CEO Love Story

CEO Love Story
Chapter 48 - Possesive?


__ADS_3

Aldi keluar dari kamar mandi dan memakai bajunya yang sudah disiapkan untuknya. Saat Aldi mencoba mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil milik kekasihnya, Kiandra masuk dengan makanan di tangannya, lalu menaruhnya di nakas.


Kiandra berjalan menghampiri Aldi yang sedang duduk di meja rias.


"Biarkan aku membantumu, Al." ucap Kiandra. Aldi memberikan handuk tersebut pada sang kekasih.


"Kiandra, apa selama ini kau selalu bertemu dengannya?" tanya Aldi.


"Siapa yang kau maksud?" ucap Kiandra.


"Sean." jawab Aldi.


Deg...


Kiandra seketika menghentikan usapan di kepala Aldi.


"Kenapa kau bertanya tentangnya? kau ingin tahu kedekatanku dengannya atau kau sedang meragukan ku?" balik tanya Kiandra.


Bahkan aku saja belum tahu sampai saat ini tidak tahu kenapa manusia menyebalkan itu tidak pernah terlihat lagi di sekitaran kampus.


Sean sudah jarang bahkan tidak pernah lagi menginjakkan kakinya ke kampus, begitulah yang ia tahu dari semua kawan Sean yang juga dekat dengannya dan menanyakan keberadaan Sean kepadanya, seperti hilang di telan bumi.


"Jangan mengalihkan pertanyaan ku Kiandra. Aku sungguh-sungguh bertanya dan menuntutmu untuk jujur." ucap Aldi.



"Tidak pernah! apa kau sudah puas?" tanya Kiandra balik.


"Ish kau ini galak sekali." ucap Aldi.


"Kenapa kau baru datang sudah mengajak pergi lagi Al? kenapa tak menetap sejenak sehari disini, bukankah semua sudah selesai?" tanya Kiandra


"Kau akan tahu jika sudah sampai di sana." jawabnya datar.


"Cih, apa kau sedang marah padaku?" tanya Kiandra.


"Aku tidak marah hanya kesal saja, andai aku tidak menyakitimu dulu, mungkin tidak akan ada Sean di hidup mu." ucap Aldi.


"Tidak ada kata mungkin, karena semua sudah terjadi Al, kalaupun aku tidak kesini pasti akan ada 'Sean-Sean' yang lain. Eh, anyway. Kenapa aku dan Mika susah sekali menghubungi adikmu, dia baik-baik saja bukan?" tanya Kiandra.


"Hmm, she's fine." balas Aldi. Tatapannya kosong mengingat keadaan Dita yang terpukul karena Bayu tak kunjung bangun dari tidurnya.



"Bukankah kau lapar sayang?" ganyq Kiandra.


"Ya aku lapar, suapi aku." ucap Aldi.

__ADS_1


"Manja sekali Kanebo kering ku ini." Kiandra.


"Aku merindukan panggilan itu darimu akhir-akhir ini." ucap Aldi sambil mengunyah makanan yang Kiandra masukkan ke mulutnya.


"Apa ini enak? aku takut keasinan." ucap Kiandra.


"Enak, kalau kita sudah menikah aku hanya ingin makan masakanmu setiap hari, Sayang." Aldi mengelus pucuk kepala Kiandra.


Kiandra hanya mengangguk dan tersipu malu.


***


Mika mondar-mandir di sekitar sofa ruang tengah, ia ragu masuk atau tidak ke dalam kamar tersebut karena dia harus bersiap seperti yang Aldi perintahkan.


"Sebentar lagi akan berangkat dan aku belum bebenah, si pria cupu ini kenapa mandi saja lama banget, seperti perempuan saja, sudah dua puluh menit aku menunggu di sini." ucap Mika.


Lama terdiam, Mika akhirnya memutuskan untuk masuk, karena ia yakin Mike pasti sudah selesai berpakaian. Mika pun membuka pintu tersebut dan ia kaget karena Mike masih bertelanjang dada.



"Argggh, maafkan aku, aku sungguh tidak tahu kau masih belum selesai berpakaian." Mika menutup matanya dan berbalik badan.


Tanpa Mika sadari Mike berjalan mendekat ke arahnya.


"Berbaliklah." pinta Mike.


Aromanya sungguh menenangkan. - Mika.


Wanita ini apa sedang menggodaku dengan tatapan matanya itu? rasanya aku ingin menerkamnya.


Mike sedikit berpikir untuk menjahili Mika. Memojokkan tubuh Mika ke tembok, dengan ceoat tangannya menutup pintu kamar itu dan menguncinya.


"Ka, Kau ingin apa Mike, jangan konyol Mike. Minggir!" ucap Mika.


