CEO Love Story

CEO Love Story
Chapter 13 - Miss Understanding [Kesalah pahaman]


__ADS_3

"Apa yang aku lakukan ini sudah benar? Kenapa aku merasa sepertinya aku akan kalah sebelum berjuang ya." Kiandra menyisir rambutnya, mengumpulkan keberaniannya untuk menghampiri Aldi di kantornya.


"Huft. Baiklah apapun hasilnya yang penting aku sudah mencoba untuk memberi tahu Aldi yang sesungguhnya." Kiandra menyemangati dirinya sendiri melalui cermin rias di kamar tersebut.



(Referensi OOTD Kiandra hari ini)


Kiandra keluar dari kamar, tapi tidak mendapati kakak nya dirumah, termasuk kakak iparnya. Mereka sedang ke kantor Reyhan, akhirnya Kiandra hanya menitipkan salam ke pelayan apartement kakak nya


"Bi, saya mau keluar sebentar, jika nanti Kakak bertanya bilang saja hanya sebentar, saya berangkat ya Bi." Kiandra tersenyum manis dan berlalu meninggalkan kediaman Reyhan.


Kiandra menggunakan Mojek untuk ke kantor Aldi, ia sengaja tidak memberitahukan Aldi kedatangannya kali ini, karena Kiandra berpikir Aldi tidak akan mau menemuinya sejak kepulangan mereka dari Singapore.


Sesampainya di kantor Aldi, Kiandra menuju meja resepsionis.


"Permisi, ada yang bisa kami bantu?" tanya sang respsionis.


"Hmm, saya ingin bertemu dengan Pak Aldi Nugroho, saya sudah diminta untuk menunggunya diruangan Sekretaris, Pak Mike." Kiandra terpaksa berbohong karena jika resepsionis tahu ia belum membuat janji, pasti tidak akan diberikan ijin untuk naik keruangan Aldi.


"Baiklah Nona jika memang begitu, Tuan sedang ada diruangannya, Nona silahkan naik dengan lift tersebut menuju lantai 25." Jelas si resepsionis sambil mengarahkan Kiandra dimana lift berada.


"Hm, baiklah saya akan keatas sendiri, saya sudah mengabari tuan Mike bahwa saya sudah sampai, jadi tidak perlu menganggunya dengan meneleponnya kembali." Kiandra tersenyum ramah.


Respsionis tersebut membalas senyum Kiandra, dan Kiandra pun pergi menuju lift.


"Wah sudah cantik, ramah, sopan, baik banget pula, apa itu kekasih Boss yang baru? Selera Boss memang TOP, semoga langgeng deh." ucap resepsionis itu pada temannya.


"Iyah betul, aku setuju denganmu." balas temannya.


Di ruang rapat, Aldi dan Mike masih belum menyadari bahwa sebentar lagi akan kedatangan tamu spesial.


"Kita sudahi rapatnya, Mike siapkan mobil. Aku akan kembali ke apartement, aku sedikit tidak enak badan." Ujar Aldi.


"Baik Boss"



(Visual Aldi dan OOTD hari ini)


Rere yang mendengar itu segera membereskan berkasnya dan ikut Aldi keruangannya.


Rere adalah salah satu Sekretaris di kantor Aldi yang notabennya adalah teman sekolah Aldi dulu semasa SMA.


Rere begitu menyukai Aldi, sejak Aldi putus dengan kekasihnya ia selalu berpakaian minim untuk menggodanya, tapi sayangnya Aldi tak menghiraukan tingkah Rere sama sekali.


Baiklah ini saatnya kesempatan bagiku.


"Boss, ini laporan yang tadi Boss minta" ujar Rere dengan sedikit nada menggoda.


Rere menaruh file laporan tepat didepan Aldi, ia membungkuk kan badan untuk menggoda Aldi, ia sengaja berpose seperti itu agar Aldi bisa mengekspos dada montoknya, apa yang ia rencanakan berhasil, kini Aldi dengan jelas mampu melihat dua gundukan kenikmatan itu, karena baju kerah yang rendah.


Aldi tidak bergeming bahkan enggan melihatnya sedikitpun, dia hanya membuka laporan lainnya dan membacanya. Rere semakin terpancing untuk berusaha lebih keras lagi merayu Aldi.

__ADS_1


Rere berjalan ke arah sofa tamu dan duduk di sana, ia membuka blazernya dan menampakkan tank top minimnya itu. Bahkan Rere menaikkan kakinya dan berbaring di sofa menghadap Aldi, pose nya yang begitu menggoda bagi pria manapun jika melihatnya, tapi sepertinya tidak untuk Aldi.


"Apa kau masih bisa menahannya Al? Aku tahu kau menginginkannya Al, come on Al, miliki aku seutuhnya." rintih Rere sambil menurunkan perlahan tali tank top nya.


Aldi berdiri dan berjalan kearah Rere dengan tatapan dingin. Rere senang karena ia fikir ia berhasil membuat Aldi terpancing dengan menghampirinya, tapi kenyataannya tidak seapik fikiran nya.


