
Seminggu berlalu, dan hari ini adalah hari resepsi ke dua untuk Ramzi dan Syifa, mereka melangsung kan resepsi ini semata-mata keinginan pak Ramly.
Pak Ramly ingin mengenalkan menantu perempuan nya kepada rekan kerja dan para karyawan semua nya.
Semua yang dia kenal dan dari berbagai kalangan dia undang, tidak ada perbedaan, karena pak Ramly dari dulu tidak suka mem beda-beda kan, dan karena itu lah semua para pekerja dan karyawan nya sangat menyukai bekerja dengan pak Ramly.
Selain acara resepsi kedua Ramzi dan Syifa, ini juga sekalian acara syukuran telah lahir nya cucu mereka.
Banyak yang hadir dalam acara tersebut, mereka semua mengagumi ketampanan Alvaro yang mempunyai duplikat dari ayah nya.
Hari semakin siang dan pesta pun semakin ramai dan penuh dengan para tamu.
"Mas, Varo nangis aku ke kamar dulu mau memberikan ASI dulu." ucap rara pada ALvin.
"Ya sudah sini Varo gendong sama papah saja, kasihan mamah nya capek sayang." Alvin menggendong Alvaro dan Rara berjalan duluan menuju kamar nya.
"Mau kemana nak?" tanya bu Salma.
"Mau memberikan ASI buat Varo bu, dia lapar." jawab Rara.
"Oh ya sudah sekalian istirahat saja nak."
Rara mengangguk lalu melangkah kan kembali kaki nya menuju kamar nya.
Rara duduk di sisi tempat tidur lalu membuka gaun dan menampilkan dua bukit kembar yang semakin hari semakin besar saja.
Alvin yang sudah sepuluh hari ini tidak merasakan nya membuat jakun nya naik turun dengan mata menatap tanpa kedip kedua bukit itu.
"Kondisikan mata kamu mas, untuk dua tahun ke depan ini milik Varo." ucap Rara sambil mengusap pelan wajah suami nya.
"Lama amat Yang, nyicip dikit boleh ya." Alvin mencolek salah satu bukit kembar milik Rara.
"Mas, ada Varo lo, kamu ini." ucap Rara sambil menepis tangan ALvin.
"Dia kan ngga melihat nya sayang, biar kita imbang, Varo yang kiri papah yang kanan ya." Rara langsung memukul tangan Alvin
"Mas."
"Jangan teriak, nanti Varo bangun." Alvin duduk di samping Rara dan menatap Alvaro.
"Lahap banget ya mas, Varo lapar ya?" ucap Rara dengan bibir tersenyum, mata nya terus menatap Varo yang sedang menghisap ASI.
__ADS_1
"Waktu begitu cepat ya sayang, tidak terasa kita sekarang sudah punya anak, padahal perasaan mas kita baru kemarin bertemu." Alvin menyimpan dagu nya di bahu Rara dengan kedua tangan memeluk nya.
"Iya ya mas, aku sangat bahagia sekali sudah menjadi istri kamu." Rara menatap wajah suami nya.
Alvin yang di tatap mendekatkan bibir nya lalu menempelkan nya ke bibir Rara.
"Mas, nanti Varo melihat nya." Rara menjauhkan wajah nya kembali.
"Varo kan tidur ya nak, jadi Varo tidak melihat nya."
"Mas, minggir dulu aku mau menidurkan Varo.
Alvin menggeser tubuh nya, dia menatap punggung Rara yang sedang membaringkan Varo.
Alvin menghampiri dan memeluk nya dari belakang.
"Sayang, terima kasih sudah mendampingi mas, kamu adalah wanita pilihan yang di kirim Tuhan untuk menjadi pendamping mas sampai mas tua dan sampai mas menutup mata."
"Mas, jangan bicara seperti itu, sampai kapan pun dan dalam keadaan apapun aku akan selalu berada di samping mu." ucap Rara sambil menyentuh kedua tangan Alvin yang sedang melingkar di pinggang nya.
