CEO Love Story

CEO Love Story
Chapter 80 - Darah??


__ADS_3

"Sayang bangun. Kita sudah sampai di New York." Kiandra mencoba membangunkan Aldi yang tertidur lelap.


"Hm.." ucap Aldi sambil menegangkan tubuhnya.


"Ah rasanya pegal sekali tubuh ku." rintih Aldi. Aldi memegang tengkuknya yang kesakitan karena posisi tidurnya yang tidak benar.


"Ayo.. Mike sudah menunggu kita dibawah." ujar Kiandra.


Mereka berdua pun akhirnya turun dari jet pribadi milik keluarga Nugroho.


"Aw.. " rintih Aldi.


"Kau kenapa Sayang?" tanya Kiandra yang panik melihat Aldi merintih. Tangan Kiandra mengelus punggung Aldi, tangan yang lain memegang lengan Aldi.


Rintihan Aldi membuat Mike juga menghentikan langkahnya dan menahan rasa paniknya saat ini, karena saat ini Kiandra yang lebih berhak atas Aldi.


Aldi tiba-tiba saja nyengir kuda ke arah Mike. Mike hanya mengerutkan keningnya pertanda bingung.


"Kau lihat Mike? Betapa indahnya hidup ku saat ini. Aku merintih, langsung ada yang mengkhawatirkan ku, tidak seperti dirimu." nyinyir Aldi.


Dasar.. Mentang-mentang sudah menikah dia berani sombong di depan pria jomblo seperti ku, tidak ingat kah dia bagaimana nasib dirinya dulu yang menggila karena kepergian Nyonya Kiandra.


"Tapi setidaknya aku tidak menangisi Wanita ku karena ditinggalkan olehnya." jawab Mike enteng sambil mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum meledek kearah Aldi.


"Kau ingin mati Mike?" tanya Aldi panik sambil melotot ke arah Mike, ia sangat malu karena Kiandra saat ini sedang menahan tertawanya karena ucapan Mike.


Mike hanya mengangkat kedua bahunya dan berlalu pergi meninggalkan pasangan yang baru saja sah menjadi suami istri itu.


Sialan kau Mike, kenapa aku jadi senjata makan tuan? Haish...

__ADS_1


"Jadi kau menangisi ku saat aku memilih pergi ke Djogja?" tanya Kiandra sambil tersenyum puas.


"Ah.. Tidak.. Itu karena.. Ah sudahlah, ayo kita jalan, badan ku sudah sangat lengket." ucap Aldi mengalihkan pembicaraan Kiandra.


"Cih.. Tidak mau mengakui ya sudah.. Jangan tidur di kamar yang sama dengan ku." ancam Kiandra sambil berlalu pergi, ia berjalan cepat agar Aldi tidak mampu mengejarnya.


"Sayang.. Tunggu! Iya aku mengakui aku menangisimu. Tunggu aku Kiandra.." teriak Aldi yang mengejar Kiandra di bandara.


***


Prang... Suara pecahan kaca begitu terdengar jelas hingga keluar ruangan.


"Sean" ucap Sasa yang menyadari bahwa suara itu berasal dari kamar inap Sean.


Sasa mencoba membuka pintu ruangan tersebut, betapa kagetnya Sasa saat melihat banyak darah yang menetes dari tangan Sean bekas tusukan infus yang dipaksa lepas oleh Sean dan serpihan kaca yang menancap di tangannya mengalir begitu saja.


"Ya ampun Sean!" Sasa yang baru saja membuka pintu langsung berlari ke arah Sean yang sedang dalam emosi hebatnya saat ini.


"Cukup Sean. Jangan kau sakiti dirimu sendiri hanya untuk cinta yang sudah di takdir kan untuk orang lain. Sebaik apapun rencana mu, rencana Tuhan itu adalah mutlak." ucap Sasa.


Entah mengapa Sean sangat tidak ingin mendengar ceramah Sasa untuk dirinya. Tanpa pikir panjang Sean pun akhirnya mendorong tubuh Sasa dengan sangat kencang, hingga membuat Sasa tersungkur dan keningnya terbentur ujung meja ruang tunggu yang terbuat dari bahan kaca tebal.


"Argh.. Sshhh.." rintih Sasa dan langsung tak lama ia pingsan.