"Minggir atau lebih mendekat? bukankah kau begitu mengingikan untuk menyentuh tubuh ku?" tanya Mike yang sudah menempelkan tangan Mika ke tubuhnya, merasakan seperti ada desiran nikmat menjalar di sekitar tubuh Mike karena sentuhan tangan Mika, namun ia mampu menahannya demi harga dirinya di hadapan Mika.


Mika hanya menatap Mike dengan tatapan yang tidak mampu Mike artikan.


"Bilang saja kau yang sangat ingin tanganku ini menyentuh tubuh mu, Mike. Ku akui gengsi mu memang tinggi, lebih memilih beralibi dari pada mengakuinya. Cupu!" ucap Mika yang tangannya bermain di sekitar dada Mike, membentuk ukiran abstract disana.


"Siapa pria yang bersamamu di pantai? sepertinya kau senang sekali bersamanya dan mengabaikan telepon ku." tanya Mike.


"Ah, itu namanya Dokter Faisal, dokter pribadi Bayu, temanku." ucap Mika.


Mike masih saja menatap wajahnya lekat-lekat.


"Lalu?" tanya Mike lagi.

__ADS_1


"Dia tampan, mapan, baik, hebat, seorang dokter, single. Kau tahu Mike apa yang paling aku suka dari Faisal?" Mika sedang membohongi Mike untuk memprovokasinya. Mika memberanikan diri jari jemarinya menyentuh bibir Mike.


"Bagian ini yang paling aku suka Mike, lembut dan manis." ucap Mika.


Cih, rasakan! kau pikir aku akan kalah darimu? mimpi. Kalau kau masih tidak mau mengakui biar aku yang memprovokasi. Kita lihat aku atau kau yang akan menang.


Seketika darah Mike mendidih mendengar kata-kata terakhir Mika, tangannya mengepal keras di balik saku celananya.


Mike langsung mencium bibir Mika rakus. Melampiaskan rasa amarahnya saat mendengar ucapan Mika yang memuji pria lain di hadapannya. Mike sendiri masih tidak mengerti dengan perasaannya, karena tidak pernah selama hidupnya ia begitu dekat dengan seorang wanita selain Mika, itu pun bukan dirinya yang mendekati.


Mike teringat saat Mika masih kelas dua SMA sekitar enam tahun yang lalu, ia diminta menjemput Mika dirumahnya untuk berkunjung ke rumah Nona Mudanya, Anindita. Saat di mobil hanya ada mereka berdua, ketika turun dari mobil Mika mencium pipi Mike dan bilang ia menyukai Mike, tapi Mike menolaknya, karena Mike fikir itu hanya candaan anak kecil saja, namun ternyata bertahan begitu lama dan semakin lama semakin menyakitkan untuk Mika, karena Mike selalu saja dingin dan acuh tak acuh setiap kali melihat Mika.


Menipisnya oksigen mereka, mampu menyadarkan Mike untuk menyudahi sejenak ciuman mereka.


Mike melanjutkannya ke leher lalu tulang selangka Mika, memberikan kecupan indah di sana. Mika tidak bisa membohongi dirinya yang menikmati kecupan itu dari Mike. Rasanya ingin mengulanginya lagi dan lagi.


Mike berbisik "Ini hukuman bagimu karena sudah membandingkan ku dengan pria lain, dan lagi jangan memuji pria lain di hadapan ku, aku akan memberikan mu hukuman ini lagi dan lagi." ucap Mike.


Mike membenarkan lagi posisi berdirinya, memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Memandang Mika dari atas hingga ke bawah.


"Jangan pernah berpakaian minim seperti itu lagi jika keluar rumah, jika kau tidak mampu membelinya aku yang akan membelikannya untuk mu." ucap Mike.


"Memangnya kau siapa?" tanya Mika dengan lantangnya.


"Mulai saat ini kau adalah wanita ku dan akan selalu menjadi wanita ku, dengan atau tanpa balasan cinta dariku. Jika ada pria yang mendekatimu apalagi menciummu dan menyentuh tubuhmu secuil pun aku akan mematahkan tangannya di hadapan mu." ancam Mike.


"Terlambat Mike, aku sudah tidak lagi mencintaimu sejak kau pergi ke Jepang, dan kau tidak punya hak untuk melarangku dekat dengan siapapun." ucap Mika.


"Aku tidak meminta mu untuk memilih, silahkan saja jika kau mau menantang batasanku, kau akan percaya setelah melihatnya sendiri bukan?" Mike berlalu dan kembali memakai pakaiannya karena sebentar lagi mereka sudah harus kembali ke Jepang.


Mungkin aku terlambat tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Aku akan menjagamu dari pria-pria brengsek yang mendekatimu.



Mike menunggu semua orang di ruang tengah seorang diri, asik bermain ponsel tanpa merasa bosan akan kesendiriannya.


🌼


Bersambung


Thanks semua atas support terbaiknya untuk karyaku.


Jangan lupa vote vote dan vote ya.


Love you


Bye bye

__ADS_1


__ADS_2