CEO Love Story

CEO Love Story
Chapter 31 - Jurnal


__ADS_3

Dokter Faisal tiba dan mulai mengecek kesehatan Dita.


"Bagaimana bisa wanita lemah ini bisa pingsan, Bay? wanita ini sangat cantik jika kau tak menginginkannya jangan menyakitinya, berikan saja padaku aku dengan senang hati menampungnya." ledek Faisal.


"Sejak kapan kau menyukai calon istri sahabatmu sendiri?" balas Bayu.


"Sejak hari ini aku melihat wanita ini, dia sedikit berbeda dari wanita-wanita yang pernah ku temui. Wait! tadi kamu bilang apa? calon istri? memangnya dia calon istri siapa? kasian sekali wanita ini, ck!" Faisal melirik Bayu.


"Apa kau bosan hidup, Sal?" ancam Bayu, tangannya masih di dalam saku celananya, matanya masih terpaku melihat Dita yang berbaring lemah, memantau setiap inchi tubuh Dita.


Benarkah aku harus menikahi wanita ini? perjodohan konyol ini membuat kepalaku pusing saja.


"Jadi dia sakit apa, Sal? hanya tidak makan tiga hari saja sudah jatuh sakit." mata Bayu masih menatap Dita lekat-lekat.


"Kau gila Bay? bagaimana bisa kamu tidak memberikannya makan sampai tiga hari? dia punya magh akut dan tidak boleh meninggalkan jam makannya walau satu kali, ishh kau ini, sejak kapan kau menjadi monster seperti ini, kau yang membawanya paksa pasti kan?" Faisal terus saja


"Sudah bicaranya? aku luruskan sedikit cara kerja otakmu itu, dia sendiri yang tidak ingin makan, pelayanku memberikannya makanan tepat waktu, jadi bukan salahku jika dia tidak ingin makan, dianya saja yang bodoh, sudah tahu punya penyakit kenapa masih juga tidak menyentuh sedikitpun makanan yang aku berikan."


Tiba-tiba Faisal duduk di pinggir tempat tidur yang Dita tempati, baru saja tangannya ingin menyingkirkan rambut kecil di wajah Dita, Bayu langsung menepisnya.


"Mau ku cabut lisensi kedokteranmu? jangan coba-coba mesum dengan pasienmu sendiri, terlebih dia calon istriku." Bayu sendiri bingung kenapa rasanya kesal sekali jika ada pria lain menyentuh Dita, apalagi Faisal sudah menyatakan tertarik dengan Dita.


"Baru calon kan? belum Istri! siapapun boleh bersaing denganmu, Bay." Faisal tertawa.


"Jangan menguji kesabaran ku, Sal. Kau paling tahu bagaimana aku jika sedang di usik, bukan?" Bayu mengepalkan tangannya.


"Whoa, easy boy easy.., lihat tanganmu sudah mengepal ingin memukulku, sebegitu menyukainya kah? aku belum pernah.. " belum selesai bicara Bayu memotong pembicaraan Faisal.

__ADS_1


"Pulang lah aku malas melihat wajahmu itu." ucap Bayu.


"Kau keterlaluan sekali, habis manis sepah dibuang, baiklah aku akan kembali, jangan menyiksanya lagi, berdamailah, bukankah kalian akan menikah? bagaimanapun bagi perempuan menikah adalah hal yang sakral dan terjadi sekali seumur hidup, kau tahu kenapa? karena sebuah perpisahan setelah menikah akan jadi momok menakutkan di kalangan masyarakat, lain halnya dengan kita para pria, Bay. Berpikirlah kembali. Jika kau tidak mencintainya maka jangan memaksanya itu tidak akan baik untuk masa depannya, aku permisi, Bay." Bayu seperti mendaparkan tamparan keras dari ucapan Faisal.


"Cih, menasehatiku seperti ia pernah menikah saja, menjalin hubungan dengan wanita saja dia tidak pernah." cibir Bayu.


Apapun yang terjadi aku harus menerima perjodohan ini, bagiku Cafe ku adalah separuh hidupku, aku tidak akan membiarkan siapapun merusaknya termasuk si Tua bangka itu.


- - -


"Kia, kenapa ya dari kemarin aku telepon Dita tidak ada jawaban, perasaanku kenapa tidak enak ya." ucap Mika.


"Masa sih? coba aku yang telepon." balas Kiandra.


(Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak dapat dihubungi, cobalah beberapa saat lagi.)


Begitulah suara yang terdengar saat Kiandra mencoba telepon Dita.


