
"Mobil sudah siap Boss." ucap Mike. Mike membuka pintu untuk Aldi dan Kiandra.
"Thank you Mike." balas Kiandra. Mike hanya menganggukkan kepalanya.
Aldi lagi-lagi menggenggam tangan Kiandra di dalam mobil. Aldi menyenderkan kepalanya di pundak Kiandra.
"Haish.. Ternyata kau lebih manja dari Kak Reyhan ke Kak Maudy ya. Apa semua pria akan seperti ini jika sudah menikah?" cibir Kiandra.
"Entahlah, aku hanya ingin seperti ini sejenak. Bagaimana jika aku tidak perlu ke kantor Sayang, biar Mike saja yang mengurusi semua kerjaan ku, proyek ku, aku tidak mau berlama-lama jauh dari mu." ucap Aldi dengan penuh manja.
"Boleh.. Mungkin kau harus bertanya terlebih dahulu ke Mike. Bukan begitu Mike?" tanya Kiandra melirik ke Mike.
"Saya ikut Boss saja Nyonya." ucap Mike.
"Tenang saja Sayang, dia tidak akan menolak, karena disana ia akan intens bertemu dengan wanita pujaannya." ledek Aldi.
"Apa yang kau maksud adalah Mika? Eh.. Anyway, aku salut padamu Mike kau berani mencium Mika didepan umum bahkan didepan Om Michelle. Asal kau tahu saja, dulu pernah ada laki-laki mengantarkan Mika pulang ke rumah, tapi pria itu tidak disapa sama sekali oleh Om Michelle, tidak diajak bicara satu patah kata pun, menganggapnya ada dirumahnya saja tidak sama sekali. Apa kau sedang berperang melawan Om Michelle Mike?" tanya Kiandra.
"Tidak Nyonya." jawabnya singkat.
"Ish kau ini, apa vocabulary-mu hanya seputar tidak dan iya? Jawab lah yang benar jika aku bertanya." ucap Kiandra kesal.
"Maaf Nyonya, Om Michelle tidak mengacuhkan kehadiran saya diantara mereka." jawab Mike.
"Hahaha... Belum ada sehari kau sudah takut dengan Istri ku. Kau memang selalu tahu tempat, Mike." jawab Aldi.
"Terima kasih atas pujiannya Boss." balas Mike.
Kiandra hanya mencebikkan bibirnya karena kesal Aldi dan Mike terus saja meledeknya.
Satu jam pun berlalu, kini mereka sudah di bandara untuk lrpas landas ke New York. Sesampainya mereka di dalam pesawat, Mike sibuk dengan persiapan keberangkatan. Aldi mendekati Mike untuk bermaksud meledeknya akan Mika.
"Kemana wanita galak mu itu Mike? Kau tidak mengantonginya?" ledek Aldi.
"Tidak Boss, aku meninggalkannya di hotel bersama kurcacinya." balas Mike yang tak kalah melucu.
__ADS_1
"Wah kau berani mengatai calon tunangan Om Michelle dengan kata kurcaci, sepertinya kau tidak ingin mulutmu bisa bicara lagi kedepannya Mike." cibir Aldi sambil menepuk pundak Mike.
"Aku tidak takut." jawabnya datar.
"Cih dasar sombong." ucap Aldi sambil berlalu ikut menghampiri Kiandra dan duduk di dekat istrinya itu. Sejak mereka sah menjadi suami istri, Aldi terus saja ingin didekat sang istri tercinta, apapun keadaannya.
Mike mencoba duduk di kursi miliknya di belakang Aldi. Sejujurnya Mike sangat tidak ingin menikmati 'kebucinan' Aldi kepada Kiandra, karena semua itu hanya akan mengingatkannya pada Mika.
Begini lebih baik, aku merindukan mu Mika. Sungguh-sungguh merindukan amarah dan teriakan mu padaku. - Mike.
***
"Kau mau kemana Mika?" tanya Daniel.
"Berhenti bertingkah seperti sepasang kekasih yang harus saling tahu satu sama lain, bahkan kita tidak saling mengenal baik Tuan Daniel." jawab Mika datar.
"Wow.. Kau sedang menolak ku Princess?" tanya Daniel meledek.
"Jaga ucapan mu, jika tidak akan ku pukul mulut mu!" Mika marah sejadi-jadinya.
"Hey... Tunggu lah.. Kita akan turun bersama, oke?" ucap Daniel. Mika hanya menepis tangan Daniel dari lengannya, dan memandang jijik ke arah Daniel. Mereka pun saat ini sudah ada di dalam lift tersebut.
"Ehem..." Daniel berdeham.
"Mika, apa kau tidak ingin melakukan hal-hal romantis di lift bersama ku?" ucap Daniel sambil langkahnya mendekat ke arah Mika.
