
Ponsel Reyhan berdering menampakkan nama adik kecil tersayangnya disana, dia kaget Kiandra menelponnya, karena jarang-jarang adiknya itu menelepon di jam kantor.
"Hallo Adik ku sayang."
"Hai Kak, Kak apa Kakak ipar ada di apartement? Aku ingin ke apartement Kakak."
Reyhan masih speachless dengan ucapan Kiandra.
"Kak?"
"Eh, hmm ada, nanti ku coba telepon istriku untuk menyambut Adik tersayangnya."
"Ih, Modus! Jam berapa Kakak akan pulang??"
"Sepertinya sebentar lagi, setelah rapat ini selesai Kakak pulang."
"Kak, bisakah untuk tidak memberi tahu Ayah dan Bunda aku menelepon Kakak dan akan kerumah hari ini? Aku akan jelaskan padamu alasannya nanti, tapi bisakah berjanji dulu padaku Kak?"
"Baiklah, Kakak janji."
"Terimakasih Kak, aku sebentar lagi sampai, tidak usah menelepon Kaka ipar, sudah ya Kak, bye."
"Bye, Kia"
Ada apa dengan anak itu? Tidak biasanya seperti ini, aku akan menyegerakan rapat ini.
"Tidak usah turun dan membuka pintunya Pak, biar saya sendiri saja, terimakasih Pak sudah mengantarkan saya, salamkan terimakasih saya ke Aldi, dan hati-hati dijalan." Kiandra membungkuk kan sedikit badan nya sebagai bentuk salam hormat pada pengawal yang sudah mengantarkan dirinya.
Ah Nona, Anda ramah sekali, andai Anda bisa menjadi Nyonya Boss kami.
"Sama-sama, Nona. Baiklah akan kami sampaikan ke Tuan Muda" pengawal itu membalas hormat.
Selepas Kiandra turun dari mobil, ia menaiki lift, dan ketika lift sudah mencapai lantai yang ia tuju, Kiandra pun langsung bergegas memencet bell pintu apartement kakak nya.
Pintu pun seketika terbuka, menampakkan wajah ayu sang kakak ipar disana.
"Kiandra? Kamu kesini sama siapa?" Maudy melihat kanan dan kiri sekitar apartement, ia mencari sosok bunda dan ayah namun tak kunjung terlihat, biasanya Kiandra datang tidak pernah sendirian.
"Aku sendirian, Kak." Maudy melihat ada koper yang Kiandra bawa.
"Ayo masuk Sayang." Maudy merangkul Kiandra, dan mengajak masuk ke dalam apartement.
Apartement kak Reyhan benar-benar bersih, kakak iparnya lah yang menata semuanya, pelayan disini hanya sekedar membantu, tapi urusan kak Reyhan hanya kakak iparnya lah yang boleh mengurusinya.
__ADS_1
"Kau mau minum apa, Sayang? Soft drink disini baru saja habis, Kakak belum bisa keluar dari apartement ini, mungkin nanti kita bisa pergi bersama dengan Kak Reyhan untuk membelinya, kau mau?" Ajak Maudy.
"Boleh Kak jika Kak Reyhan ingin membelinya hari ini, tapi sepertinya aku akan menginap disini semalam, apa boleh Kak Maudy?" matanya memelas, tangannya mengatup memohon agar diizinkan tidur di apartement sang kakak, karena dia tidak mungkin kembali ke rumah utama karena belum siap bertemu dengan sang ayah.
"Hahaha, aku akan bantu bicara dengan Reyhan." tangannya mengelus punggung Kiandra.
"Kiandra, hmm boleh Kakak bertanya sesuatu?" Maudy memberikan air minum ke Kiandra lalu duduk disampingnya.
"Boleh ko Kak, Kakak mau tanya apa?" tanyanya balik.
"Kiandra, apa kau sedang patah hati?" tanya Maudy dengan sangat hati-hati takut pertanyaannya membuat sang adik ipar sedih.
Ah aku lupa aku sedang bicara dengan siapa saat ini.
"Apa mukaku terlihat seperti orang lagi patah hati, Kak?" bukannya menjawab Kiandra justru memberikan pertanyaan balik ke kakak ipar, Kiandra meminum minuman yang Maudy suguhkan.