"Tidak ada jawaban, Ka. Ya sudah bagaimana kalau kita lanjutin ke kantor Senat dulu, kita beresin satu-satu urusana kita, setelah itu kita coba hubungi lagi Dita, kalau tidak ada jawaban lagi kita coba telepon keluarganya. Kalau kita panik tidak akan ada satupun urusan yang akan selesai Mika, sebentar lagi sudah menjelang waktu wisuda, jika kita telat sendikit bisa-bisa kita akan di mutasi ke gelombang selanjutnya, apa kau mau?" Kiandra mencoba menyemangati Mika kembali.


"Baiklah, ayo kita selesaikan satu-satu, dan wisuda bersama." Mika tersenyum.


"Nah, ini baru Nyonya Besarku tersayang." Kiandra merangkul leher Mika.


Mereka berdua hari ini mengurus urusan skripsi mereka diruang Senat untuk publikasi jurnal yang diadaptasi dari skripsi mereka dalam bahasa inggris yang akan tayang di website resmi kampus mereka.


Mika dan Kiandra mendapatkan kesempatan untuk masuk ke dalam daftar jajaran mahasiswa/i cumlaude dan diberikan akses untuk up jurnal topik skripsi mereka di website resmi kampus, dengan catatan jurnal harus english version. Jurnal terbaik akan diumumkan ketika yudisium atau acara wisuda berlangsung.

__ADS_1


Mika merupakan salah satu mahasiswi aktif dalam kegiatan pertukaran mahasiswa ke berbagai negara mewakili kampus. Beda dengan Kiandra, karena ia aktif dibidang external dan internal organisasi kampus, Kiandra lebih banyak mengikuti kegiatan bakti sosial, kunjungan ke daerah-daerah terpencil bersama kerabat satu organisasi kampus.


Kiandra sempat diajak untuk ikut dalam pemilihan jajaran Badan Eksekutif Mahasiswa atas dukungan para kawan dan senior-seniornya, tapi Kiandra tidak ingin terjun menjadi jajaran ekskekutif tersebut. Lebih menyukai menjadi Kiandra yang saat ini. Tidak sedikit para seniornya tergila-gila dengan Kiandra, wanita yang ramah, tidak mudah terbawa perasaan, apa adanya, cantik dan pintar. Begitulah Sean menggilai wanita ini.


Hampir semua kawan seangkatannya menjadikan Kiandra role model dalam berorganisasi namun tetap berprestasi, bagaimana tidak berprestasi, Indeks prestasi (IP) setiap semesternya tidak pernah menyentuh dibawah 3.50, bahkan saat semester tiga dan lima Kiandra pernah mendapatkan IP 4.00, dan saat itu ia sedang menduduki jajaran tertinggi sebagai Kepala Departement Kegiatan. Otak Kiandralah yang ada dibelakang semua event keren yang pernah ada.


Saat IP Kiandra menyentuh angka 4.00, ia mendapatkan reward dari salah satu bank BUMN di Indonesia yaitu beasiswa sebesar 20.000.000. Kiandra menyumbangkan setengahnya ke komunitas khusus untuk pengidap kanker.


Begitulah perjalanan kisah hidup Mika dan Kiandra yang jauh dari orang tua, tetap bergaul dengan siapapun, ikut kegiatan apapun namun masih tetap mengutamakan pendidikan yang menjadi tujuan utamanya datang ke Djogja sedari awal. Walaupun mereka berdua lahir dari keluarga yang sangat berkecukupan namun tidak membuat mereka merendahkan kawan-kawan yang tidak setara dengan mereka berdua.


Terjadi perdebatan alot antara Mika dan para jajaran Senat, Mika selalu mampu menepis keraguan mereka terhadap topik jurnal Mika. Hingga akhirnya Mika pun keluar dari ruangan tersebut dan bernafas lega.


"Bagaimana? aman?" tanya Kiandra.


"So far so good" Mika masih menampakkan muka pusingnya karena habis berdebat panjang dengan para senat.


"Baiklah, sekarang kita hanya tinggal berdoa semoga jurnal kita masuk tiga jurnal terbaik nanti, ayo kita pulang, karena kita harus mencoba menghubungi Dita." Kiandra mencoba tersenyum di antara letihnya.


"Ah ya, aku hampir lupa, ayo kita pulang! aku sangat merindukan kasur ku."


Mereka pun pulang dengan memesan Mojek. Dita melamun takut membayangkan jika terjadi sesuatu dengan Dita.


Semoga kau baik-baik saja Dita.. - Kiandra.


🍂


Bersambung..

__ADS_1


Thank you semua Good Readers and Authors yang menyempatkan diri untuk mengikuti perjalan kisah cinta mereka, aku tidak bosan-bosan untuk minta support kalian semua untuk vote, vote, vote, vote and vote. Give us ur boom like, comment, 5 rate karena itu gratis tapi sangat berarti bagi penulis.


See you on next chapter everyone, big love from the distance 🖤.


__ADS_2