
"Ah, sungguh malam yang sangat melelahkanku, pakai apa ya aku tidur malam ini?"
Mana baju tidur favoritku tidak ku bawa, hmmm, yang ini saja deh.
Mengambil satu set sleep wear broken white yang ada di lemari paling pojok.
Kiandra mulai memakai skin care malam harinya sebelum tidur, Kiandra sangat merawat tubuhnya biarpun dia terlihat tomboy, karena Mika ataupun Dita selalu memarahinya jika tidak ikut rutin menemani mereka ke salon, apalagi jika Dita ke Djogja menemui Mika dan dirinya, kegiatan mereka hanya sekitar pantai, skin care, shopping dan salon.
Kiandra kembali ke kasurnya dan wushhhhh, seketika ia sudah tertidur, ia sungguh-sungguh kelelahan hari ini.
****
Pagi mulai menyapa, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Aurora, sang bunda sudah selesai menyiapkan sarapan untuk keluarganya, Richard pun menghampiri sang istri tercinta.
"Pagi Sayang" Richard memeluk Aurora dari belakang.
"Pagi juga, Sayang. Tidur nyenyak kah semalam?" mengelus manja tangan suaminya yang berada di pinggangnya, dagu Richard bertengger mesra di pundak Aurora.
"Owh sangat nyenyak sayang, bahkan aku ingin mengulanginya lagi pagi ini." Richard menggigit manja telinga istrinya, ia tahu itu adalah titik kelemahan Aurora.
"Hmmmp ...." desahnya.
"Jangan seperti ini, bagaimana jika Kiandra melihatnya?"
"Loh, memangnya kenapa? My sweety sebentar lagi akan menjadi seorang wanita dan kau pun tahu itu, jadi sudah pasti dia bisa memahami apa yang kita lakukan, Sayang. Dari pada memikirkan hal itu, bisakah memberikanku sarapan istimewa pagi ini, apa kau tidak merasa juniorku meronta, Aurora?" Mulut Richard sudah mulai menjelajahi leher jenjang sang istri.
"Baiklah, baiklah, jangan disini oke?" Aurora menarik tangan Richard agar mengikutinya.
"Hahaha, apapun yang kamu inginkan, Sayang."
Merekapun kembali melakukannya, tapi kali ini di bawah dinginnya shower bukan di ranjang yang hangat, sialnya Richard tidak ingin menyelesaikannya dengan cepat.
Hah, sepertinya aku akan bekerja dari rumah saja, entah kenapa hari ini aku benar-benar ingin lagi, dan lagi setiap habis pergi bersamanya.
"Aurora, terima kasih selalu berjuang bersamaku sampai saat ini hingga nanti, tetaplah menua bersamaku, aku janji aku akan berusaha agar aku tetap bisa memuaskanmu, menyayangimu, menjagamu, dan keluarga kita, biarpun aku sudah lanjut usia." Richard mencium bibir Auora sekejap.
"Iya sayang, jawabanku selalu sama. Ya, dengan senang hati." merekapun tertawa geli bertingkah bak ABG, dan merekapun segera menyelesaikan kegiatan mandi keringat itu.
***
🎶***Let's talk this over, It's not like we're dead, Was it something I did? Was it something you said?🎶* (Avril lavigne)
Suara dering dari ponsel Kiandra membuyarkan mimpi indah nya, dengan amat sangat enggan iya menjawab panggilan telepon tersebut, saking enggan nya, ia pun tak ingin melihat terlebih dahulu siapa gerangan yang mengganggu tidur nya.
__ADS_1
"Hm, iya. Siapa ya?" suara manja Kiandra semakin menggetarkan rindu sang penelpon.
"Jauhkan telingamu dari layar!" pinta sang penelpon.
"Hm?" Kiandra bingung, ia sepetti mengenali suara itu.
Sesuai instruksi penelpon, kini layar handphone sudah didepan mukanya, karena terlalu mengantuk Kiandra tidak mengira bahwa yang menelepon dirinya adalah Aldi, dan lebih bodohnya lagi ia tidak menyadari bahwa itu adalah sebuah panggilan video call.
Tangannya bersandar ke guling karena tak sanggup menopang, tubuhnya menghadap benda yang ia pegang, tanpa ia sadari tali tank top sebelah kanan tidak ditempat semestinya, terpampang nyata pundak dan leher jenjang Kiandra serta belahan 'benda kenyal' itu, membuat Aldi menelan ludahnya sendiri, membangunkan juniornya yang sedang tertidur disana.
Astaga, bagaimana bisa dia mengangkat telepon dariku dengan pakaian minim dan pose seperti itu? Apa dia sedang menggodaku? lihat saja nanti jika aku sudah kembali, ku hukum kau karena sudah berani membangunkan pusakaku.
"Apa kau sedang menggodaku?" Aldi menatap tajam Kiandra tanpa berkedip.
Hm, kenapa aku mendengar suara si Kanebo Kering itu dikamarku?
Kiandra masih memejamkan matanya.
"Kiandra Anastasya Darwin! Sampai kapan kau ingin menggodaku seperti itu?" panggil Aldi dengan suara lantangnya.
