CEO Love Story

CEO Love Story
Chapter 56 - Obrolan Para Pria


__ADS_3

Dua hari sudah Dita dan Bayu menghabiskan hari-hari mereka bersama di rumah kecil milik mereka. Dita dan Bayu masih betah tertidur di kamar mereka, hingga suara telepon membangunkan salah satu diantara mereka.


"Hallo" ucap Bayu dengan suara paraunya.


"Kalian belum bangun? kalian harus pulang ketika makan siang, hari ini jadwal Papa dan Ibu mu kembali ke Indonesia, dan jangan lupa kita akan berkumpul untuk membicarakan pernikahan Kakak mu, Aldi dan Kiandra." ucap Mamih Lita.


"Ah, iyah Mih, nanti Bayu dan Dita akan kesana." ucap Bayu.


"Ya sudah, Mamih tunggu, awas kalau bohong ya." ancam Lita.


"Iyah Mih." balas Bayu singkat, dan akhirnya pembicaraan itu pun terputus.


Memangnya ini jam berapa ya, sampai Mamih kaget seperti tadi.


"Astaga jam sebelas siang!" pekik Bayu. Dita yang mendengar pekikan suami pun terbangun.


"Hm.. kenapa kau berteriak Honey?" tanya Dita sambil memijat keningnya pusing karena baru tidur subuh.



(Bayu Adi Wicaksono)


"Maafkan aku Honey, apa suara ku mengganggumu?" tanya Bayu.


Dita hanya menggeleng dengan senyuman, lalu mencium Bayu.


"Sarapan yang telat." ucap Dita sambil nyengir kuda.


"Berterima kasih lah pada Mamih, jika saja Mamih tidak meminta kita datang ke rumah mungkin aku akan memakanmu lagi sekarang." ledek Bayu.


"Dasar mesum! apa kau selalu semanis ini didepan wanita-wanita yang mengejarmu di kampus?" selidik Dita.


"Oh come on, Anindita. Kau sudah berapa kali menanyakan ini setiap kali aku bersikap manis padamu. Sejak kapan Nyonya Wicaksono menjadi pencemburu seperti ini?" ledek Bayu lagi.


"Ish, siapa juga yang cemburu, maaf maaf saja." cibir Dita yang berlalu pergi ke kamar mandi untuk bersiap diri pulang ke rumah Papih Adam.

__ADS_1


Bayu yang melihat tingkah grogi Dita saat cemburu sangatlah lucu, mencoba berbohong akan sesuatu yang sudah jelas terlihat kebenarannya.


"I love you Honey!" teriak Bayu saat Dita membuka pintu kamar mandi.


Dita hanya menoleh dan mengerutkan keningnya karena kesal Bayu terus meledeknya, dan membanting pintu kamar mandi tersebut.


Dasar otak mesum! -Dita.


***


Adam, Richard dan Adi yang kini sedang nongkrong bersama di taman belakang kediaman Nugroho, membahas proyek Jepang yang tidak lain mereka bertiga lah investor utama proyek tersebut terutama Adi. Keluarga Wicaksono pemegang saham tertinggi di proyek ini, yang kedua adalah keluarga Aozora. Pembangunan Tokyo Fashion Retail (TFR) di pusat kota Tokyo ini menyedot begitu banyak biaya, dan yang membuatnya menjadi sangat bergengsi nantinya adalah Tokyo Fashion Retail (TFR) ini akan jadi tempat Tokyo Fashion Week setiap tahunnya yang dikhususkan untuk para generasi muda dunia, dan berkesempatan untuk mendapatkan TFR sebagai sponsor kontrak bagi para designer muda terbaik di Tokyo Fashion Week.


Ketika mereka tengah membicarakan tanggal rilis proyek ini, tiba-tiba Aldi pun datang.


"Hai Pih, Hai Om Adi dan Om Richard" sapa Aldi.


"Hai Son, duduklah. Kau datang diwaktu yang tepat." ucap Adam.


"Berhentilah memanggilku Om, kecuali kau ingin membatalkan niat mu menikahi putri kesayangan ku." ucap Richard.


Adam terkekeh melihat Richard yang semakin tua semakin possesive dengan semua anggota keluarganya, apalagi dengan Aurora.


"Okay, let's we go back to our topic before. Al, apakah kau sudah membujuk Bayu mengisi kursi CEO untuk Tokyo Fashion Retail ini? karena tidak mungkin kau akan mengisi kursi tersebut, kau harus fokus pada pernikahanmu dan proyek barumu di New York." ucap Adam.


"Aku bisa memastikan 100% Bayu akan menempati posisi ini nantinya, karena Mike memberitahuku bahwa Dita baru saja diterima di University of Tokyo untuk program S2 Economy disana, yang artinya Bayu tidak mungkin sanggup meninggalkan Dita di Jepang sendirian. jadi aku membuatnya sebagai pilihan dan syarat untuknya jika ingin mendahului pernikahan ku dengan Kiandra. Maafkan aku Ayah Richard, tapi ini sudah keputusan ku dan Kiandra. Aku memohon maaf tidak membicarakannya terlebih dahulu dengan kalian." ucap Aldi.


