
Setelah beberapa kali bertemu dengan dokter psikolog, Syifa pun di nyatakan sudah sembuh tapi kemungkinan rasa taruma itu akan tumbuh walau hanya sedikit saja.
Pagi ini semua sudah berkumpul di meja makan kecuali Syifa yang masih di dalam kamar, hari ini mereka sudah mulai masuk kantor, dan rencana Rara akan mengajak Syifa ke kantornya untuk belajar sekaligus melakukan terafi buat Syifa agar benar-benar bisa melupakan rasa trauma nya.
Dengan perlahan Syifa berjalan menghampiri ruang makan, dirinya merasa kurang percaya diri untuk pergi ke kantor dengan Rara, karena memang dirinya belum pernah sama sekali menginjak kan kaki nya di sebuah perkantoran.
"Pagi semua." ucap Syifa yang sudah berdiri di belakang mereka.
"Pa- gi." semua terpana melihat penampilan Syifa, Syifa yang baru pertama kali mengenakan baju kantoran terlihat cantik dan berkelas, dia sudah seperti pegawai kantoran sesungguh nya.
"Kakak, cantik sekali, kakak sudah seperti pegawai kantoran lo." Rara memuji penampilan Syifa yang membuat Syifa sedikit malu.
"Kamu juga cantik dek." ucap Syifa sambil ikut duduk di antara mereka.
"Kalian jadi ngajak kakak kalian ke kantor?" tanya bu Salma sambil menyantap sarapan nya.
"Iya bu, biar kakak jadi wanita karir, lagian diam di rumah pun pasti jenuh." jawab Rara.
"Ya sudah, ibu serahkan kepada kalian berdua saja, ibu yakin kalian tahu yang terbaik buat kakak kalian." Rara dan Alvi hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Oh ya bu besok kita pergi ke rumah papah, selain papah ingin mengenal ibu, papah juga sekalian mau membicarakan acara resepsi kita." Rara mengajak ibu mertua nya berkunjung ke rumah papah nya.
Pak Ramly sengaja pulang dulu ke rumah nya yang ada di kota itu setelah mendengar dari Rara kalau Syifa sudah sembuh. Hampir setiap hari Rara menceritakan tentang keluarga Alvin kepada kedua orang tua nya.
"Baiklah besok ibu akan membuat kue buat kedua orang tua nak Rara," ucap bu Salma yang memang jago dalam hal membuat kue.
"Kue yang seperti kemarin ya bu, soalnya kue nya enak terus Rar yakin papah sama mamah juga menyukai ny."
"Baik nak, besok ibu dan bibi akan membuat nya."
"Ya sudah kalau gitu sekarang kita berangkat, ayo kak, sudah kan sarapan nya." ajak Alvin.
__ADS_1
"Sudah dek."
Mereka bertiga pun pergi ke kantor setelah berpamitan kepada bu Salma.
*
*
Semenjak turun dari mobil dan masuk ke dalam kantor hingga sampai ke ruangan Rara tangan Syifa tidak jauh dari tangan Rara, Syifa merasa grogi apalagi banyak karyawan lain nya yang menatap kepada dirinya.
"Berusaha tenang kak, anggap mereka ngga ada." bisik Rara yang kini mereka ada di depan lift.
"Pagi pak Alvin, pagi bu Rara." ucap karyawan yang sama-sama mau naik lift.
"Pagi juga semua nya, bagaimana kantor selama kita tinggal?" tanya Rara dengan ramah.
"Aman bu, ini karyawan baru ya bu?" tanya salah satu karyawan memberanikan diri karena dia sangat penasaran dengan wanita yang menggandeng tangan Rara terus.
"Kenalkan ini kakak saya." ucap Rara memperkenalkan Syifa kepada yang lain nya.
"Panggil Syifa saja." ucap Syifa sambil menerima uluran tangan dari mereka.
Alvin dan Rara merasa sangat senang karena Syifa di terima dengan baik oleh para karyawan, mungkin mereka takut seperti yang sudah terjadi kepada Mayang dan Juli.
