
Kiandra hanya terdiam menuju rumah utama, setengah dari kehidupannya serasa ikut terbang bersama Aldi ke Jepang.
Aku percaya kamu akan kembali untukku, tak perduli bagaimana kita di masa lalu, aku hanya perduli bagaimana kita membangun kisah kita hari ini maupun nanti bersamamu.
Kiandra menyeka air matanya yang tak henti-hentinya lolos dari matanya. Setengah jam berlalu ia masih memecah keramaian jalanan siang itu, dan tak lama mobil pun mjlai memasuki kediaman utama keluarga Darwin.
Pengawal Aldi mulai menurunkan koper Kiandra yang mereka ambil dari apartement Reyhan.
"Nona, tidak bermaksud untuk lancang, tapi sepertinya saya tidak bisa lama-lama, karena saya harus kembali ke kantor Tuan Muda, selama Tuan Muda pergi saya akan menjadi Kaki dan Tangan Tuan Aldi dan Tuan Mike. Saya mohon maaf, Nona."
Pengawal itu menundukkan badannya tanda penghormatannya dan permintaan maafnya pada Kiandra dan keluarga.
"Tidak masalah Pak, terima kasih sudah mengantarkan saya kembali ke rumah dengan selamat, salamkan salam saya jika nanti Tuan Aldi menelepon Anda. Saya masuk dulu Pak." Kiandra membalasa hormat pengawal tersbeut padanya.
Sopan sekali Nona Boss ini, sungguh beruntung Tuan bisa mendapatkannya.
"Baik Nona, akan saya sampaikan jika Tuan menelepon." sang pengawal pun tersenyum ramah. Kiandra berdiri di depan pintu utama, menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Kiandra sedang menghilangkan sedikit rasa emosinya pada sang Ayah.
Bagaimanapun mereka tetaplah orang tuaku, aku tetap harus menghormati mereka. Aku harus bisa mengontrol emosiku pada mereka.
"Kau pasti bisa Kiandra, fighting!"
Kiandra akhirnya memulai langkahnya masuk ke dalam rumah utama, ia mengedarkan pandangannya, mencari sosok ayah dan bundanya.
"Ayah.. Bunda..." Kiandra memanggil orang tuanya, tak lama ada suara ribut dari ruang kerja ayahnya.
Seperti ada suara Kak Reyhan
Kiandra mencoba untuk menghampiri mereka diruang kerja sang Ayah. Kiandra mengetuk pintu ruangan tersebut.
"Siapa?" tanya sang Ayah.
"ini Kiandra, Yah" jawab Kiandra yang mulai membuka pintu ruangan tersebut.
"Hallo Bunda, Ayah, Kak Rey, Kak Maudy.." Kiandra membungkuk hormat kepada anggota keluarganya.
"Kemarilah, Sayang. Ada berita bahagia untukmu." ucap sang bunda.
Maudy dan Reyhan saling berpandangan, mereka menyadari akan mata sembab Kiandra.
"Berita apa Bund?" tanya Kiandra dengan memaksakan senyum indah merekah di wajahnya.
"Kak Maudy sedang hamil, Sayang." ucap sang bunda.
"Benarkah? selamat Kak, aku bahagia mendengarnya, apalagi sebentar lagi aku akan jadi seorang MomsKi."
"Momski?" bunda terheran.
"Iyah, Moms Kia, aku tidak ingin dipanggil tante, Bunda. Terlalu tua untukku." Kiandra tersenyum.
Ketika Kiandra tersenyum entah mengapa seisi ruangan tersebut sedikit tidak enak.
"Kiandra, boleh Bunda tanya sesuatu?" tanya Aurora.
Ayolah Bunda, jangan membuatku menangis di sini, aku takut tidak bisa mengontrol emosiku.
"Ta, tanya apa Bunda?" Kiandra punya firasat tidak enak akan hal ini.