Alvin dan Rara tersenyum bahagia, mereka berdua menatap Alvaro yang sedang tertidur dengan lelap.
*
*
"Sayang, mulai malam ini pil ini akan mas buang, dan jangan kamu konsumsi kembali." Ramzi mengambil sisa pil KB yang selalu di konsumsi oleh Syifa.
Syifa hanya tersenyum lalu mengangguk.
Ramzi yang hanya memakai ****** ***** saja kini menghampiri Syifa yang sudah berbaring dan di tutupi selimut.
"Sayang kamu sudah tidur?" tanya Ramzi dan langsung masuk ke dalam selimut.
"Pesta hari ini sangat capek sekali, tamu nya lebih banyak dari pesta di kampungku." jawab Syifa tanpa membuka kedua mata nya.
Ramzi memeluk erat tubuh Syifa, tangan nya sudah menjelajah dari atas sampai bawah, dan mendarat di tempat kesukaan nya.
Syifa yang sudah mau tertidur kini kembali membuka mata nya, dia merasa tubuh nya terkena aliran listrik yang bertegangan sangat tinggi.
"Mas, aku capek lo."
__ADS_1
"Sebentar saja sayang, mas janji cuma satu kali kok." setelah berucap seperti itu Ramzi bermain-main di atas dua bukit kembar.
Syifa yang sudah hampir memejamkan kedua mata nya kini mata nya kembali terbuka dan melayani keinginan suami nya.
Kini kedua nya terkapar sambil saling memeluk dengan keringat di sekujur tubuh.
"Terima kasih sayang." Ramzi mencium kening Syifa lalu dirinya memejamkan kedua mata nya.
Karena keinginan nya sudah terpenuhi, Ramzi merasa tubuh nya enteng dan langsung ingin tidur.
Syifa yang tidur nya sudah terganggu oleh keinginan suami nya, kini rasa ngantuk pada mata nya hilang lenyap entah kemana.
Syifa menatap suami nya yang sudah memejamkan kedua mata nya.
"Kamu curang mas, baik sekarang giliranku untuk mengganggu tidur dan waktu istirahat mu."
Syifa menyentuh dan membelai adik Ramzi dan bermain-main di sana, Ramzi yang masih setia dengan tidur nya membuat Syifa kesal.
Tanpa ada komando dari siapa pun Syifa bagun dari tidur nya lalu mendekat kan wajah nya ke arah adik nya Ramzi.
Bibir Syifa bermain-main di sana membuat mata Ramzi terbuka.
Ramzi menatap Syifa yang sedang berada di bawah sana dengan tatapan heran dan senang.
"Terus sayang, baru kali ini kamu melakukan nya."
Syifa menjauhkan wajah nya lalu naik ke atas tubuh Ramzi.
"Kamu harus tahu bagai mana kalau kita sedang ngantuk dan ingin tidur di ganggu."
Syifa sengaja menekan kan yang di bawah sana ke perut Ramzi.
Ramzi yang sudah tidak tahan akhir nya mengangkat kedua tangan nya dan bermain-main di dua bukit kesukaan nya.
Tapi sayang setelah Ramzi terbuai Syifa langsung turun dari tubuh Ramzi dan masuk ke dalam selimut.
"Sayang, jangan nakal, aku sudah bangun ini." Ramzi membalikan tubuh Syifa.
"Sudah cukup, kan kata mas juga cuma satu kali."
"Kamu harus tanggung jawab pokok nya." Akhir nya Syifa kembali harus melayani Ramzi sampai mereka berdua benar-benar terkapar.
__ADS_1
"Cepat hadir ya sayang, papah sama mamah menunggu kamu." setelah mengelus nya Ramzi mencium perut Syifa.
"Baiklah sekarang kita tidur, biarkan hasil produksi kita menyatu dan ada hasil nya, aku berharap dia cepat hadir dalam perut kamu." Ramzi memeluk Syifa sampai mereka tertidur.