"Pergilah atau kau tidak akan pernah menginjak kan kaki mu lagi di perusahaan ini." Aldi yang berdiri menatap muak Rere masih menahan amarahnya.


Rere berdiri dan kesal, ia menatap Aldi dengan pakaian yang masih berantakan, mereka berhadapan tanpa jarak, bahkan kini dua gundukan itu menempel dengan lekat ke dada bidang Aldi.


Rere memegang pipi Aldi, mengusapnya, bahkan turun ke leher dan kini memainkan kancing baju kemeja Aldi.


"Aku mencintaimu Al, tidak bisakah kau membalasnya, aku tidak akan mengkhianatimu seperti wanita itu, aku janji." bujuk Rere dengan rayuan maut nya. Sadar tak ada penolakan Rere pun nekat mencoba untuk mencium pipi Aldi.


Naas, belum sempat mencium Aldi, Kiandra berjalan masuk ke ruangan Aldi begitu saja karena pintu sudah terbuka, dan akhirnya pemandangan tersebut terlihat oleh Kiandra.


Kiandra? Cih, apa sekarang lawan ku seorang bocah? Menjijikkan. Aku akan memperlihatkan mu siapa Nyonya Nugroho kelak.


"Astaga!" Kiandra menutup mulutnya yang menganga, ia sungguh tidak menyangka akan disuguhkan pemandangan yang begitu menyakitkannya. Aldi yang kaget pun reflek mendorong Rere hingga terjatuh.


Kiandra? Kenapa dia bisa disini?


"Ma, maafkan aku Al, aku tidak tahu kalau kau sedang ... hmm ... silahkan dilanjutkan." Kiandra berbalik dan berlari menuju lift.


"Arrghh. sial! Kenapa bisa begini sih." Aldi kesal adegan sialan itu harus dilihat oleh Kiandra.


Seketika Mike tiba, ia kaget karena ada keributan diruang Aldi, Mike kaget melihat muka Aldi, dan juga ada Rere disana.


Astaga perempuan itu masih tidak mengidahkan ancamanku.


Rere ketakutan, ia tak sanggup berdiri, kakinya melemah. Apa yang ia dengar tidak pernah terlintas di fikirannya.


Sial! Harusnya sedikit lagi aku hampir saja berhasil.


Kiandra menangis dan terus memencet tombol lift berulang kali dengan maksud supaya lift tersebut cepat terbuka.


Kiandra tahu usahanya itu nihil, karena itu adalah lift karyawan, sudah jelas pasti banyak yang memakainya, namun ia tetap terus mengulanginya.


Astaga, apa ini pertanda bahwa aku harus menyerah?


"Kemarin bilang cinta padaku, tapi hari ini sudah bersama dengan wanita lain, pantas saja kau dengan mudahnya berbicara menyerah padaku kemarin, bukan karena perjodohan yang aku ceritakan padanya, tapi karena sudah ada wanita lain bersama nya. Cih, aku bodoh sekali." Kiandra mengusapkan air matanya.


Kenapa lama sekali sih.


Aldi akhirnya menemukan Kiandra, dan menarik tangannya untuk menahan Kiandra agar tidak pergi.


"Kiandra, tunggu dengarkan dulu, itu bukan seperti yang kau pikirkan Kiandra, ku mohon." Aldi tidak melepaskan genggamannya.


"I don't care! Bukan urusanku. Lepas Al!" Kiandra menghentakan tangannya supaya terlepas dari genggaman Aldi.


"Ikut aku!" Aldi menarik kuat tangan Kiandra menuju ruangannya.


"Al lepasin! Sakit!" tapi Aldi tetap melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan rintihan Kiandra.

__ADS_1


"Aldi lepasin tanganku, sakit Al, apa kau tuli?" sesampainya di ruangan Aldi, Aldi mengunci ruangannya karena takut Kiandra akan mencoba kabur lagi, dan akhirnya ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kiandra.


Sadar ia tidak sengaja menyakiti Kiandra, Aldi pun meminta maaf atas sikap nya yang mungkin menakuti Kiandra.


"Maafkan aku Kiandra, apa masih sakit?" Kiandra mundur menjauh dari Aldi, saat Aldi ingin menyentuh tangan wanita itu lagi.


"Cukup Al! Jangan mendekat! Buka pintunya Al, aku ingin pulang." Kiandra menunjuk ke arah pintu dan berteriak.


"Kiandra!" suara Aldi menggema ke segala sudut ruangannya.


Kiandra diam dan syok mendengar Aldi membentaknya, Kiandra tidak menyangka Aldi tega membentaknya padahal ayah dan bunda tidak pernah bersuara kencang padanya, apalagi karena alasan dirinya memergoki Aldi sedang bercumbu dengan wanita lain.


"Kau membentakku Al? Kau tega membentakku karena kau marah aku melihatmu sedang bercumbu dengan wanita itu?" Kiandra menunjuk tangannya keluar pintu, Kiandra memang tomboy diluar tapi nyatanya rapuh didalam.