__ADS_1
"Apa kau habis menangis? siapa yang membuatmu menangis, Sayang? kau bisa cerita ke kami, kami semua keluargamu, Sayang. Ceritalah.." bunda Aurora mengelus punggung Kiandra. Elusan bunda mampu meluluh lantahkan pertahanan yang ia buat sebelum masuk rumah utama.
Tiba-tiba Kiandra tertunduk dan menangis tersedu-sedu, ia benar-benar mengeluarkan semua tangisan yang ia tahan sejak kepulangannya dari bandara.
Bunda yang melihat itu merasa tersayat hatinya, seperti kembali ke empat tahun silam dimana Kiandra memilih untuk ke Djogja menyembuhkan rasa sakitnya karena Aldi. Aurora yakin Kiandra menangis karena sudah tahu bahwa ia harus berpisah lagi dengan Aldi karena ulah Richard yang tak lain adalah ayahnya sendiri.
"Menangislah jika itu mebuatmu lebih tenang." usapan demi usapan tangan bunda ampuh membuatnya tidak bisa menghentikan tangisnya. Pada akhirnya Kiandra mulai bisa meredakan tangisannya, ia merasa bersalah karena sudah membuat hari bahagia menjadi sendu.
"Oh, maafkan aku Kak, seharusnya hari ini menjadi hari bahagia untuk keluarga ini. Maafkan aku karena sudah merusak moment kalian." Kiandra mengusap bulir air matanya.
"Tidak apa Kiandra, apapun kesedihanmu akan menjadi kesedihan kami semua." ucap Maudy dengan senyuman indahnya.
"Hmm, pukul dua belas siang ini Kiandra akan kembali ke Djogja untuk mengurusi tahap akhir skripsi dan persiapan yudisiumku beserta Mika. Mumpung semua sedang berkumpul, aku ingin berpamitan, dan meminta waktu untuk bisa datang ke wisudaku bulan depan." ucap Kiandra.
Aku berharap kau akan benar-benar datang, Al.
"Pasti Sayang. Kami semua akan mengutamakanmu dibandingkan yang lain. Keponakanmu pasti akan bangga melihat MomsKi-nya wisuda." ucap Maudy.
"Terima kasih Kak, sekali lagi aku minta maaf sudah merusak moment bahagia ini." sambung Kiandra.
"Kau akan naik pesawat kali ini?" Ayah mencoba berbaur dan menutupi rasa bersalahnya.
"Naik kereta, Ayah. Aku akan bertemu dengan Mika siang ini di stasiun." Kiandra melihat sebentar sang Ayah, lalu menunduk kembali. Dirinya belum sanggup menutupi kekecewaan terhadap Ayahnya.
"Baiklah, kau sepertinya lelah, persiapkan dan istirahatlah sejenak dan jangan lupa kita makan siang bersama sebelum berangkat, Ayah akan bilang ke Pak Min untuk memajukan makan siang pukul sebelas siang ini agar kau tidak ketinggalan kereta." ucap sang Ayah.
"Terima kasih Ayah, sepertinya aku akan kembali ke kamarku terlebih dahulu, selamat bertemu kembali di jam makan siang semuanya." Kiandra berpamitan, ia menutup pintu ruangan tersebut lalu menghembuskan nafasnya, lega rasanya ia mampu meredam rasa amarahnya terhadap ayahnya.
Kiandra memasuki kamarnya, ia menghamburkan tubuhnya di kasur, meringkuk dan tanpa ia sadari ia sudah terlelap menuju alam mimpi.
- - -
Mike terheran dengan sikap Aldi yang lebih pemurung dari pada saat ia putus dengan sang Mantan.
Sabar ya Boss, selalu ada pelangi setelah hujan, aku akan membantumu bisa menghubungi Nona Kiandra. Saya janji.
- - -
"Kenapa Kiandra belum juga turun, Bund? coba kau lihat ke kamarnya, aku takut terjadi apa-apa dengannya." ucap Richard.
"Baiklah." ucap Aurora.
Aurora pun menuju kamar Kiandra, ia melihat Kiandra tertidur di sana. Kiandra tetap juga tidak bangun karena dirinya tidak sadar sang bunda masuk ke kamarnya.