Aldi sungguh merasa tidak enak hati, namun ia harus terbuka agar tidak ada kesalah pahaman untuk semuanya di kemudian hari.


"Hahaha, kau lihat Dam? bakat bisnismu menurun padanya, aku salut padamu. Kau tahu Son, Adi saja kewalahan untuk membuat putranya mau menempati posisi CEO di perusahaan Hotel dan pariwisata miliknya, namun kau benar-benar tahu titik lemahnya adalah adikmu sendiri, dan menggunakan peluang tersebut dengan sangat baik. Aku fikir itu bukanlah sebuah pilihan namun lebih seperti kepada syarat dan ketentuan yang tidak bisa ia tolak." Richard sungguh menaruh bangga pada Aldi yang mampu membaca peluang dalam berbisnis.


Calon menantuku memang sempurna. I proud of you. - Richard.


"Haish... Kau memang paling senang meledekku, aku pun sungguh aneh padanya, tahu begini aku dari dulu saja mempercepat perjodohan ini." ucap Adi dengan penuh senyuman.


"Sudahlah tak apa, pendidikan lebih penting dari segalanya. Skenario Tuhan lebih indah dari skenario yang kita buat." ucap Adam sambil meminum kopi robusta miliknya.

__ADS_1


"Papih dan Ayah Richard, karena proyek Hotel & convention Centre di New York akan mulai berjalan awal bulan depan. Jadi aku akan melangsungkan pernikahan ku dan Kiandra tiga hari setelah hari wisudanya tiba, dan aku akan membawanya untuk tinggal disana bersamaku, apakah boleh?" ucap Aldi meragu.


Uhuk.. uhuk... - Richard yang sedang menyesap kopi miliknya terbatuk mendengar ucapan Aldi.


Adam terdiam dan matanya seperti ingin keluar dari tempatnya. Richard pun tak kalah kaget dibuatnya.


"Kenapa semua anak Papih senang sekali mempercepat hari pernikahan kalian? Papih benar-benar tidak tahu harus bagaimana menghadapi gejolak kawula muda kalian ini, membuatku sakit kepala saja." sindir Adam.


"Benarkah? bukankah Papih seharusnya senang, karena tidak ada lagi yang menganggu kemesraan Papih dan Mamih kedepannya?" ledek Aldi.


"Ah omong-omong tentang itu.. Ya... Memang benar si yang kau ucapkan itu, tapi tetap saja kau tidak seharusnya memajukan jadwal pernikahanmu sekilat ini. Sekarang Papih tanya, sudah berapa persen kau mempersiapkannya jika benar akan dilakukan tiga hari setelah Kiandra wisuda?" selidik Adam.


"Persiapannya sudah selesai 70% Pih." jawab Aldi.


"Apa Kiandra ku mengetahui hal ini?" tanya Richard dengan tatapan penuh selidik.


"Kiandra hanya tahu aku akan menikahinya tiga hari setelah wisuda, namun aku belum nemberitahunya jika persiapan pernikahan sudah rampung 70%, sisanya aku akan memberikan Kiandra kebebasan untuk menyelesaikannya sesuai impiannya, Ayah. Hal ini lah yang ingin aku utarakan nanti saat kita semua berkumpul. Jadi Ayah, bisakah Ayah merestui hal ini?" tanya Aldi.


"Dariku tidak masalah, hanya saja kau harus berusaha mendapatkan kata Yes dari istriku, kau tahu Aurora hampir ingin pergi dari rumah sejak tahu aku dan kau melakukan perjanjian saat itu tanpa sepengetahuannya. Ahh membayangkannya saja aku tidak sanggup." Ingatan Richard kembali ke saat Aurora merajuk dihadapannya, Richard merinding membayangkan kembali hal itu.


"Baiklah, aku akan memikirkan kembali bagaimana memberitahu Bunda akan hal ini. Terima kasih Ayah atas support Ayah pada ku dan Kiandra." ucap Aldi dengan senyum sumringahnya.


"Cih, kau tidak berterima kasih pada Papih juga? dasar anak nakal!" cibir Adam sambil melotot ke arah Aldi.


Adi dan Richard pun tertawa melihat tingkah anak dan bapak yang begitu tidak mau kalah satu sama lain.


Mereka melanjutkan obrolan mereka tentang proyek Hotel &Convention Centre di New York sambil menunggu sang pengantin baru tiba.


🌼


Bersambung...


Hai hai my good reader, terima kasih support terbaik kalian yang udah boom like apalagi kik ❤ untuk mengikuti update cerita mereka, yang belum klik ❤ ayo di klik sekarang, untuk para silent readers ku yang budiman ayo di like juga setelah membaca, hal itu gratis tapi sangat berarti untuk para penulis loh, dan aku tentunya.


Jangan lupa mampir ke My Addiction ya.

__ADS_1


See you on next chapter gaes, love you and bye bye 🖤


__ADS_2