"Jangan gila ya kamu Niel.." ucap Mika sambil terus melangkah mundur hingga.
Daniel tertawa begitu senang karena melihat ekspresi Mika saat itu.
"Kau tahu Mika, Mike sudah berangkat lebih dulu meninggalkan mu di Jakarta, kau tidak lah lebih dari pelangi di hidupnya, memberi warna indah namun hanya sementara, dalam hitungan jam wus..... Pelangi itu menghilang, Hahaha." Daniel terus saja memprovokasi Mika dan menjelek-jelakkan Mike dihadapannya.
"Apapun aku untuknya bukan urusan mu, dasar pria menjijikkan!" cibir Mika.
"Benarkah? Kau tahu Mika, Pria sejati tidak kenal cinta yang memuakkan seperti yang dirimu dan Mike lakoni saat ini. Pria hanya butuh kehangatan ranjang, menikahi wanita hanya untuk menyalurkan hasrat duniawi. Kau ingin mencobanya dengan ku, Princess?" ucap Daniel.
__ADS_1
"Dasar brengsek!" teriak Mika bersamaan dengan teriakan nya ia menendang pusaka satu-satunya milik Daniel. Daniel menahan sakit yang amat sangat di bagian selangkangannya. Daniel terus saja memegangi pusakanya itu.
Sialan kau Mika!
Lift akhirnya terbuka, Mika cepat-cepat kabur dan pergi dari hotel tersebut. Mika memilih untuk menaiki taxi untuk pulang ke apartement miliknya dan bergegas pulang ke New York menyusul Mike, Aldi dan Kiandra.
Apa benar Mike, aku hanya pelangi di hidup mu? Jika aku boleh tamak, aku ingin menjadi separuh jiwa mu Mike, dimana kau tak mampu hidup dengan hanya separuh jiwa mu saja. Sama hal nya dirimu saat ini untuk ku Mike.
Mika terus saja menangisi kepedihan kisah cintanya, hatinya saat ini benar-benar kalut. Orang tuanya yang lebih memilih untuk menikahkan dirinya dengan pria yang jelas-jelas hanya ingin mempermainkannya, daripada mendukungnya untuk mencari kebahagiaannya sendiri. Menunjuknya untuk melanjutkan estafet kepemimpinan perusahaan sang Daddy di New York dan Milan. Dimana semua pilihan hidupnya tidak ada yang membuatnya bahagia, dan tidak sesuai dengan jalan hidup dalam pikirannya.
Rasanya aku ingin lahir dari keluarga yang biasa saja, bisa menentukan sendiri dengan siapa kita akan menikah tanpa harus bersusah payah memikirkan pernikahan bisnis seperti saat ini. Ah... Ayolah Mika kau tidak boleh terus mengeluh dan terlena dalam kesedihan yang tak berujung. Aku sudah memutuskan untuk mengemban kepemimpinan yang Daddy berikan, daripada aku harus menikahi pria sialan yang selalu membawa petaka kedalam hidup ku.
Mika masih terus bergulat dengan pikirannya yang berkecambuk tak terarah.
***
"Kau sudah bangun Sean?" tanya Sasa dengan suara beratnya baru bangun tidur.
Sean masih betah dalam diam nya jika mengobrol dengan Sasa.
"Kau tidak ingin aku disini?" tanya Sasa. Sean hanya membuang tatapannya ke lain arah alih-alih ke Sasa yang sedang mengajaknya berbicara.
"Baiklah, aku akan pergi, untuk apa aku disini menjaga seseorang yang tak menganggap ku disini, kau bisa panggil suster dan dokter untuk mu. Ingat Sean, kali ini aku akan menyerah jika kau meminta ku menyerah." ucap Sasa sambil berdiri dari tempat duduknya. Air matanya sudah tak tertahankan ingin lepas dari tempatnya.
Sasa kecewa karena Sean benar-benar tidak ingin berbicara dengannya. Sasa pergi melangkahkan kakinya keluar dari ruang inap pasien tersebut. Saat ia menutup pintu tersebut, saat itu pula pertahanan dirinya runtuh, tubuhnya lunglai perlahan hingga ia jongkok dan menumpahkan semua tangisannya, air matanya. Isak tangis Sasa mampu terdengar hingga kedalam ruangan Sean, namun Sean tak bergeming sedikitpun.
Maafkan aku Alexandria, ini semua demi kebaikan kita berdua, bahagia lah dengan pria lain yang jelas bukan aku orangnya. Kau terlalu baik untuk ku. - batin Sean.
Bersambung...
Heleh 'Kau terlalu baik untuk ku', basi banget lo Sean..🤣
Hayo ngaku siapa yang putusin pacarnya atau nolak orang lain dengan alasan itu? Alasan klise yang anehnya selalu berhasil digunakan.
Jangan lupa ya gengs like dan love nya.
__ADS_1
Bye.. 🖤