"Sayang, ini sudah pukul sebelas, kau ingin bangun jam berapa? ayo bergegas mandi, supaya Mika tidak menunggumu terlalu lama."
"hmm.. iya Bunda." ucap Kiandra dengan suara paraunya.
"Bunda tunggu dibawah ya, Nak." kata bunda
Kiandra hanya mengangguk dan bergegas mandi, ia bersiap diri untuk berangkat ke Djogja. Tak lama Kiandra pun turun dari kamarnya, ia melihat sudah banyak orang di ruang makan menunggunya.
"Hai semuanya, maaf aku ketiduran tadi" kata Kiandra.
"Tak apa, Dik. Ayo makan nanti sekalian ke stasiun sama Kakak saja, bagaimana?" Maudy mencoba untuk membujuk Kiandra.
"Sepertinya aku diantar supir saja Kak, Kakak harus banyak istirahat." tolak Kiandra secara halus, ia benar-benar sedang tidak ingin di tanya siapapun tentang Aldi. Kiandrs sudah memutuskan untuk tidak lagi menangisi Aldi, karena Aldi sedang berusaha untuk memperjuangkannya.
__ADS_1
"Kakak tidak terima penolakan, Kiandra." Reyhan menatap Kiandra lekat-lekat.
"Baik, Kak." Kiandra hanya menunduk diam.
Tidak ada something special yang mereka bicarakan disana, sesuai permintaan Maudy untuk tidak memancing emosi terdalam Kiandra saat ini, karena yang Kiandra butuhkan hanya ketenangan diri, bukan introgasi massal dari keluarganya.
Acara makan pun selesai. Maudy, Reyhan dan Kiandra berpamitan untuk pergi. Mereka segera pergi menuju stasiun kota.
"Dik, nanti kalau udah lulus mau kerja di tempat Ayah?" tanya Reyhan sang Kakak.
"Entahlah Kak, belum tahu pasti akan seperti apa, sepertinya aku akan lanjut S2 di luar negri." jawabnya asal.
Yah, memang yang ada di otak Kiandra hanya kuliah S2 di luar Negri saat ini.
"Terima kasih Kak, sudah mengantarku ke stasiun." Kiandra turun tanpa mendengarkan Reyhan menjawabnya.
Kiandra melambaikan tangannya ke mobil Reyhan lalu bergegas menuju stasiun, karena setengah jam lagi kereta mereka akan berangkat ke Djogja.
Matanya mencari radar Mika disana, dan ia menemukan Mika sedang duduk menunggunya.
(Visual Mika Wiratmadja)
"Mika!" teriak Kiandra padanya.
Mika menoleh ke arah suara tersebut, dan menemukan sosok Kiandra sedang duduk di pinggir salah satu tangga.
Mika menhampiri Kiandra.
"Ka, fotoin aku sebentar, aku ingin mengirimnya ke email Aldi." Kiandra tersenyum.
Cekrek..
"Thank you, Baby." Kiandra tersenyum.
"Kira-Kira mereka sampe jam berapa ya?" tanya Mika.
"Sekitar tujuh jam setengah sepertinya, itupun jika tidak transit. Ciye kau sudah rindu si Sekretaris payah itu?" ledek Kiandra.
"Hey, dia bukan payah tapi bodoh, ha ha ha." Mika mencoba tertawa untuk menghibur,dan itu berhasil. Mika memang selalu berhasil membujuk Kiandra, semua orang pun tahu itu.
"Ayo kita naik, kayanya sebentar lagi berangkat." ajak Mika.
"Let's go.. "jawab Kiandra.
🍂
🍂
🍂
**Bersambung..
Thank you semua Good Readers and Authors yang menyempatkan diri untuk mengikuti perjalan kisah cinta mereka, aku tidak bosan-bosan untuk minta support kalian semua untuk vote, vote, vote, vote and vote. Give us ur boom like, comment, 5 rate karena itu gratis tapi sangat berarti bagi penulis.
__ADS_1
See you on next chapter everyone, big love from the distance 🖤**.