"Ini ruang aku kak, dan itu ruangan mas Alvin." ucap Rara sambil menunjuk ruangan Alvin, Syifa hanya melirik lalu mengangguk.
"Kalau gitu aku ke ruangan ku dulu ya." ucap Alvin lalu masuk ke ruangan nya.
"Bu, ini semua laporan selama ibu ngambil cuti kemarin, dan ini jadwal pak Alvin untuk ketemu dengan para klien, dan siang ini sehabis makan siang ada pertemuan dengan klien di cafe biasa." ucap seorang karyawan yang di percaya oleh Rara untuk menggantikan nya selama dia tidak masuk.
"Baik nanti aku bilang sama pak Alvin, makasih ya mbak, oh iya mbak perkenalkan ini kakak saya." ucap Rara.
__ADS_1
"Dian."
"Syifa." mereka pun saling memperkenalkan diri sambil berjabat tangan.
"Baiklah karena ibu sudah masuk kembali, kalau begitu saya pamit ke ruangan saya dulu." ucap Dian dengan sopan.
Kini tinggal Syifa dan Rara di dalam ruangan, "Kak, aku mengerjakan kerjaan aku dulu ya? kalau kakak ingin mempelajari nya kakak lihat saja." ucap Rara sambil duduk di sofa, sengaja Rara mengerjakan nya di sofa, agar Syifa bisa ikut mempelajari apa yang sedang Rara kerjakan.
Sebelum Rara mengajarkan pekerjaan kantor kepada Syifa, Rara mengerjakan pekerjaan nya dulu sampai selesai, Syifa duduk di samping Rara dan terus memperhatikan dengan serius apa yang sedang Rara kerjakan..
Jam terus berputar hingga kini saat nya waktu makan siang tiba.
"Akhir nya selesai juga kerjaan aku, ah lelah nya, kakak bosan ya?." ucap Rara sambil bersandar di sandaran sofa.
"Ngga, kakak malah suka dan kakak jadi jatuh cinta sama kerjaan kamu dek, kakak ingin menguasai nya boleh?" tanya Syifa dengan serius.
"Serius kakak mau mempelajari nya? kalau kakak serius nanti aku ajarkan sampai kakak benar-benar bisa." Rara senang dengan tekad kakak ipar nya itu, Rara sudah berpikir jika nanti dirinya hamil biar Syifa yang menggantikan nya, karena kalau Syifa yang menggantikan nya maka Alvin suami nya akan aman dari godaan sekertaris.
Syifa mengangguk sambil tersenyum, Syifa sudah bertekad dalam hati nya kalau dia harus bisa dan ingin sekali bekerja seperti Rara.
"Baiklah nanti aku minta mbak Dian untuk menemani dan sekaligus mengajarkan kakak dengan pekerjaan ini, ngga apa-apa kan kakak aku tinggal bersama mbak Dian? Soalnya setelah makan siang aku dan mas Alvin mau bertemu klien di luar." ucap Rara.
"Iya dek ngga apa-apa, lagian Dian juga seperti nya orang baik." ucap Syifa.
"Ya sudah kalau gitu sekarang kita ke kantin, biar kakak juga nanti hapal dengan sekitar kantor ini."
Rara dan Syifa keluar ruangan, sebelum mereka melanjutkan langkah nya menuju kantin, Rara menemui Alvin di ruangan nya.
"Mas, mau ikut ke kantin ngga? Kita mau makan siang." ajak Rara setelah membuka pintu ruangan Alvin.
"Di bungkus saja sayang, aku masih banyak kerjaan."
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu kita makan siang dulu ya mas, oh iya mas sehabis jam makan siang ada pertemuan dengan klien." ucap Rara sebelum pergi dari ruangan Alvin.
"Oke sayang." ucap Alvin tanpa melihat ke arah Rara karena memang pekerjaan nya sedang numpuk.