"Iya" Jawab Maudy dengan cepat.
Kiandra menelan ludahnya kasar. Jawaban kakak iparnya membuat dirinya skakmat.
"Hahaha, aku sedang tidak jatuh cinta Kak, jadi untuk apa aku patah hati?" Kiandra memaksakan senyumnya, agar tidak terlihat ekspresi sedang menahan air matanya.
"Kakak bertanya apa kau sedang patah hati, bukan bertanya apa kau sedang jatuh cinta, Kiandra." benar sekali, lagi-lagi Kiandra dibuat terdiam untuk kesekian kali nya.
"Ah, aku melupakan satu hal, aku lupa bahwa Kakak ku yang cantik ini memiliki sixth-sense, jadi yah seperti yang Kakak lihat saat ini, begitulah adanya." Kiandra menyikut lengan Maudy, meledek sang kakak iparnya dan tersenyum.
Maudy memang pernah menggemparkan keluarga besar Darwin, saat kakaknya diculik karena dendam lawan bisnis sang ayah yang hampir menghilangkan nyawa pewaris utama Darwin's Corp itu. Maudy lah yang menemukan titik-titik tempat penyekapan sang kakak, dari situlah kemampuannya terungkap, dan dijaga rapat-rapat oleh keluarganya agar tidak ada yang mencoba menyakiti menantunya karena kemampuan yang tak biasa itu.
"Jadi apa yang sudah Aldi lakukan padamu, Sayang? Kakak tidak pernah melihatmu sesedih ini." Maudy mengusap kepala Kiandra pelan-pelan.
Kiandra yang diperlakukan seperti itu benar-benar terbangkitkan kembali kesedihan yang sejak tadi ia tahan.
Tangis Kiandra pecah, Maudy memberikan waktu untuk Kiandra meluapkan tangisnya agar perasaannya lebih lega, Kiandra sesegukan hingga merasakan dadanya begitu sesak.
"Sayang, kita pindah saja ke kamar tamu yuk, sepertinya sebentar lagi Reyhan akan pulang, kamu tidak mau kan kakak mu tahu kau menangis karena seorang pria?"
Kiandra pun mengangguk, mereka berdua berjalan memasuki kamar tamu. Kiandra dan Maudy duduk di pinggir ranjang, Maudy mencoba memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Kiandra, terkadang kita suka menolak jujur terhadap diri sendiri, lebih mengutamakan dendam daripada memaafkan, ada seseorang yang mengatakan padaku bahwa dendam itu ibarat sebuah racun yang kita minum, tapi berharap orang lain yang mati, dan maaf adalah penawarnya. Jadi Kiandra, maafkanlah apa yang sudah Aldi lakukan dulu padamu hingga membuatmu begitu sakit dan terluka, kakak yakin dulu ia lebih memilih percaya pada mantan kekasihnya dari pada kamu karena ia belum tahu betul mana yang tulus mana yang memiliki akal bulus, bukan karena Aldi benar-benar membencimu seperti yang ia ucapakan dulu di depan wanita itu, dan Kakak yakin Aldi sudah menyadari itu bukan?" Kiandra kembali menangis dalam diam.
"Kiandra, sepenglihatan Kakak, Aldi sedang mencoba mengobati luka masa lalunya, ia sedang mencoba untuk memperjuangkan mu lagi, mencoba memberanikan diri untuk membangun lagi kepercayaan sebuah hubungan.
Percaya sama kakak Ki, apa yang Aldi sedang jalani sekarang adalah sesuatu yang tidak mudah, jika kau mencintainya dukung dia, bangunlah kepercayaan itu bersama, jangan menyiksa perasaan masing-masing, berkata rela tapi sebetulnya tidak, jujurlah karena itu adalah hak Aldi untuk tahu kebenarannya, jangan sampai kau menyesal dikemudian hari, baru meratapinya." Kiandra terdiam dan berfikir keras atas ucapan terakhir dari sang kakak iparnya.
__ADS_1
Ternyata aku masih mencintainya..