Kiandra langsung membuka matanya lebar-lebar. Suara Aldi yang sungguh menggelegar itu mampu membangunkan nya dalam waktu sekejap saja.
"Arghhhh! Apa kau sudah gila menelponku pagi-pagi begini?" Kiandra reflek melempar hp-nya ke kasur, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang terekspos.
"Pegang hp mu dengan benar!"
"Hahaha. Sudah sadar, Nona?"
Percuma! Aku sudah melihatnya.
"Cih, kau sengaja kan? Membangunkanku pagi-pagi buta agar bisa melihat apa yang seharusnya tidak boleh kau lihat. Dasar Kanebo Mesum!" Aldi mengerutkan alisnya terheran dengan ucapan Kiandra.
"Apa kau selalu bangun siang setiap hari? Ini sudah jam sembilan pagi Kiandra, apa kau tidak malu dengan matahari yang sudah gagah bersinar diluar sana? Cepat mandi dan makan sarapan mu segera. Aku akan pulang besok, tunggu aku dan jangan pergi kemanapun, jika tidak aku akan melakukan sesuatu yang membuatmu tidak akan pernah bisa melupakannya Kiandra." tegas Aldi.
"Hahaha, what the hell are you talking about? Untuk apa kau peduli padaku? Untuk apa kau perhatian? Memang nya apa aku bagimu sampai harus menunggumu? Kita bahkan bukan siapa-siapa untuk saling menunggu, pulanglah jika kau ingin pulang, menetaplah jika kau ingin, aku bukan kekasihmu dan jangan ganggu aku lagi!" teriaknya.
Arghhhhh!
Kiandra mematikan teleponnya dan membanting benda itu ke kasur, mengacak-acak rambutnya kesal karena tingkah Aldi.
"Lihat saja kamu Al, akan ku colok matamu!" teriaknya dengan sangat lantang.
Kiandra segera beranjak mandi dan bersiap-siap pergi, dia terpaksa memajukan jadwal terbangnya ke suatu tempat untuk menghilangkan kekesalannya.
Setelah bersiap ia turun untuk bertemu bundanya, dan kagetnya ternyata sang ayah masih ada dirumah.
__ADS_1
Alamat nih tidak mempan rayuanku ke Bunda.
"Bunda, Ayah. Hm, Kiandra mau berangkat dulu ya, aku ingin liburan 2 hari saja, please!" Kiandra memasang wajah melasnya, tangannya masih memegang sendok dan garpu.
"Boleh" jawab Richard memecah keheningan.
Sejak kapan Richard membiarkan putri tersayangnya jalan-jalan tanpanya ketika dirumah?
"Serius Ayah?" Mata Kiandra berbinar.
"Tapi dengan satu syarat, kau harus menuruti satu permintaan ayah, sepulang dari sana kau harus merealisasikannya, apapun permintaan Ayah padamu, Ayah tidak menerima sanggahan atau penolakan, jika tidak mau silahkan kembali ke kamarmu dan jangan pernah terbesit dipikiranmu untuk bisa pergi jauh jika kau di sini." Richard menatap anaknya lekat-lekat.
Apapun itu yang penting untuk saat ini aku harus pergi, aku malas melihat si Kanebo itu, menyebalkan.
"Baiklah Ayah, kau bisa pegang janjiku."
Kiandra menunduk, ia tidak berani melawan atau menyanggah ucapan dan permintaan sang ayah.
"Ya sudah, kapan kau akan berangkat? Biarkan supir Ayah yang mengantarmu ke bandara" Elus Richard di punggung Kiandra sambil menelpon supir untuk bersiap.
"Lima jam lagi jadwal keberangkatanku Ayah."
"Kau punya waktu satu jam untuk bersiap, Ayah dan Bunda akan ikut mengantarmu ke bandara, kau tidak boleh menolak."
"Baik Ayah"
Kiandra melanjutkan sarapannya yang tertunda dan menyelesaikannya segera lalu berangkat.
Bunda dan ayah kembali ke kamar mereka, melakukan sedikit perdebatan kecil terkait putrinya.
"Bisa kau jelaskan padaku apa maksud dan tujuanmu ini?"
"Kau akan mengetahuinya segera" jelas Richard.
"Apa kau tidak terlalu keras padanya, Sayang?" Aurora memeluk suaminya yang sedang diam tak bergeming.
"Aku tidak akan merubah keputusanku Aurora, berhentilah membujukku, kau tahu betul jika aku sudah mengambil keputusan." balas Richard dengan pelukan tapi tatapannya tidak berubah.
Aurora tahu jika Richard sudah begini tidak ada yang bisa mengahalangi niatnya, sekalipun Aurora memohon.
Apa yang membuatmu seperti ini sayang, aku bahkan masih belum menanyakan banyak penjelasan padamu, tapi sikap dan keputusanmu tidak bisa ku goyah. Semoga bukan hal buruk yang terjadi pada putriku sampai-sampai ayahnya bersikap seperti ini.
****
Bersambung..
__ADS_1
See you on next chapter, Good Readers 🖤