Tepat saat itu juga tiba-tiba masuklah para medis yang ingin mengadakan 'daily medical check up' pasien, mereka langsung berlari melihat Sasa yang sudah pingsan dan mengalir darah segar di keningnya.


"Ya Tuhan, ada apa ini?" teriak salah satu suster rumah sakit yang panik melihat darah segar mengalir di kening Sasa. Suster lainnya panik berhamburan mencari sesuatu untuk menghentikan darah Sean.


"Sa..." panggil Sean lirih. Sean baru menyadari perbuatannya yang menyelakai Sasa, wanita yang selama ini sabar akan dirinya yang selalu membuat Sasa menangis.

__ADS_1


Ya Tuhan, aku sudah menyelakai wanita yang begitu baik.


"Teman Anda akan kami bawa ke kamar pasien lainnya, silahkan Anda kembali ke tempat tidur untuk medical check up." ucap salah satu suster yang ada di hadapan Sean. Suster lainnya sibuk mengurusi Sasa.


Sean merasa tubuhnya begitu gontai, kepalanya pusing, karena seharusnya ia bedrest total selama masa pemulihan, tapi karena ia tak sengaja melihat berita pernikahan Aldi dan Kiandra, entah mengapa seperti mengisi ulang daya tubuhnya hingga bisa melakukan hal-hal diluar nalarnya, namun saat melihat Sasa yang seperti tadi kesadarannya pun pulih kembali, ia merasa seperti bukan dirinya. Sean tidak bermaksud untuk melukai Sasa, Sean hanya kesal dengan ucapan yang ia dengar dari Sasa.


Suster telah menyuntikkan obat penenang ke Sean, agar mengistirahatkan tubuhnya yang terporsir sudah karena emosi. Setelah selesai dengan Sean, suster itu pun membereskan peralatan medical check up-nya dan keluar dari ruangan. Tepat saat suster membuka pintu, sang mama masuk dan menyapa.


"Apakah ada yang terjadi Sus? Kenapa kain itu banyak darahnya?" tanya sang mama yang speachless melihat selimut ada begitu banyak bercak darah dari kamar anaknya.


Suster itu pun menceritakan kronologi cerita darimana darah ini berasal, suster pun menceritakan bahwa ada pasien perempuan yang masuk ruang inap atas kejadian ini.


Seketika tubuh sang mama melemas, ia yakin pasti itu Sasa. Dirinya tidak tahu harus berucap apa dengan keluarga Alexandria. Mereka pasti akan mengancam perusahaan sang suami, namun bukan itu masalahnya. Sang mama takut Sean akan terus menyakitinya, ia akan membatalkan perjodohan ini demi kebaikan Sasa. Baginya ini sudah diambang batas.


"Saya permisi Nyonya." ucap sang suster.


Sang mama pun memasuki kamar Sean untuk memastikan tidak ada hal yang fatal terjadi pada putra tunggalnya, setelah itu memastikan keadaan calon menantu kesayangannya, Sasa Alexandria.


"Kenapa kau masih begitu tega tidak memberikan kesempatan itu kepada Sasa, Nak?" rintih sang mama yang duduk di dekat Sean sambil mengusap pelan jari jemari anaknya dan menangis.


"Kau dan Kiandra tidak berjodoh, Sean. Kau harus sadari itu." lirih sang mama.


Sang Mama terus memandangi wajah pucat pasi sang anak yang berbaring diatas hospital bed.


Tak butuh waktu lama untuk memastikan keadaan sang anak, akhirnya ia memutuskan untuk mengunjungi Sasa diruang sebelah milik Sean.


Sang mama mulai memasuki ruangan yang Sasa tempati, disana masih berbaring tubuh sang calon menantu yang sudah dicelakai oleh Sean.


"Maafkan Sean, Nak. Maafkan dia karena sudah melukai hati dan tubuh mu, mulai sekarang Tante tidak akan memaksakan perjodohan ini, Tante akan meminta kepada kelurga Alexandria agar mau melepaskan perjodohan ini, bukan karena Tante ingin menmbah luka hatimu, namun justru semua untuk kebaikan mu, Nak. Maafkan Tante dan anak Tante." ucap sendu sang mama seorang diri karena Sasa masih dalam pengaruh obat dan istrahat.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2