"A, aku masih mencintainya Ka. Hiks..Hiks" Kiandra menutup mukanya dengan kedua tangannya, menangis dan menyesal bahwa ia tidak memberikan kesempatan untuk Aldi mengetahuinya.
"A, aku lebih memilih untuk membiarkan dia menyesali perbuatannya yang sudah menyakitiku Kak, aku ingin dia tahu bagaimana sakitnya tidak diharapkan, diabaikan seperti yang dulu ia lakukan padaku didepan wanita itu Kak, aku menyesal, hiks." Maudy hanya tersenyum melihat Kiandra sudah berjiwa besar mengakui kesalahannya dan mengakui perasaannya.
Tanpa mereka berdua sadari, Reyhan sudah berdiri mematung dibalik pintu kamar tamu. Reyhan mendengarkan semuanya tanpa terkecuali, karena tangisan Kiandra yang begitu kencang membuat Maudy tidak sadar bahwa suaminya sudah ada di dalam apartement itu.
"Ya sudah tenangkan dirimu dan beristirahatlah, besok kau temui Aldi dan katakan apa yang ingin kau katakan, agar tidak ada lagi hal yang ditutupi dan tidak ada dendam yang kalian piara terus menerus." Maudy beranjak keluar dari kamar tamu.
Betapa kagetnya ia saat membuka pintu sudah nampak Reyhan sedang berdiri mematung disana dengan kedua tangannya ia masukkan ke saku celana. Maudy langsung menutup pintu kamar itu.
"Sejak kapan kau disana, Sayang??" Maudy langsung memeluk Reyhan dan mencium pipi kanan dan kiri. Reyhan membalas pelukan Maudy dan mengecup bibirnya.
"Menurutmu?" jawabnya singkat.
"Apa kau mendengarkan semuanya?" selidik Maudy, jari tangannya bermain di dada bidang suaminya.
"Apa aku bisa mengartikan sikapmu ini sedang membujuk ku merahasiakan obrolan kalian?" Reyhan menatap tajam istrinya lekat-lekat, Maudy melepaskan pelukannya dan mundur dua langkah menjauhi Reyhan.
"Owh jadi aku sudah tidak boleh bersikap seperti itu lagi padamu jika nanti sudah menjadi seorang ibu? Arghh, kalau begitu aku akan tidur malam ini di sofa saja, sepertinya kau sudah bosan denganku, atau aku tidur saja dirumah bunda ya supaya kau tidak bosan melihatku terus ada disini." Maudy berbicara tanpa sedikitpun berkedip melihat Reyhan.
"Hey, hey, kenapa kau jadi sensitive seperti ini?"
ucap Reyhan gusar karena Maudy sudah memberikan sinyal amarah.
"Ayolah Sayang aku hanya bercanda, jangan pernah mengatakan seperti itu lagi didepanku ya, dan aku tidak akan pernah bosan padamu, aku mencintaimu sayang, dan anak kita tentunya." Reyhan maju dan memeluk Maudy kembali, ia mengusap perut istrinya yang baru hamil 8 minggu.
Hahaha, kena kau. Maafkan aku sayang, aku melakukan ini untuk kebaikan Kiandra.
"Baiklah, jadi kau bisa berjanji padaku untuk berpura-pura tidak tahu, dan tidak akan ikut campur urusan Kiandra dan Aldi, Sayang?" tanyanya dengan penuh manja.
"Hmm, baiklah tapi ada syaratnya." ucap Reyhan.
Maudy mengerutkan keningnya.
"Aku menginginkannya malam ini Sayang, aku janji aku akan melakukannya dengan pelan, tidak akan menyakiti anak kita." bisik Reyhan membuat Maudy tersipu malu.
"Baiklah, baiklah kau menang. Tapi aku harus memasak dulu, kau dan kiandra belum makan."
"Tidak perlu, nanti kita pesan saja lewat online, aku sudah tak tahan, Maudy." Reyhan menarik tangan istrinya dan menuntunnya ke kamar. Mereka melakukannya cukup lama, Maudy benar-benar melakukannya dengan baik hingga Reyhan terpuaskan, begitupun Maudy.
****
__ADS_1
Bersambung 🖤