"Aku tidak akan datang lagi menemuimu Al, maaf karena kedatanganku mengganggumu, jadi tolong bukakan pintunya, aku ingin pulang." Kiandra menunduk dan air matanya lolos tak tertahankan.


Aldi geram mendengar Kiandra dengan lantangnya berkata tidak akan pernah menemuinya lagi.


Aldi menghampiri Kiandra dan ******* bibirnya kasar. Aldi meluapkan segala emosi yang tertahan sejak terakhir kali mereka bertemu. Lain hal dengan Kiandra, ia memukul Aldi agar melepaskan ciumannya, tapi sayang, Aldi benar-benar diselimuti oleh amarahnya.


Kenapa kau menciumku Al? kenapa kau begitu egois?


Kiandra memejamkan matanya dan meneteskan air mata lagi, hatinya sakit mengingat semua kejadian hari ini.


Aldi melepas ciumannya, nafasnya terengah-engah, lalu ia berbisik sesuatu di telinga Kiandra.


"Jangan pergi lagi Kiandra, sudah cukup kau menjauhiku dan membuatku merenungkan kesalahanku selama empat tahun ini, aku mencintaimu dan akan selalu begitu, kau hanya milikku, kau hanya boleh bersamaku, tolong kasih aku kesempatan untuk menebus kesalahanku." Aldi menyenderkan keningnya di bahu Kiandra.


Aldi sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, semangat nya hilang bersama dengan kenyataan pahit bahwa sebentar lagi Kiandra akan dijodohkan dengan pria lain.


"Aku akan berikan CCTV kejadian hari ini untukmu, ini hanya salah paham, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, Rere mencoba menggodaku tapi aku tidak tergoda olehnya, Kiandra. Tolong percayalah sekali ini saja." pinta Aldi dengan lirihnya.


"Sebegitu cintanyakah kau dengannya Al?Sampai-sampai menyebut namanya dihadapanku, kau bilang kau cinta padaku tapi belum genap sehari kau sudah bercumbu dengan wanita lain, aku benci kamu Al!" jelas Kiandra sambil memukul dada bidang Aldi, dan menangis tersedu-sedu.


"Aku sengaja datang kesini untuk berkata jujur padamu tentang perasaanku, memberikanmu kesempatan untuk mengetahuinya, walau aku tidak mengharapkan balasan apapun darimu, tapi belum sempat menyampaikannya kau sudah menghancurkannya kembali. Apa kau fikir mudah bagiku membangunkan kembali perasaan yang sudah ku kubur dalam-dalam?" Aldi langsung memeluk erat Kiandra, bibirnya menyentuh ceruk leher Kiandra.


"Kenapa kau selalu menyakitiku Al, hiks, hiks.


Apa salahku selama ini, kalau kau tidak menginginkan kehadiranku setidaknya jangan menyakitiku, aku hanya wanita biasa yang bisa marah disaat melihat orang yang kita cintai bercumbu dengan wanita lain, awalnya aku ingin berjuang bersamamu, tapi sepertinya aku salah."


Kiandra terpancing suasana, ia terbawa perasaan amarahnya dan akhirnya mengutarakan apa yang memang seharusnya ia utarakan, hatinya masih bergemuruh begitu hebat mengingat kejadian Aldi dan sekretarisnya itu.


"Sudah bicaranya, Sayang?" tanya Aldi yang sudah mulai bisa mengontrol emosinya.


"Cih, berhentilah mengucapkan kata-kata itu, aku tidak akan pernah mau menjadi simpananmu!" Kiandra membuang mukanya, kemudian Aldi menangkup pipi wanita yang sedang merajuk itu, mencoba untuk membuat kedua nya saling bertatapan.


"Siapa yang bilang kau akan menjadi simpananku? Kau tidak akan pernah menjadi simpananku, tapi kau akan menjadi istri masa depanku dan ibu dari anak-anakku." Aldi mengusap pipi Kiandra pelan.


"Jadi bisakah kita memulainya lagi dari awal, Sayang? Semua yang terjadi hari ini adalah murni sebuah kesalah pahaman. Jika memang aku terbukti menggodanya setelah kau lihat cctvnya kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan." Aldi mencoba menjelaskannya dengan lembut, tangannya masih enggan beranjak dari pipi Kiandra.


"Aku takut kau menyakitiku lagi Al." Kiandra menunduk sambil memikirkan kembali semua yang selama ini terjadi.


"Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu padamu, tapi satu hal yang mesti kau tahu Kiandra, sampai kapanpun aku tidak akan menikah kecuali denganmu, aku tidak ingin menghabiskan sisa umurku dengan wanita kecuali dirimu, tidak akan memiliki anak kecuali dari rahimmu, jadi bisakah kau memberikanku kesempatan itu, Kiandra?"

__ADS_1


****


Bersambung.. 🖤


__ADS_2