_1